ini merupakan suatu gambaran yang menarik akan sebuah kehidupan pemimpin. namun 
untuk dilakukan di indonesia masih sangat utopis. mental bangsa indonesia baik 
yang jadi penguasa atau yang jadi orang biasa , yang tua dan yang muda, yang 
senior atau junior , yang dosen atau yang mahasiswa adalah mental "pelayan". 
Yang jadi penguasa harus dilayani, sedangkan rakyatnya juga dengan senang hati 
mau jadi "budak". mereka bangga melayani penguasanya walaupun dalam hati mereka 
mendongkol dan inilah yang disebut dengan penjilat. yang tua harus selalu dapat 
tempat yang istimewa dengan alasan untuk menghormati dan sopan santun. Dan lain 
sebagainya.

untuk mengadopsi sosialisme pun menjadi sulit bagi bangsa ini karena stigma 
negatif yang sudah melekat pada sosialis. untuk bisa melakukan apa yang 
dicontoh Lugo dibutuhkan jiwa besar (mengakui segala sesuatu baik terhadap 
orang lain) , pemikiran yang terbuka (menerima, memahami pendapat orang), dan 
mental egaliter. untuk menjalankan sosialisme harus menghancurkan ajaran adat 
istiadat yang bersifat feodal.

salam

rian



________________________________
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, November 7, 2008 1:57:24 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Terperangah atas Asketisme Lugo


Oleh Rikard Bagun
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/11/07/ 01373366/ terperangah. 
atas.asketisme. lugo

Sebagai tamu khusus, saya dan politisi muda Indonesia, Budiman
Sudjatmiko, dapat berkali-kali memasuki rumah kediaman Presiden
Paraguay Fernando Lugo di pinggiran Asuncion, ibu kota negara.

etiap kali masuk, kami berdua dibuat terperangah dan tidak habis pikir
mengenai kondisi rumah berukuran sekitar 45 meter persegi itu. Citra
kesederhanaan tidak hanya terlihat dari luar, tetapi terutama di dalam
rumah warisan keluarga Lugo itu.

Sekalipun Lugo sudah terpilih sebagai presiden pada April lalu,
kondisi rumahnya tidak berubah juga, sekurang-kurangnya sampai dua
hari setelah dilantik tanggal 15 Agustus lalu.

Dengan diantar oleh Martin Bhisu asal Flores, Nusa Tenggara Timur,
saya dan Budiman dapat memasuki rumah itu berkali-kali tanpa halangan
sedikit pun.

Rasa terkejut bertambah karena Martin, mantan sekretaris pribadi Lugo,
terkesan seenaknya mengajak kami berdua melihat- lihat seluruh
ruangan, termasuk dapur dan kamar tidur Lugo.

Namun, belakangan baru diketahui, Martin sebagai mantan sekretaris
pribadi Lugo sudah menyatu dengan budaya masyarakat Paraguay yang
terkenal ramah terhadap tamu dan cenderung memperlakukan tamu sebagai
anggota keluarga.

Tidak segan-segan orang Paraguay, pria atau perempuan, mengajak minum
yerba mate, teh khas Paraguay, yang diminum bersama secara bergilir
dari satu cangkir kayu. Jika sudah kenal, tamu bisa mengajak lihat
dapur dan isi kulkas, bahkan tempat tidur.

Kehangatan macam itu juga terasa di rumah kediaman Lugo. Hanya bagi
saya dan Budiman dengan latar belakang Indonesia, alangkah mengejutkan
kondisi rumah kediaman presiden yang begitu sederhana, jauh dari
kemewahan.

Jika di Indonesia, jangankan presiden, pelantikan seorang pejabat
tinggi pun sudah memancing banyak orang yang berkepentingan untuk
mengulurkan tangan, memberi bantuan, termasuk memperbaiki rumah.

Karangan bunga pun mengalir. Namun, dalam kasus Lugo, hal macam itu
praktis tidak terlihat. Citra asketis sangat kuat pada Lugo, yang
terefleksi jelas pada rumah kediamannya.

Cat kusam tetap menyelimuti dinding luar dan seluruh ruangan rumah.
Sofa sederhana, yang terkesan agak kusam, tetap berada di ruang tamu
yang menyatu dengan ruang makan. Terlihat pula sebuah perangkat TV tua.

Ekspresi kesederhanaan itu semakin terasa kuat pada meja makan. Setiap
tamu, termasuk kami bertiga dari Indonesia (saya, Budiman, dan
Martin), ikut menikmati makanan harian Lugo berupa singkong rebus,
nasi putih, daun kol cacah (salad), dan ikan. Jenis makanan
sehari-hari rakyat biasa di Paraguay. Tidak ada yang istimewa.

Sementara itu, di dinding ruang tamu yang kusam tampak tergantung
bingkai sederhana berisi surat keputusan komisi pemilu atas kemenangan
Lugo dalam pemilihan presiden. Juga terlihat foto pribadi Lugo yang
sedang berpidato, yang dibingkai dengan sederhana pula.

Dalam lorong tangga menuju lantai dua terlihat tembok yang kusam
terkena tirisan hujan. Potret kesederhanaan itu semakin terlihat pada
kamar tidur Lugo yang kecil.

Ketika dilantik menjadi presiden, Lugo terlihat seperti menggunakan
baju putih lengan panjang dan celana panjang krem yang sudah biasa
dipakainya. Sama sekali tidak memakai seragam lengkap sipil.

Ajak ke istana

Selama menjadi tamu khusus, saya dan Budiman sering terkaget-kaget
dengan kiprah Lugo yang terkesan tidak terikat dengan pakem protokoler
seorang presiden.

Dua hari sebelum dilantik, Lugo, misalnya, tiba-tiba meminta Martin
untuk mengantarnya ke Casa Sentral SVD. Dengan mobil setengah pikap,
Lugo bersama kami bertiga dari Indonesia pergi di tengah larut malam
ke Casa Sentral SVD di pinggiran Asuncion.

Dua hari setelah dilantik, Lugo tiba-tiba juga mengajak kami bertiga
menaiki mobil yang dikemudikannya sendiri ke Istana Kepresidenan.
Namun, ajakan itu batal karena kami menggunakan kendaraan lain agar
leluasa bisa meninggalkan Kantor Kepresidenan. Akan tetapi, Lugo
meminta agar kendaraan kami mengambil posisi langsung di belakang
kendaraannya menuju istana.

Sesampai di Istana Kepresidenan, kami bertiga diajak Lugo untuk ikut
melihat seluruh ruang kerja, termasuk ruang sidang kabinet dan kamar
istirahat yang dilengkapi kasur.

Selama hari pertama mengantor itu, kami bertiga dipersilakan duduk
sambil minum kopi dan teh di ruang kerjanya. Secara langsung kami
bertiga dapat menyaksikan Presiden Lugo menerima sejumlah anggota
kabinet sembari menandatangani sejumlah dekret penting.

Pada hari pertama kerja sebagai presiden itu, Lugo mendapat laporan,
anggaran rumah tangga istana hanya tersisa sekitar 20.000 dollar AS
untuk kebutuhan empat bulan ke depan. Sebagian dana sudah dihabiskan
rezim terdahulu yang terkenal korup.

Sesekali Lugo dan anggota kabinetnya menanyakan situasi terkini
Indonesia. Sehari sebelumnya kami bertiga juga diajak mengikuti acara
syukuran di San Piedro, tempat Lugo menjadi uskup sebelum terjun ke
dunia politik tahun 2006.

Ketika makan pagi, kami menyaksikan bagaimana Lugo bersama Presiden
Venezuela Hugo Chavez menyantap makanan rakyat Amerika Latin, seperti
ubi kayu, jagung, dan pisang rebus.

Salah satu karakter para pemimpin neososialis Amerika Latin memang
kedekatan dengan rakyat. Sosialisme benar-benar dipraktikkan dalam
kehidupan sehari-hari.

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke