Setuju bahwa yg di Moskow benar2 cantik dekorasinya!  Cita rasa klasik nan 
anggun bisa dinikmati secara gratis o/banyak orang yang lalu lalang!  

Tadinya kupikir terowongan u/naik bis di Blok M itu akan dibuat senyaman 
mungkin....  Ternyata, panasnya ampun2an dan sekarang makin semrawut.  Sedih 
deh.


ED




Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS network

-----Original Message-----
From: "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sat, 08 Nov 2008 07:27:52 
To: <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Love and Frappuccino in Shanghai


http://kompas.com/read/xml/2008/11/07/07533762/love.and.frappuccino.in.shanghai


ANDA tahu film "A Sunny Day"? Kisah film cinta ini sangat klasik. Ada
seorang pria musisi jalanan yang sering ngamen di stasiun kereta bawah
tanah. Suatu ketika, pria ini bertemu dengan seorang wanita yang baru
saja ditinggal mati pacarnya. Pria ini akhirnya jatuh cinta kepada si
wanita. Namun, di tengah kisah cinta mereka berdua, tahu-tahu mantan
pacar si pria datang kembali.
Nah, alur kisah cinta seperti ini tentu sudah sangat familiar bagi
Anda, bukan? Lantas, apa yang berbeda dari film ini? Film ini bukan
ditayangkan di bioskop atau televisi, tapi ditayangkan di stasiun dan
di dalam kereta bawah tanah di Shanghai! 

Film yang ditayangkan perdana pada November 2007 ini merupakan buah
kerjasama antara Starbucks dan Pepsi. Kedua perusahaan itu membiayai
dan membantu produksi film tersebut sebagai bagian dari kampanye untuk
memperkenalkan produk terbarunya, yaitu minuman botol frappuccino di
pasar China. 

Memang, sejak awal November 2007 itu, Starbucks mulai menjual produk
tersebut di pasar China. Tujuannya untuk meningkatkan sales dan juga
diversifikasi distribusi. Jadi, produk kopi yang selama ini hanya bisa
dinikmati di kedai-kedai Starbucks akan bisa dinikmati juga di luar
kedai-kedai itu. Pepsi sendiri berperan sebagai penyedia botol dan
distributor untuk minuman botol frappuccino dari Starbucks itu.

Selain di kedai-kedai Starbucks, minuman botol frappuccino ini juga
dijual di sejumlah convenience store dan toko ritel di Shanghai,
Beijing, dan Hongkong. Ukurannya 281 ml dengan dua rasa, Mocha dan
Coffee, dengan kisaran harga antara 15 yuan sampai 20 yuan.

Sekarang, kembali ke film tadi. "A Sunny Day" memang ditayangkan
secara eksklusif pada ribuan televisi layar datar yang ada di stasiun
dan di dalam kereta bawah tanah di Shanghai. Ada sekitar 2,2 juta
penumpang kereta bawah tanah setiap harinya yang bisa menyaksikan film
tersebut.

Film yang bergaya opera sabun ini dibagi menjadi beberapa segmen.
Setiap segmennya berdurasi beberapa menit dan ditayangkan selama
sekitar 40 hari kerja.

Sementara itu, agar penonton bisa tetap menikmati film tersebut dengan
nyaman, disertakan juga subtitle dalam bahasa China. Ini bisa membantu
penonton untuk mengikuti dialog di tengah-tengah kebisingan suara
kereta bawah tanah. Selain itu, film ini juga ditayangkan berulang
kali setiap harinya sehingga memperbesar peluang orang untuk mengikuti
setiap segmen kisahnya.

Dari sisi teknis pembuatan sendiri, para aktor menjaga dialog dan
pergerakan seminimal mungkin untuk menyesuaikan dengan layar di kereta
yang ukurannya relatif kecil dan terus bergoyang seiring dengan laju
kereta.

Ya, program marketing ini memang cukup kreatif. Howard Schultz,
Chairman Starbucks, sendiri bilang, "It's quite unique and
demonstrates a departure from conventional marketing."

Jalur kereta bawah tanah di seluruh dunia memang telah lama
dieksplorasi untuk menampilkan karya-karya visual yang menawan.
Stasiun Metro di Paris misalnya, seabad lalu sudah digunakan untuk
karya seni. Pada dasawarsa 1980-an, Keith Haring, seniman grafiti
ternama dari New York, berkreasi pada jalur kereta bawah tanah di kota
tersebut dengan proyek-proyeknya seperti "Studio in the Subway."

Begitu juga di kota-kota lain. Di Singapura, di beberapa lokasi di
dalam terowongan kereta bawah tanah, kita bisa menyaksikan tayangan
yang sebenarnya gambar diam namun bisa nampak seperti film karena laju
kereta yang sangat cepat. Di Moskow, beberapa stasiun kereta bawah
tanah bahkan memiliki dekorasi layaknya lobi sebuah opera house atau
ballet house! 

Bagi saya, langkah yang dilakukan oleh Starbucks tadi merupakan sebuah
upaya Communitizing the Crowd. Bagaimana tidak. Penumpang kereta
merupakan kumpulan individu yang lepas, tidak kenal satu sama lain.
Mereka juga tidak punya interest dan values yang sama. Namun, dengan
penayangan film tadi, orang-orang ini bisa memiliki suatu keterikatan
interest, yaitu untuk mengikuti kelanjutan cerita film "A Sunny Day" itu.

Komunitas yang ingin dibentuk juga cukup potensial. Para penumpang
kereta bawah tanah itu merupakan kalangan kelas menengah perkotaan.
Kisahnya juga bisa menyentuh aspirasi generasi muda yang
Confirmed-Community dari Starbucks.

Sementara, bagi Starbucks sendiri, ini merupakan langkah yang kreatif.
Karena medianya unik, maka pesan yang disampaikan bisa efektif dan
juga bisa menimbulkan Conversation.

Inilah era New Wave Marketing. Marketing-Mix alias 4P yang semula kita
kenal dalam Legacy Marketing akan berubah menjadi Crowd-Combo.
Bagaimana kita mengombinasikan dengan kreatif elemen-elemen
Crowd-Combo-lah yang nantinya akan menentukan masa depan kita di
lanskap New Wave ini.




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke