Bung Budiman,

harapan saya, semoga oleh2 yang didapat dari perjalanan Bung ke Paraguay ini 
dapat diterapkan di negara kita yang tercinta ini. Teladan kesederhanaan dari 
seorang Fernando Lugo, komitmennya pada pembebasan kaum tertindas, dan juga 
solidaritas yang ia bangun, semoga dapat menjadi inspirasi buat para pemimpin 
kita, dan terutama buat Bung Budiman disaat nanti sudah jadi pemimpin. Seperti 
yang Anda tekankan, bahwa "kesederhanaan, keberanian, dan solidaritas membuat 
banyak hal baik menjadi mungkin."

riyanto




________________________________
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>


Oleh Budiman Sudjatmiko
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/11/07/ 01383960/ percakapan. 
dengan.lugo. dan.chavez

Menghela Amerika Latin setelah Lima Ratus Tahun Kesunyian. Aku
memiliki saksi yang memadai atas semua kebenaran yang kukatakan,
yaitu... kemiskinanku. - Socrates

Gabriel Garcia Marquez, sastrawan revolusioner Kolombia pemenang Nobel
Sastra, secara realis-magis melukiskan sejarah Amerika Latin yang
kelam melalui kisah keluarga Jose Arcadio Buendia.

engan indah, Amerika Latin yang dilihatnya melalui sejarah keluarga
Buendia diriwayatkan melintasi "Seratus Tahun Kesunyian". Dalam
faktanya, jatuh bangunnya Amerika Latin dalam menanggung exploitacion
ini menjangkau "500 tahun kesunyian" sejak datangnya kolonialis
Spanyol dan Portugis.

Anak-anak panah waktu terasa lambat merambati tubuh Amerika Latin
selama 500 tahun itu. Kini, putra-putrinya sedang tekun bekerja
mencabuti anak-anak panah itu dari tubuh ibu pertiwi mereka. Apa
persisnya yang sedang mereka lakukan?

Jika kita mengaitkannya dengan aspirasi-aspirasi politik modern,
terutama selama lebih kurang 10 tahun terakhir ini, perjuangan untuk
menegakkan keadilan dan kedaulatan bangsa dalam wilayah Amerika Latin
senantiasa dikaitkan dengan aspirasi sosialisme, perluasan peran dan
fungsi kewarganegaraan, pendalaman demokrasi, serta penegakan
kedaulatan nasional ataupun solidaritas regional.

Dalam kesempatan saya memenuhi undangan pelantikan Fernando Lugo
sebagai presiden Paraguay pada tanggal 15 Agustus, saya berkesempatan
berinteraksi dengan para tokoh perjuangan itu. Khususnya saya sempat
secara lebih dekat berkomunikasi dengan Fernando Lugo dan Hugo Chavez
saat keesokannya menghadiri syukuran pelantikan gubernur Provinsi San
Pedro, pusat gerakan petani di Paraguay Utara.

Kedua nama di atas adalah dua dari sembilan presiden wong cilik yang
terpilih di Amerika Latin dalam sepuluh tahun terakhir. Mereka adalah
para penghela sejarah Amerika Latin pada awal abad ke-21, para
penyuara yang bergemuruh memecah beratus tahun kesunyian.

Dengan Lugo, percakapan pertama terjadi dalam "pelarian malam" dari
rumahnya yang bertipe RS (rumah sederhana) di kawasan Lambare,
Asuncion, dan dilanjutkan keesokan paginya di ruang tamu Casa Central
de SVD (Sociedad de Verbo Divino) tempat kami sama-sama bermalam di
pinggiran Asuncion dan pada akhirnya dilanjutkan di San Pedro.

Sementara Chavez baru bisa saya ajak berbicara keesokan harinya di San
Pedro. Sambil menikmati yerba mate (teh khas Amerika Selatan) yang
diminum secara bergiliran dari cangkir kayu yang sama, bercakap dengan
penghela sejarah ini seperti membaca kembali buku-buku Amerika Latin
yang pernah saya baca semasa saya masih aktif mengorganisasi petani di
Jawa Tengah dan Jawa Timur sekitar 18 tahun silam.

Di banyak negeri Amerika Latin, para pemimpin tak berhenti menyerukan
perjuangan kawasan yang lebih berdaulat dan adil di hadapan
orang-orang tak berpunya di perkotaan hingga para petani tak bertanah
yang berusaha bebas dari beratus tahun kesunyian.

Perjuangan sosialisme abad ke-21 sebagai antitesis neoliberalisme ini
juga bisa dilihat sebagai tindakan subversif yang tak terelakkan dalam
transformasi besar-besaran di Amerika Latin Raya. Saya merasa senang
berkesempatan belajar secara langsung dari para pemimpin patriotik
Amerika Latin ini.

Pencuri harus membayar

"Orang harus bayar apa yang telah mereka curi!" demikian seru Fernando
Lugo dengan lantang saat menyampaikan pidato pelantikannya dalam
bahasa Spanyol dan Indian Guarani.

Presiden sosialis ini melanjutkan bahwa dia pun akan membayar jika
gagal memenuhi segala yang telah disampaikannya saat dia berjanji,
"Saya akan mengundurkan diri kalau nanti di Paraguay ada orang yang
tak bisa tidur karena takut atau tidak bisa tidur karena lapar. Ini
bukan janji kosmetik, tapi akan saya tuangkan dalam kesepakatan sosial
(pacta social). Saya juga berjanji bahwa mulai sekarang rakyat
Paraguay adalah pemilik masa depan yang sah atas ekonomi dan semua
kekayaan alam ini."

Rupanya, bagi orang seperti Lugo, ada yang jauh lebih berharga
daripada sekadar menempatkan dirinya sebagai presiden Paraguay, jauh
lebih heroik daripada sekadar mengganti tradisi kepemimpinan negerinya
yang selama ini dikuasai kalangan oligarki terkorup di dunia oleh dirinya.

Jauh lebih strategis daripada memenangi dan mempertahankan jabatan
kepresidenan serta jauh lebih berkeringat daripada sekadar menjual
slogan dan wajah melalui advertorial/ iklan politik di media cetak dan
TV (Lugo tidak punya cukup uang untuk itu).

Saat Lugo menjanjikan akan menuntut para pencuri untuk membayar apa
yang pernah mereka curi, itu bukan karena dia seorang polisi atau mau
membujuk rakyat agar memilihnya menjadi presiden, melainkan
pertama-tama adalah karena dia bukan pencuri.

Ini kemudian terbukti ketika pada hari Minggu, 17 Agustus lalu, dia
untuk pertama kalinya masuk istana, Lugo mengajak saya, wartawan
Kompas Rikard Bagun, dan Martin Bhisu, mantan sekretaris pribadi Lugo
ketika masih menjadi uskup, untuk duduk di samping meja kerjanya.

Selama empat jam kami diminta menyaksikan dia memeriksa dan
menandatangani 100 dekrit, di antaranya mengenai reformasi birokrasi
yang merupakan salah satu yang terkorup di dunia, distribusi tanah
untuk petani tak bertanah, penanganan kaum Indian dan sebagainya, di
hadapan sejumlah menterinya.

Sekarang pengagum Bung Karno ini memiliki kesempatan dengan kekuasaan
yang dimilikinya sebagai presiden untuk menjadikan pemerintahannya
sebagai perisai bagi mereka yang sudah lama tak berpengharapan, tapi
yang tak pernah rela membunuh harapan itu sendiri.

Chavez dan dunia ketiga

Saat di San Pedro, saya dan Rikard diperkenalkan oleh Martin Bhisu
dengan Hugo Chavez di ruang makan tempat pertemuan. Sehari sebelumnya,
di istana kepresidenan di Asuncion, Martin sempat berpelukan erat
dengan Chavez dan mengatakan. "Chavez, tatap mata saya. Saya dari
Indonesia. Saya kawan seperjuangan Lugo dalam iman dan perjuangan.
Besok kita ketemu lagi di San Pedro dengan dua rekan saya dari
Indonesia…." Saat itu Chavez menjawab, "Si…. Si…. Indonesia.
Manana…Si, companero!" (Ya… ya… Indonesia. Besok…ya, Bung).

Begitu besoknya dia bertemu saya setelah acara dengan Lugo, dia
spontan berkata, "Saya tahu Indonesia…. Saya menyukai Indonesia…. Viva
Indonesia!" dan segera saya jawab, "Viva Venezuela!"

Saya bertanya ke Chavez mengapa dia begitu peduli dengan perkembangan
politik di Paraguay dan juga mengapa dia menyukai Indonesia. Tanpa
jeda dia langsung menjawab, "Saya ingin dikenal sebagai sahabat
negeri-negeri dunia ketiga."

Dari Lugo dan Chavez, pelajaran yang serta-merta saya peroleh adalah
bahwa kesederhanaan, keberanian, dan solidaritas membuat banyak hal
baik menjadi mungkin. Ketiga pelajaran itu memerdekakan kita dari
keraguan dan ketakutan akan kesendirian yang melumpuhkan diri.

Budiman Sudjatmiko Penggiat Politik

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS :

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke