Tanpa mengurangi rasa hormat pada tetralogi 'Laskar Pelangi' yang
menginspirasi banyak orang dan filemnya yang dibuat dengan bagus, tulisan di
bawah ini menarik untuk ditelaah guna memperoleh perspektif yang lain.

Semoga kawan-kawan bisa melihatnya dengan proporsional sehingga bisa
menghasilkan diskusi yang produktif.

Salam,
-- 
Tomi Satryatomo
http://www.trekearth.com/members/wisat
http://www.wisat.multiply.com

"We shall build good ship here,
at a profit if we can,
at a loss if we must,
but... always a good ship."

---------- Forwarded message ----------
From: Andreas Harsono <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/11/20
Subject: [pantau-komunitas] Andrea Hirata Mundur Dua Abad
To: [EMAIL PROTECTED]


http://www.panyingkul.com/view.php?id=961

Kamis, 11-09-2008

Andrea Hirata Mundur Dua Abad

:: Nurhady Sirimorok ::

Citizen reporter Nurhady Sirimorok yang sedang menyiapkan buku Analisis
Modernitas dengan merujuk pada karya-karya Andrea Hirata (Tetralogi Laskar
Pelangi), menurunkan nukilan buku tersebut khusus untuk pembaca Panyingkul!
Tulisan ini adalah bagian kedua sekaligus terakhir. Bagian pertama nukilan
ini dapat dibaca di
sini<http://www.panyingkul.com/view.php?id=958&jenis=kabarkita>
.(p!)



Saya sering membayangkan bagaimana seandainya mendiang Edward Said sempat
membaca tiga novel Andrea Hirata. Di sofa perpustakaan pribadinya mungkin
dia akan senyum kecil membolak-balik buku-buku itu. Takjub. Betapa pengaruh
para Orientalisme menancap sangat dalam di batok kepala sang novelis.
Eksploitasinya terhadap dunia Timur yang diciptakan oleh Orientalis Barat
begitu maksimal, mencapai tingkat yang benar-benar mencengangkan. Taburan
ikon-ikon dan idiom Barat seperti enceng gondok yang memenuhi permukaan
sungai di muara.

Sulur narasi Andrea yang berujung di Paris bisa jadi mengingatkan Said pada
sepak terjang serdadu dan ilmuan yang diboyong Napoleon di tahun 1798 ketika
mereka hendak menaklukkan Mesir. Setelah berhasil mereka membawa pulang
banyak benda bersejarah dari negeri tua itu. Invasi sistematis pimpinan sang
jenderal menghasilkan karya kolektif, dua puluh tiga jilid, Description de
l'egypte, yang membantu orang Eropa menegaskan superioritasnya terhadap
dunia yang mereka bayangkan sebagai Timur. Dia merinding mengingat bahwa
buku ini pernah berhasil menggoda para Orientalis menjadikan Mesir sebagai
"laboratorium dan teater dari pengetahuan Barat yang efektif mengenai dunia
Timur."

Sepulang dari ekspedisi itu, atau lebih tepatnya penjarahan besar-besaran,
kenang Said, Napoleon mendirikan sebuah monumen di Paris. Monumen yang kini
didatangi jutaan pelancong tiap tahun, mungkin seperti Ikal dan Arai, karena
berada tepat di pertengahan jalan paling tersohor di sana, Champ Elysse.
Nama monumen itu pun akan membuat sakit hati orang Mesir, Arc de Triomphe,
gerbang kemenangan.

Napoleon bagi Mesir seperti van Heutsz bagi Aceh. Bedanya, kalau van Heutsz
hanya bergantung pada Snouck Hurgronje untuk mengetahui isi dalam Aceh, maka
Napoleon membawa serta "lusinan cendikiawan" untuk mempelajari Mesir. Dan
jika van Heutsz memanfaatkan informasi Snouck hanya sebelum menyerang Aceh,
maka Napoleon mengkonsumsi banyak sekali teks tentang Mesir sebelum
menyerang, dan memerintahkan lusinan ilmuan membuat lebih banyak lagi
catatan. Kelak, dari Mesir, dengan bantuan catatan para ilmuannya, Napoleon
ingin memperlebar invasinya.

Pemujaan bak berhala Andrea terhadap kehidupan akademik di Paris mungkin
membuat Said terkenang pada Bartholomey d'Herbelot yang menulis
berjilid-jilid kumpulan risalah di kota itu, yang menghimpun seluruh studi
tentang dunia Timur, Oriental. Buku itu diberi
judul Bibliotheque Orientale, yang secara sederhana bisa diartikan,
`Perpustakaan studi Ketimuran'. Buku yang menjadi rujukan hingga akhir abad
19, yang berisi banyak salah paham orang Barat tentang Islam pada masa itu.

Deskripsi Andrea yang begitu bersemangat tentang kota mode itu boleh jadi
membuat Said ingat pada kalimatnya sendiri yang dia tulis di buku, yang
dalam terjemahan Indonesianya bernama Orientalisme. "…dan selama lebih dari
paruh pertama abad ke sembilan belas Paris adalah ibukota dunia Orientalis
(bahkan menurut Walter Benjamin, sepanjang abad ke sembilan belas)."

Setelah menyelesaikan ke tiga buku itu—kalau dia tahan—mungkin Said akan
menghela nafas panjang sambil geleng-geleng. Saat seperti itu, saya
bayangkan dia ingin menulis ulang dalil-dalilnya dari Orientalisme. Bahwa
Orientalisme adalah cara untuk memahami dunia Timur dari kacamata Barat.
Bahwa Orientalisme adalah gaya berpikir yang menyihir orang untuk menerima
mentah-mentah pemikiran bahwa terdapat perbedaan mendasar antara Barat dan
Timur. Bahwa Timur itu ciptaan Barat karena orang Barat menulis tentang
Timur dengan bebas tanpa adanya perlawanan. Bahwa setelah menarik garis, dan
menonjol-nonjolkan perbedaan, orang Barat kemudian datang mempelajari,
menaklukkan, dan mencitrakan Timur menurut kehendak mereka. Seperti kodok
percobaan yang ditangkap kemudian dibelah untuk kepentingan penelitian
skripsi. Bahwa dengan begitu, Barat merawat superioritasnya terhadap Timur.

Setelah itu mungkin Said tidak bisa tidur tenang. Pikirnya, "bagaimana kalau
buku Andrea dibaca banyak orang Indonesia?"

Karnaval itu akhirnya tiba juga. Mahar menjadi pahlawan yang dipuja-puja
Ikal dalam persiapan karnaval ini. Dialah sang koreografer, penata busana,
sekaligus komposer dan pemain musik. Mahar bisa segalanya. Dalam novel
Andrea para tokoh memang begitu. Perguruan Muhammadiyah yang doyong dan
kemasukan kambing di tempat terpencil itu berisi orang-orang hebat yang
tidak kita temukan di tempat manapun. Guru yang sempurna, muridnya pun
rata-rata luar biasa. Tak heran bila mereka melakukan hal luar biasa dalam
pesta karnaval, menampilkan sebuah tarian perang suku Masai dari Afrika.

Untuk pakaian mereka memanfaatkan bahan-bahan yang sangat banyak dan salah
satu anggota Laskar Pelangi harus bekerja empat hari untuk menyelesaikannya.
Koreografinya hanya datang dari pemikiran jenius Mahar tanpa kita tahu
pernah dia lihat di mana. Soalnya di kampung Ikal tidak ada bioskop. Mungkin
Mahar sempat mengintip foto tarian itu buku-buku di perpustakaan kepala
sekolah berisi banyak sekali buku sains canggih. Tapi bagaimana Mahar tahu
gerakannya kalau itu cuma foto? Ah, agak sulit membayangkan Mahar
menemukannya di mana-mana di sekitar rumahnya. Yang paling memungkinkan
adalah Andrea Hirata menemukan tarian itu di wikipedia dan menelusuri gambar
dan dokumenternya.

Internet memang ajaib. Seluruh informasi yang kita butuhkan ada di sana.
Pencitraan tentang orang Afrika yang populer tentu sangat banyak di sana.
Memilih informasi untuk saya tuliskan di sini membutuhkan berjam-jam. Ada
yang membeberkan dengan datar ada
pula mengulasnya dengan analisis kritis. Fenomena keterjajahan Afrika memang
luar biasa well-documented, sebab nyaris seluruh bangsa Eropa besar—tentu
Perancis termasuk di dalamnya—memotong-motong kue tart Afrika untuk mereka
bagi-bagi. Mereka tidak hanya membelah-belah tetapi juga mendokumentasikan,
mempelajari, menamai, agar lebih mudah dan efektif untuk diperintah dan
dijarah.

Keterangan standar dari wikipedia akan terlihat membosankan bila tak
dilengkapi ulasan-
ulasan dari beberapa website yang menayangkan analisis postcolonial terhadap
penyajian
Afrika kepada dunia oleh orang Eropa sejak abad ke-19. Menurut salah satu
tulisan Jan
Nederveen Pieterse, Colonialism and Representation—hasil membuka-buka
halaman dari
mesin pencari google, sejak abad ke 19, orang Afrika menjadi bahan pajangan
yang laku
di Eropa. Gambaran tentang perang adalah salah satu yang paling digemari
orang Eropa.
Ketika sepasukan Eropa datang ke sebuah pelosok Afrika untuk berperang,
mereka
membawa serta seniman yang diutus media untuk `meliput perang'. Mereka
membuat
lukisan akurat tentang pakaian angkatan perang Eropa dan lawannya. Namun
bagi media
yang kurang punya fulus seperti Illustrated London News, mereka hanya
menggambar dari
`tangan ke dua', hasilnya adalah pencitraan karikatural tentang angkatan
perang Afrika
yang sangat digemari orang Inggris.

Penggambaran pasukan perang Afrika, yang tersebar menjadi pencitraan populer
di Eropa
adalah, sepasukan orang telanjang dada, menggunakan senjata manual sederhana
seperti
tombak, berperang tanpa aturan, dan kalah. Mereka dilukiskan sebagai
orang-orang liar
dan karena itu gampang ditaklukkan. Padahal yang sebenarnya adalah mereka
sudah
menggunakan senjata api sejak setidaknya dua abad sebelumnya, dan tidak
telanjang
dada. Gambaran tarian perang gubahan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi
sangat dekat
dengan pencitraan populer ala kaum kolonial.

Paris, Mei 1889, sedang menyambut tamu-tamu malang yang didatangkan dari
negeri-
negeri jajahan. Exposition Universelle atau Pameran Sejagad, sedang
berlangsung di
kawasan seluas nyaris satu kilometer persegi. Menara Eiffel yang rampung
tahun itu
menjadi pintu gerbangnya. Pada perhelatan yang menyedot jutaan pengunjung
itu, empat
ratus orang berkulit gelap dipamerkan seperti hewan-hewan tangkapan di kebun
binatang
—pameran semacam ini di Eropa memang dirintis oleh pengelola kebun binatang.

Titik yang paling menyedot perhatian dalam pameran itu adalah village negro
atau
perkampungan orang berkulit hitam. Sebagian orang Eropa di masa itu
menamainya
Human Zoo atau kebun binatang berisi manusia—tentu pertunjukan tarian perang
mereka
yang liar juga ada di dalamnya. Di masa itu orang Eropa sangat percaya teori
evolusi
Darwin, bahwa manusia berasal dari kera. Nah, di antara kera dan bangsa
Eropa, ada
spesies setengah jadi, spesies beradab rendah, telanjang dan liar, cuma
mengenakan kulit
kayu atau jerami tanpa baju, dan berkulit gelap. Mahluk `belum jadi manusia'
ini sungguh
menarik ditonton orang Eropa yang beradab. Bagi ilmuan mereka subyek
penelitian. Bagi
penguasa mereka benda taklukan. Bagi para agamawan mereka calon gembala.

Selain itu juga ada layanan merasakan menjadi penjajah. Mereka tidak perlu
repot-repot
ke Afrika untuk merasakan enaknya jadi penguasa. Selain memanjakan mata
dengan
pertunjukan eksotik, mereka juga merasakan digendong di atas hammock khas
Afrika
dengan bayaran murah. Orang-orang berkulit hitam yang malang itu harus
merasakan
malu di negeri penjajahnya.

Reaksi penonton dan juri karnaval dalam Laskar Pelangi mirip dengan
orang-orang Eropa
beradab di Paris akhir abad ke-19. Mereka berdecak kagum melihat pertunjukan
aneh nan
eksotis itu. Tentu dari mata warga kolonial Eropa, yang diwakili Andrea, dan
ditularkannya
kepada seluruh audiens dalam novel larisnya itu, marching band yang sudah
sering
mereka lihat tidak akan bisa menandingi tarian langka bangsa `biadab' ini.
Sungguh
sebuah adopsi sempurna sebuah colonial mind dari seorang putera Melayu
Belitong. Dan
guru-guru Muhammadiyah turut bangga pada pertunjukan murid-muridnya.

Entah mengapa saya teringat lagu Bob Marley, Bufallo Soldier, ketika membaca
adegan
tarian perang itu. Mungkin karena melibatkan Ikal yang tampil sebagai sapi.
Lagu itu
bercerita tentang perjalanan panjang orang Afrika yang dirampas dari
kampungnya, untuk
dijual sebagai budak di benua Amerika.

Lapland masih belum dikenal orang ketika Carl Linnaeus tiba di sana. Dialah
yang akan
membuat kawasan di ujung utara Swedia itu menjadi terkenal. Sang ahli botani
dan
ekologi berlayar dari Uppsala di tahun 1732 menuju tempat itu untuk sebuah
ekspedisi
penelitian yang dibiayai akademi Sains Uppsala. Sesampai di sana dia mulai
mengumpulkan dan membuat klasifikasi tumbuhan yang ada di sana. Setelah itu
dia
meneruskan ekspedisinya beberapa tempat lain untuk melakukan hal serupa. Di
Belanda,
tahun 1735, dia menerbitkan catatan tentang klasifikasi tumbuhan sepanjang
sebelas
halaman berjudul systema naturae. Akhirnya, setelah kembali ke Uppsala,
terus meneliti
sembari mengajar sebagai guru besar, pada tahun 1741, catatan kecil itu
telah menjadi
buku besar.

Buku ini sangat berpengaruh bagi para ahli botani Eropa yang saat itu sedang
giat-giatnya
menduduki belahan dunia lain. Sejak tahun 1878 sampai 1914, atau hingga
berkecamuknya perang dunia pertama, mereka menguasai sekitar 84 persen
permukaan
bumi. Dengan membawa sistem buatan Linneaus para ilmuan Eropa, atas sokongan
dana
pemerintah kolonial, melakukan pengumpulan dan pembuatan klasifikasi
tumbuhan dan
hewan—manusia termasuk di dalamnya.

Taksonomi gaya Linnean ini, yang bertaburan dalam buku Laskar Pelangi,
mengundang
banyak komentar dari ilmuan-ilmuan generasi belakangan. Mary Pratt, dalam
bukunya,
Imperial Eyes, sains taksonomi Eropa utara, yakni praktek mengklasifikasi
dan menamai
organisme yang belum dikenali di Eropa, menciptakan sebuah kesadaran baru.
Sejak itu
orang menganggap bahwa planet ini berpusat di Eropa. Untuk menyebutkan
sebuah
orgnisme yang ada di bumi orang harus merujuk dari apa yang dibuat Eropa.

Andrea Hirata hanya salah seorang warga bumi yang harus menggunakan nama
latin agar
yakin dia tidak sedang berbuat kesalahan ketika menyebutkan nama tumbuhan
yang ada
di kampungnya. Inilah cara yang benar untuk melakukannya. Dia bayangkan
pembacanya
berpendidikan ala Eropa, sama seperti dia, sehingga juga bergantung pada
taksonomi
untuk mengenali tumbuhan. Cara penyebutan lain akan dianggap tak ilmiah,
berisiko tidak
dikenali oleh pembaca, dan harus dinomorduakan atau dihilangkan sama sekali.

Kemungkinan lain, Andrea adalah produk sekolah Orde Baru yang rajin
menghilangkan
nama lokal. Bisa jadi, satu-satunya jalan bagi dia untuk mempelajari nama
asing adalah
dari sekolah. Sementara nama lokalnya telah hilang dibawa ke kuburan oleh
para
pendahulunya. Saya yang tak berusia tak jauh dari sang novelis, juga turut
menjadi korban
dari fenomena semacam ini.

Bagi gaya berpikir kolonial bangsa Eropa, orang-orang berkulit gelap itu
adalah hewan-
hewan biadab piaraan yang telah dijinakkan. Mereka dan sebagian negeri serta
isinya telah
diberi nama menurut cara berpikir Eropa agar lebih mudah dipelajari. Sebelum
menjadi
jinak mereka tentu harus ditaklukkan dulu. Untuk menaklukkan mereka
dibutuhkan
keunggulan senjata dan siasat. Sebelum itu pemilik modal dan pemegang kuasa
harus
diyakinkan. Para ilmuan sangat dipercaya untuk hal ini.

Lanskap, tumbuhan, hewan, dan manusia: bangsa jajahan, harus dipelajari oleh
para
ilmuan. Nama-nama aslinya mesti diubah menjadi nama yang lebih saintifik,
yang asing
ditelinga orang setempat. Lalu nama-nama itu dibawa pulang ke universitas
untuk
diajarkan sebagai `ilmu' sebelum diekspor kembali ke tanah jajahan lewat
`pendidikan'
formal bentukan pemerintah penjajah. Ketika generasi muda Melayu
mempelajarinya
sebagai `ilmu', sebagaimana Ikal, hilanglah nama Melayunya. Kasus pohon
filicium yang
muncul ratusan kali di Laskar Pelangi menjadi salah satu buktinya.

Demikian berkuasanya `ilmu' Linneaus itu, sampai Andrea harus menempatkan
nama asli
dari nama-nama asing itu di daftar glosarium. Para pembaca Melayu disuguhi
nama
kolonial tumbuh-tumbuhan asli mereka, dan baru tahu (atau menerka-nerka)
nama
aslinya di bagian paling belakang novel.

Anehnya, masih di novel yang sama, kawan Ikal mau mengubah nama-nama tempat
asing
kembali ke nama aslinya. Di sini terlihat ambiguitas Andrea. Nama tempat
biasanya datang
dari Jawa, dibawa oleh pemerintah pusat, yang tidak terlalu kuat dan ruwet
untuk
dihadapi. Untuk mengubahnya tidak perlu membuat peta dunia baru yang telah
bisa
diterima orang sebumi. Lawan ini cukup enteng. Sedangkan untuk mengabaikan
taksonomi yang sudah mendunia itu cerita lain. Sistem ini telah menguasai
jagad ilmu
pengentahuan yang belindung di balik benteng maha kukuh. Seluruh universitas
besar dan
berpengaruh di dunia akan menertawakan mereka bila anak-anak Melayu itu
mencoba
mengubahnya. Itu pun bila mereka sadar bahwa ini juga adalah sebentuk
penjajahan.


Drs. Julian Ichsan Balia guru sastra SMP Bukan Main, dalam novel Sang
Pemimpi, telah
menyihir Ikal—juga Arai meski suaranya selalu diwakili Ikal. Dia guru
sastra, bidang yang
dianggap oleh ikal sebagai `muara segala keindahan'. Dia kreatif bak John
Keating guru
bahasa Inggris Welton Academy di film Dead Poet Society yang kadang mengajar
di luar
kelas, mengutip-ngutip karya sastra dunia berbahasa asing, dan kadang
mengajukan
pertanyaan filosofis kepada siswa-siswinya yang baru SMP. Di salah satu
adegannya,
sangat mirip dengan adegan di film keluaran tahun 1989 itu, Pak Balia
bertanya, "what do
we do in life…," kata Pak Balia teatrikal, "…echoes in eternity...!!" (hl.
72)

Pengandaian ini rasanya tidak imbang karena dalam film itu, anak-anak
sekolah Welton
Academy adalah anak-anak dari keluarga makmur di negara makmur, AS, yang
tengah
bersiap masuk universitas dan terlatih mendengar kutipan-kutipan dari karya
sastra.
Anak-anak SMP Bukan Main dalam Sang Pemimpi adalah anak-anak miskin yang
tidak
membaca karya sastra.

Di suatu hari ketika Pak Balia mengajar di lapangan sekolah, dia mengucapkan
sesuatu
yang akan menjadi mimpi masa depan Ikal dan Arai. Dia bilang: "Jelajahi
kemegahan Eropa
sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis.
Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara:
Sorbonne. Ikuti jejak-
jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar
science, sastra,
dan seni hingga mengubah peradaban…." (hl. 73)

Kalimat ini diulang sebanyak lima kali dalam berbagai varian. Secara
spesifik yang paling
dikenang Ikal, tak pernah absen dalam perulangan-perulangannya, adalah
`altar suci
almamater Sorbonne' dan `menjelajahi Eropa sampai ke Afrika'. Bila pada
Laskar Pelangi
yang jadi penyemangat adalah Lintang, atau kecerdasan dan perjuangan
Lintang, maka
dalam Sang Pemimpi penyemangatnya adalah dua susunan kata di atas. Kalau di
buku
pertama Lintang kadang menjadi gantungan nasib seluruh sekolah
Muhammadiyah—selain
Mahar. Maka di buku berikutnya, dua mantra di atas menjadi gantungan Ikal
dan Arai.
Awalnya, sekolah yang bergantung pada murid. Kini sang murid bergantung pada
mimpi.
Selanjutnya, di Laskar Pelangi Ikal tak bermasalah melanjutkan sekolah
karena keasikan
dengan suasana sekolah. Di sana dia berjumpa dengan banyak tokoh
manusia-tipe-ideal.
Kehidupannya di kampung pun tidak begitu sulit. Tidak harus mencari uang
sendiri dan
masih tinggal bersama orangtua yang baik. Di Sang Pemimpi Ikal kehilangan
sekolah yang
dia cintai, sosok-sosok guru ideal yang dia kagumi, kawan-kawan Laskar
Pelangi yang
mengisi waktunya dengan beragam pengalaman eksotik. Latarnya berganti dengan
kehidupan keras di luar sekolah. Meski di sekolahnya masih ada guru yang
inspiratif,
namun keadaan luar sekolah yang demikian keras membuatnya kadang patah
semangat.
Dia harus bekerja sejak pukul dua pagi sebelum pergi ke sekolah. Dia
berganti-ganti
pekerjaan dari tukang selam di lapangan golf, tukang bersih-bersih dan buat
teh di kantor
pemerintahan, sampai kuli pengangkut ikan dari perahu ke dermaga. Begitu
pula ketika
dia tiba di Jawa, dia harus bergantu-ganti pekerjaan untuk melanjutkan
sekolah di UI
Depok. Dalam kehidupan keras seperti ini, dia berkali-kali diselamatkan oleh
mantra
ajaran Pak Balian yang kini menjadi mimpinya.

Setelah diucapkan Pak Balian, lima kali mantra itu muncul. Pertamakali
ketika Ikal
mengulangi dalam hati mantra itu segera setelah diucapkan Pak Balian. Satu
kali mantra
ini digunakan untuk menyembuhkan Jimbron yang tengah sedih setelah dihardik
Ikal
karena terlalu bersemangat bercerita tentang kuda. Tiga kali ketika semangat
Ikal tengah
yang merosot.

