Komentar ini saya tujukan kepada Ibu Bung Tomo yang masih sugeng, dan
keluarga besarnya.

Saya simpati pada diskusi ini dan sangat simpati kepada keluarga Ibu,
khususnya terhadap apa yang Ibu rasakan. Saya sangat yakin jasa suami
Ibu akan tetap dikenang oleh bangsa ini sampai kapan pun. Namun untuk
sebutan "pahlawan" yang saya tahu Ibu sendiri tak pernah memikirkan,
terpaksa dipergunjingkan orang.

Nampaknya saat ini, saat Indonesia sedang berpenyakit "mau
menang-menangan", tidak ada yang lurus lagi. Semua orang dihujat, yang
sudah jadi pahlawan pun juga dihujat kok. Bahkan para Pendiri Negara
pun dianggap pengkhianat, siapa yang "paling berjasa" di saat lahirnya
Boedi Oetomo juga diributkan.

Mutiara tetap mutiara, namun untuk jaman seperti sekarang ini mutiara
tersebut perlu selalu diasah lewat tulisan/buku dari para kerabat dan
handai tolan yang yakin akan pengorbanan beliau yang telah meninggal
di tanah suci itu (dimakamkan di Indonesia).

salam simpati, robama.

--- In [email protected], Godlip Pasaribu
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya juga sangat heran mengapa begitu?� Bukankah ada suatu badan
yang khusus meneliti apakah seseorang pantas diangkat jadi Pahlawan
Nasional?� Sebenarnya tanpa diangkat pun Bung Tomo adalah Pahlawan
Nasional bagi sebagian besar masyarakat yang tahu mengenai Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia.� Namun sungguh aneh ada orang yang
perjuangannya tidak jelas tetapi bisa menjadi Pahlawan Nasional
sedangkan orang seperti Bung Tomo yang semua orang sudah tahu
perjuangannya dalam mengobarkan semangat kemerdekaan kok malah belum
diakui sebagai Pahlawan Nasional.� Apa salah beliau?� Salam.
>
> "The habitual struggle to be always good is unceasing prayer."

Kirim email ke