Musyawarah dan voting bukan barang haram. Yang haram adalah ketika akal sehat dan pikiran jernih ditanggalkan demi mengejar kepentingan politik sempit. Apalagi ketika ini dilakukan oleh wakil-wakil rakyat yang segala keputusannya punya dampak langsung bagi kehidupan jutaan manusia di suatu negeri. Hitung-hitungannya tidak sesederhana seperti Anda sebutkan. Dalam beberapa partai pendukung RUU, ada beberapa individu yang tidak sepaham dengan partainya, dan secara terbuka menyatakan diri menolak RUU. Jadi, mau dimatematikakan kaya apa? Ingat, satu orang itu mewakili suara puluhan sampai ratusan ribu orang lho. Ini kalo logika suara rakyat banyak yang Anda pakai itu mau diterapkan di sini. Belum lagi para pendukung partai yang kecewa dengan sikap partainya dan menyatakan diri di berbagai forum untuk tidak lahi mendukung partai itu atau akan memboikot partai itu dalam Pemilu berikutnya. Tidak ada yang sederhana ketika kita membawa klaim "suara rakyat" dalam isu kompleks seperti RUU Porno itu.
--- On Sun, 11/2/08, lilianto apriadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: lilianto apriadi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Salut Untuk PDI-P To: [email protected] Received: Sunday, November 2, 2008, 11:37 AM Kalau saya realistis saja: di alam demokratis yang sudah disepakati secara nasional ini, kalau tidak bisa musyawarah, jalan berikutnya adalah voting. Perbedaan pendapat tidak selalu berujung pada nasionalis dan tidak nasionalis. Apalagi sudah disepakati kalau Pancasila sebagai dasar setiap partai. Soal PD, dia bukan hanya nasionalis tapi juga memiliki slogan religius. Sehingga menilainya, menurut saya, tidak pada sisi nasionalis saja tapi juga religiusnya. Yang perlu diingat juga, PD merupakan partai pemerintah. Ketika voting terjadi, ada dua fraksi yang WO, selebihnya setuju. Hitung-hitungannya sederhana:�dari berbagai survey terakhir jumlah pemilih�dari partai yang setuju lebih banyak dibanding yang WO. Jadi keputusan tersebut berada di atas kepentingan rakyat banyak.�Tinggal kini implementasinya, kita kontrol bersama. Kita pantas memberikan salut kepada yang WO, kita juga perlu berterimakasih atas usaha yang setuju. Yang menang jangan sok kuasa, yang kalah pun harus tegar menerima. Hidup NKRI!