Kerasnya kehidupan fisik sebagai pekerja kuli membuatnya menjadi pesimis
menjalani
cita-cita. Dia menghardik mimpi itu. "Altar suci almamater Sorbonne,
menjelajahi Eropa
sampai ke Afrika, hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yang kelelahan agar
tegar
bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan." Di sini Andrea memainkan narasi
perjuangan
sebagai jalan menuju mimpi, lalu dia benturkan dengan kenyataan hidup tokoh
utamanya.
Namun kenyataan harus dikalahkan oleh mimpi.

Rasa pesimis Ikal membuat prestasi sekolahnya menurun. Peringkat kelasnya
terlempar
jauh sekali. Dia semakin sedih melihat ayahnya datang dan pergi dengan
tenang ketika
menerima nilai sekolahnya yang terjun bebas. Di tengah kegalauan itulah,
Arai
mengeluarkan mantra penjinak rasa pesimis. Dia mulai dengan mengingatkan
bahwa,
"Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…" Orang susah harus punya mimpi,
itulah
dasar logikannya. Lalu dia mengajukan ancaman yang tak disukai para pemimpi
kehidupan modernis seperti Ikal. "Mungkin setemat SMA kita hanya akan
mendulang
timaah atau menjadi kuli…" (hl. 153)

Setelah mengingatkan dalilnya, bahwa orang susah harus punya mimpi, dan
mengajukan
ancaman bila tidak terus bermimpi, barulah Arai mengucapkan mantranya. "Kita
lakukan
yang terbaik di sini!! Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke
Afrika!! Kita
akan sekolah ke Prancis!! Kita akan menginjakkan kaki di altar suci
almamater Sorbonne!
Apa pun yang terjadi!!" (hl. 154)

Maka sembuhlah Ikal.

Kali lain mantra ini muncul saat Ikal menghitung-hitung biaya kuliah yang
dia kumpulkan
sebagai kuli ngambat. Mendapati cita-citanya terlalu tinggi, karena uang
yang dia tabung
bakal terlalu kecil, keraguan merayapinya. Namun dia segera melawannya
dengan
kekuatan cita-cita. Dia mengubah makna kata `realistis' dalam kamusnya,
menjadi
"berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri.." Berbuat untuk sebuah
mimpi adalah
realistis menurutnya. Tak apalah, untuk sebuah mimpi segala makna bisa
diubah. Memang
demikianlah salah satu cara menyemangati diri dalam deraan kekerasan hidup,
melarikan
diri ke dunia impian. Sebagaimana bangsa Indonesia, tertimpa banyak tekanan
dan
melarikan diri memelototi wajah halus muda dan kaya di sinetron dan lomba
pemilihan
idola.

"Aku semakin terpatri dengan cita-cita agung kami: ingin sekolah ke Prancis,
menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, menjelajahi Eropa sampai
ke Afrika.
Tak pernah sedikit pun terpikir untuk mengkompromikan cita-cita itu."

Demikian Ikal meyakinkan dirinya di halaman 208.

Saat menunggu surat lulus dari pemberi beasiswa Uni Eropa, mantra ini muncul
lagi. Dia
merefleksikan bagaimana susahnya melanjutkan sekolah dan bagaimana mimpi itu
menyemangatinya.

"Tiga tahun kami melakukan pekerjaan paling kasar di dermaga itu. Menahan
kantuk, lelah
dan dingin dengan meraupi seluruh tubuh kami dengan kehangatan mimpi-mimpi.
Betapa
kami adalah pemberani, para patriot nasib. Dengan kaki tenggelam di dalam
lumpur
sampai ke lutut kami tak surut menggantungkan cita-cita di bulan: ingin
sekolah ke
Prancis, ingin menginjakkan kaki-kaki miskin kami di atas altar suci
almamater Sorbonne,
ingin menjelajahi Eropa sampai ke Afrika."

Perjuangan anak kampung cerdas yang keras. Inilah racikan yang menurut rumus
paling
manjur bagi narasi `perjuangan'—bahwa orang harus bekerja keras secara
fisik—dan
narasi `pendidikan'—bahwa setelah S1 di UI hanya ada S2 di universitas
`terbaik di
dunia'—untuk mencapai mimpi. Setinggi apa pun mimpi itu.

Agak aneh juga bila kita memutar ulang cerita ini dari awal sekali lagi.
Rumus ajaib yang
meluluskan mimpi Ikal dan Arai, tidak begitu mujarab bagi Lintang. Apakah
mungkin
karena Lintang tidak cukup kuat bermimpi? Di sinilah indahnya sastra, rumus
tidak
berlaku universal, apalagi untuk menciptakan kontras demi mengoyak emosi
pembaca.

Maka, dengan selesainya nasib Lintang, rumus itu pun bebas bekerja dengan
baik. `Altar
suci almamater Sorbonne' dan `menjelajahi Eropa sampai ke Afrika' muncul
dalam tahap-
tahap kritis para tokohnya. Terutama Ikal. Membuat mereka sanggup bertahan,
`berjuang'
dalam `hidup yang terpuruk', menempuh `pendidikan' demi mendapatkan `ilmu'.
Dan
mimpi pun tercapai.


"Subhanallah!"
Aku berlari meloncati anak tangga […] Aku terpaku melihat sosok hitam
samara-samar di
balut kabut, tinggi perkasa menjulang langit seperti hantu. Menara Eiffel
laksana nyonya
besar." (hl. 78-79)

Lalu tibalah Ikal dan Arai di altar suci alamamater Sorbonne di Paris. Di
sepanjang
Edensor, novel ke tiga Andrea hirata, kita bisa membaca realisasi mimpi Ikal
dan Arai.
Novel ini lebih enak di baca. Kekacauan kronologis penuturan sudah lenyap.
Sang penutur,
Ikal dewasa, bisa diasumsikan sudah mengenal seluruh Ikon barat yang dia
sebutkan.
Latar utama Paris pun membantu melenyapkan banyak keanehan pembaratan
Belitong di
Laskar Pelangi. Cerita sekuel ini, mimpi Ikal, telah menemukan tempatnya.

Bersamaan dengan itu mencuatlah gejala lain. Tabiat yang sering muncul
ketika anak
Melayu bertandang ke negara maju. Inferioty complex. Sejak dari Schipol,
insiden di
Brugge, Belgia, hingga tiba di Paris, novel ini dipenuhi deskripsi
kekaguman. Orang-orang,
bangunan, lanskap, teknologi, semua membuat Ikal dan Arai berdecak kagum,
atau
diceritakan secara dramatis sedikian rupa supaya pembaca tertegun takjub.

"Kudekati Eiffel, kusentuhkan tanganku padanya. Ia masih tak peduli. Apalagi
sekarang, ia
makin cantik karena matahari merekah menghangatkan lengan-lengan perkasanya
yang
hitam berkilat-kilat. Kawan, mimpi-mimpi telah melontar kami sampai ke
Perancis." (hl.
79) Begitulah salah satu dari sekian banyak tuturan kekaguman Ikal terhadap
kota
impiannya.

Bunyi nama seorang perempuan Perancis pun menjadi incaran Ikal. Liaison
officer pemberi
beasiswa itu, bernama Maurent Leblanch. Dibaca dengan bunyi sengau ala
Prancis
terdengar memukau bagi telinga Melayu Ikal. Dia begitu suka bunyi itu
sehingga
melakukan macam-macam trik agar sang wanita menyebutkan namanya dalam aksen
Prancis. "Indah bukan main. Morong leBlang, sengau, beradab, terpelajar, dan
sangat
berkelas." (hl. 84) Itulah pendapat Ikal.

Andrea mendedikasikan satu bab khusus untuk menceritakan—mungkin secara
tidak
sadar—rasa minder sang tokoh. Judul bab nya pun sudah bisa membuat kita
sadar apa isi
dibaliknya. The pathetic four. Empat mahluk menyedihkan. Kita tahu judul ini
merupakan
plesetan dari The Fantastic Four, sebuah komik yang menceritakan empat
manusia
berkekuatan super.
Sebelum menceritakan siapa the pathetic four, tentu dia butuh perbandingan.
Maka
berceritalah dia tentang kawan-kawan sekelasnya dari negara maju.
Berderetlah tokoh-
tokoh tersebut berdasarkan stereotip dangkal terhadap karakter masing-masing
negara.
Tentu diceritakan sedemikian rupa untuk menunjukkan superioritas akademik di
bandingkan the pathetic four.

Sosok wanita Inggris kawan Ikal tampil dalam stereotip the Brit, primordial,
lalu ada
dilengkapi dengan stereotip wanita metropolitan, trendy, suka dipuji.
Namanya Naomi
Stansfield. Lalu Virginia Sue Townsend dari Amerika yang dia juluki Virginia
stubborn
berdasarkan cerita populer dari tempat itu. dia keras hati dan suka meniru
artis Jennifer
Aniston. Keduanya suka bertengkar. Namun prestasi akademik mereka, meski
fluktuatif,
sangat hebat. "Ide-ide cemerlang mereka sampai dapat mengubah silabus mata
kuliah
perilaku konsumen. Dosen sering menghargai mereka dengan nilai tres bien
alias bagus
sekali." (hl.98)

