Rian.

Tanpa sadar, masyarakat juga digiring u/membentuk perilaku seperti itu loh.  
Semisal, kita akan merasa terheran2, jika enggan mengakui terperangah, jika 
mendapati manusia2 dengan profesi atau jabatan tertentu yang tinggi memiliki 
kehidupan ekonomi yang tidak mewah karena keseharian kita telah dibombardir 
o/iklan yang menyuburkan 'gaya hidup hedonis'.  Masih belum lekang dari ingatan 
betapa banyak orang terperangah kala membaca berita setelah kematian Baharuddin 
Lopa mengenai BL yang menteri namun masih harus berusaha WARTEL, yang kebanyakn 
dimiliki o/rakyat biasa kala itu, dan dia pun masih nyanguin orang yg minta 
tolong dirinya sejumlah 'hanya' belasan ribu rupiah!  Aku juga sering mendengar 
celetukan semisal, 'Kok dokter nyumbangnya segini?  Kok dokter ngasih kado 
segini?  Kok dan kok lainnya'. He he he.

Jadi, mari mulai u/membentuk masyarakat yang tidak tergila2 dengan tampilan 
luar yg fantastis namun kosong di dalamnya.  Kan, at the end of the day, hatimu 
akan menggugat bahwa semua pretelan luar yg seakan2 mampu menyulapmu tampil 
hebat itu hanyalah 'pakaian yg dapat ditanggalkan dengan mudah' dan membuatmu 
menjadi telanjang dan kemudian menyadari betapa kosongnya ternyata 'dirimu nan 
hina' itu!


ED




Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS network

-----Original Message-----
From: Fajrian difa vedder <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Thu, 6 Nov 2008 23:27:47
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Terperangah atas Asketisme Lugo


ini merupakan suatu gambaran yang menarik akan sebuah kehidupan pemimpin. namun 
untuk dilakukan di indonesia masih sangat utopis. mental bangsa indonesia baik 
yang jadi penguasa atau yang jadi orang biasa , yang tua dan yang muda, yang 
senior atau junior , yang dosen atau yang mahasiswa adalah mental "pelayan". 
Yang jadi penguasa harus dilayani, sedangkan rakyatnya juga dengan senang hati 
mau jadi "budak". mereka bangga melayani penguasanya walaupun dalam hati mereka 
mendongkol dan inilah yang disebut dengan penjilat. yang tua harus selalu dapat 
tempat yang istimewa�dengan alasan untuk menghormati dan sopan santun.�Dan lain 
sebagainya.

untuk mengadopsi sosialisme pun menjadi sulit bagi bangsa ini karena stigma 
negatif yang sudah melekat pada sosialis. untuk bisa melakukan apa yang 
dicontoh Lugo dibutuhkan jiwa besar (mengakui segala sesuatu baik terhadap 
orang lain) , pemikiran yang terbuka (menerima, memahami pendapat orang), dan 
mental egaliter. untuk menjalankan sosialisme harus menghancurkan ajaran adat 
istiadat yang bersifat feodal.

salam

rian

Kirim email ke