Mang Iyus,

Brt Ryan yg bertubi-tubi contoh yg bgs. Kekerasan spt itu sy ykn bnyk, tp 
jarang terungkap. Kl itu trjd di neg lain, perlakuan media akan sama. Dan sy 
blm yakin pemberitaannya menginspirasi para epigonnya.

Selain brt realistis media (trmsk Kompas) jg memberikan tmpt ckp bnyk utk mrk 
yg membangkitkan harapan. Di hal blkng Kompas tiap hari ada sosok yg 
berprestasi, tiap pkn sedikitnya ada 3 rubrik ttg mrk yg berjasa bg bgs n 
negeri.

Sy berharap brt ttg PHK tak membuat masy kecil hati atau merasa malang, tp 
justru bersiap menghadapi kemungkinan terburuk krn dunia sdg dilanda krismon 
global. Sepanjang pengetahuan sy tak ada brt yg bersifat fiktif.

Rejeki media? Sm spt bisnis lainnya, media sdh jd industri yg menguntungkan. 
Dan tak semua brt yg dijual kpd pembaca menimbulkan kerugian, bnyk jg yg 
memetik keuntungan dr tiap brt baik scr material maupun non-material.

Wass,
Budiarto Shambazy


Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network

-----Original Message-----
From: Juswan <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sat, 22 Nov 2008 05:34:29
To: FPK Kompas<[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: [Forum-Pembaca-,KOMPAS] 12.600 Pekerja 
Terancam PHK --- satu
 lag


Benar bung Budiarto Shambazy.  Sama seperti berita bertubi
tubi dan ekstensif tentang kekerasan di seluruh pelosok
negara ini, maka budaya kekerasan jadi semakin marak.
Contoh, berita Ryan telah memberi inspirasi para epigonnya.

Begitu pula berita buruk-muram-pesimistis, kendati sifatnya
FAKTUAL akan tetap membuat masyarakat menjadi
berkecil hati dan malang...
Seandainya berita itu FIKTIF malahan tidak bakal ada
efeknya bagi masyarakat...namanya juga fiktif/rekayasa...

Tapi apa mau dikata, rezeki media justru dari membeberkan
fakta terlepas apakah berguna atau merugikan masyarakat.
Kalau pembaca tahu ada 12.600 penganggur baru atau malah
12 juta penganggur baru... perubahan-baik apa yang dapat
terjadi untuk dinikmati oleh masyarakat?  Sungguh tidak ada !

Mang Iyus



Kirim email ke