Lalu ada tiga orang Jerman Marcus Holdsvessel, Christian Diedrich dan Katya
Kristanaema.
Mereka digambarkan sebagaimana orang kebanyakan mengenal atau membayangkan
mengenal orang Jerman, tidak pernah ribut, kikuk dan tenang. "Motto mereka
Tiga P:
Preparation Perfect Performance" membawa prestasi akademik luar biasa.
"…orang-orang
Jerman ini menyatakan untuk sekalian mengubah silabus ilmu ekonomi." (hl.
99). Saskia
de Rooijs dan Marike Ritsema, dua gadis Belanda, lebih hebat lagi. Mereka
selalu
mendapat nilai parfait atau sempurna. Mereka bahkan bisa mengusulkan untuk
"mengubah Universite de Paris, Sorbonne!". (hl.100) \

Yang paling hebat tentu saja orang Yahudi, sebagaimana pengetahuan stereotip
popular
yang beredar di seluruh dunia. Abraham Levin, Y'hudit Oxxenberg, Yoram Ben
Mazuz dan
Becky Avshalom, itulah nama mereka. Kita tentu sudah bisa menebak apa yang
ingin
diubah orang-orang Yahudi ini. Ya. "mengubah Prancis." (hl.101) Lalu ada
orang-orang
ramah pencinta seni dari Prancis dan orang-orang berpikiran terbuka dari
Hong Kong.

Sungguh kebetulan Ikal bisa ketemu orang-orang tipe-ideal sehebat itu
dikelasnya.

Setelah tuntas menjelaskan orang-orang hebat dari negara maju, barulah
Andrea memberi
kesempatan kepada empat mahluk menyedihkan. Saya akan mengutip dua alinea di
akhir
bab The Pathetic Four, dimana Andrea memperkenalkan empat tokoh menyedihkan
dalam
Edensor.

"Sisanya selalu terlambat, berantakan, dan tergopoh-gopoh adalah The
Pathetic Four—
empat mahluk menyedihkan—penghuni jejeran bangku paling depan. Jika dosen
menjelaskan, mereka berulang kali bertanya soal remeh-temeh, sampai
menjengkelkan.
Anak-anak ini melengkapi diri dengan perekam agar petuah dosen dapat diputar
lagi di
rumah. Norak dan repot sekali. Beginilah akibat penguasaan bahasa asing
ilmiah yang
memalukan dan efek gizi buruk masa balita. Jika ide mahasiswa negara lain
demikian
besar sampai ingin mengubah Prancis, The Pathetic Four sangat sederhana,
yaitu agar
bagaimana dapat nilai passable atau cukup, lulus seadanya dengan nilai C-,
tak perlu
mengulang, sehingga dapat menghabiskan waktu sejadi-jadinya menonton bola.

Ide lainnya adalah membujuk pemberi beasiswa agar menaikkan uang saku.
Kenaikan itu
disimpan untuk belanja sandang murah pada obral end season, maka pakaian
musim semi
dipakai saat musim salju, pakaian musim salju dipakai saat musim panas.
Biasanya
keempat orang itu menangguk-angguk takzim saat menerima kuliah. Lagaknya
seperti
paham saja, padahal tak tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka itu Monahar
Vikram
Raj Chauduri Manooj [India], Pablo Arian Gonzales [Mexico], Ninochka
Stranovsky
[Georgia], dan aku. Kami blingsatan, terbirit-birit mengejar ketinggalan."

Sungguh kebetulan orang-orang menyedihkan ini berasal dari negara Miskin.
"Gonzales
berasal dari keluarga pandai besi di Guadalajara, kantong kemelaratan
Amerika Utara."
Atau "Ninoch, gadis kecil kurus ini, berasal Georgia, Negara miskin yang
baru
memerdekakan diri dari cengkraman cakar beruang merah Rusia." (hl. 106).
Kontras
dengan kawan-kawannya yang cerdas, yang semuanya (harus) dari negara maju.
Tak ada
penyeberangan. Hanya dinding tebal tegas yang bertuliskan `hanya orang dari
negara kaya
yang boleh cerdas'.

Bisa jadi Andrea beralasan, melakukan ini secara sadar, sebagai tindakan
tawaddhu.
Merendah biar tidak takabbur. Namun dengan demikian dia melanggengkan cara
berpikir
Orientalisme bahwa, satu, ada garis perbedaan yang terang benderang antara
Barat yang
diwakili Eropa dan mereka yang berhasil mengadopsinya dengan baik, seperti
Hongkong.
Dua, bahwa bangsa non Barat memang sudah lebih rendah dari sono-nya. Tiga,
untuk bisa
lebih sejajar, namun tidak boleh benar benar sejajar, mereka harus meniru
Barat. "Being
white but not quite."

Dengan mengambil `ilmu' dari `pendidikan' menurut versi Ikal sebagai
standarnya, maka
sempurnalah superioritas absolut modernitas. Modernitas Barat
tersederhanakan ala
Andrea Hirata. (p!)

*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email
[EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis FPK [Forum Pembaca KOMPAS] :

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan 
http://kompas.com/
3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke