Oleh Hermawan Kartajaya 
http://kompas.com/read/xml/2008/11/06/07064514/its.not.marketing-mix.anymore.its.crowd-combo



Saya yakin semua pemasar sudah tahu yang namanya marketing-mix.

Marketing-mix ini memang "makanan" sehari-hari para pemasar. Bahkan
bagi banyak praktisi pemasaran, marketing-mix inilah yang dianggap
sebagai konsep marketing secara keseluruhan. Marketing-mix sering
dipahami sebagai prinsip marketing yang lengkap.

Namun bagi saya, marketing-mix hanyalah sebuah elemen dari Taktik
Pemasaran selain Diferensiasi dan Selling. Marketing-mix ini ibaratnya
merupakan "puncak dari sebuah gunung es", bagian yang paling terlihat
dari aktivitas sebuah perusahaan di pasar.

Istilah marketing-mix sendiri pertama kalinya dikemukakan oleh Neil
Borden, profesor dari Harvard Business School, dalam pidatonya di
American Marketing Association (AMA) pada tahun 1953. Setelah itu,
pada akhir 1950-an, Prof. Jerome McCarthy dari Michigan University
mengklasifikasikan marketing-mix ini menjadi product, price, place,
dan promotion. Karena itulah, marketing-mix ini sering disebut juga
sebagai 4P.

Bagi saya, marketing-mix ini adalah creation tactic dari sebuah
perusahaan karena marketing-mix haruslah merupakan hasil kreasi dari
diferensiasi konten, konteks, dan infrastruktur.

Selain itu, sebenarnya 4P tersebut bisa dikelompokkan menjadi dua
macam lagi, yaitu penawaran (offer) yang mencakup produk dan harga
(price), serta akses yang mencakup saluran distribusi (place) dan
komunikasi (promotion).

Maka, marketing-mix juga berarti mengintegrasikan penawaran dan akses
dari sebuah perusahaan. Penawaran harus bisa diintegrasikan dengan
baik dengan akses untuk menciptakan sebuah kekuatan pemasaran di pasar.

Ditinjau dari hasil yang bisa didapat, marketing-mix ini terdiri dari
tiga macam.

Yang pertama adalah "destructive marketing-mix", yaitu marketing-mix
yang tidak menambah customer value dan tidak membangun merek
perusahaan. Contohnya adalah perusahaan-perusahaan yang melakukan
perang harga atau perang promosi secara berkepanjangan.
Yang kedua adalah "me-too marketing-mix", yaitu marketing-mix yang
seringkali meniru marketing-mix yang sudah ada dari pemain lain dari
industri yang sama. Kalau idenya berasal dari industri yang berbeda,
ini tidak bisa disebut me-too, namun kreatif. Contoh "me-too
marketing-mix" ini misalnya adalah produk-produk buatan China.

Sedangkan yang ketiga adalah "creative marketing-mix", yaitu
marketing-mix yang mendukung Strategi Pemasaran (Segmentasi,
Targeting, Positioning), mendukung komponen Taktik Pemasaran lainnya
(Diferensiasi, Selling), dan membangun Value Pemasaran (Brand, Servis,
Proses). Jenis ketiga inilah yang merupakan marketing-mix yang ideal.
Perusahaan-perusahaan yang sukses biasanya menerapkan "creative
marketing-mix" ini. 

Itulah sedikit uraian tentang marketing-mix secara umum dalam era
Legacy Marketing.
Namun, dalam era New Wave Marketing saat ini, marketing-mix tadi
berubah menjadi apa yang saya sebut sebagai Crowd-Combo.
 
Mengapa demikian? 

Bagi saya, apa yang disebut sebagai "pasar" atau "market" saat ini
sudah berubah menjadi "crowd".

Dalam lanskap New Wave, seperti pernah saya katakan dalam
tulisan-tulisan sebelumnya, peranan individu akan semakin besar.
Setiap orang memiliki ego pribadi yang besar. Setiap orang ingin hidup
sendiri-sendiri. Karena itulah, istilah "market" yang cakupannya lebih
luas, bukan hanya menyangkut orang, akan bergeser ke "crowd" yang
lebih fokus kepada orang.

Crowd berbeda dengan komunitas. Komunitas itu orang-orangnya saling
peduli serta memiliki interest dan values yang sama. Sementara Crowd
baru merupakan kumpulan individu yang lepas.

Biar lebih paham, saya beri contoh berikut. Ibu-ibu yang sedang arisan
di sebuah restoran di Mal Kelapa Gading adalah komunitas, sedangkan
orang-orang yang sedang jalan-jalan di mal tersebut namanya crowd.

Bisa Anda lihat bahwa relasi antara crowd dengan komunitas ini mirip
dengan relasi antara market dengan market segment.

Lalu, kata "combo" sendiri merupakan singkatan informal dari kata
kombinasi (combination). Mengapa demikian? Karena memang Crowd-Combo
ini juga terdiri dari sejumlah elemen, yaitu Co-Creation, Currency,
Communal Activation, dan Conversation.

Selain itu, kata "combo" juga bisa bermakna sebuah band kecil yang
menyajikan musik jazz. Tentu Anda tahu bukan bahwa musik jazz itu
penuh improvisasi? Nah, ini memberikan inspirasi bahwa dalam era New
Wave Marketing yang diperlukan adalah kreativitas, bukan hal-hal yang
sifatnya rutin-prosedural.

Jadi, Crowd-Combo bermakna bahwa New Wave Marketers harus mampu
mengombinasikan sejumlah aktivitas marketing secara kreatif dengan
fokus kepada individu-individu yang nantinya diharapkan bisa memiliki
interest dan values yang sama dengan perusahaan.

Kirim email ke