Sebagian masyarakat  termasuk sejarahwan  Asvi Marwan Adam menolak 
tudingan buku Tim Weiner itu  yang menyebutkan bahwa Adam Malik 
terlibat dengan kegiatan  CIA di Indonesia, karena dianggapnya belum 
dapat dibuktikan.

Tetapi dalam beberapa tulisan mengenai peristiwa  G30S/1965, seorang  
sekretaris Adam Malik yaitu Tirta Kentjana (Kim) Adhyatman pernah  
dikaitkan namanya dengan seorang diplomat  kedutaan AS di  Jakarta 
yang bernama Robert J.Martens.

Dalam sebuah interview  disebutkan bahwa sekretaris Adam Malik ini 
(T.K. Adhyatman) mengaku  telah menerima secara teratur  daftar nama 
(shooting list) 5000 orang  PKI  dari  Martens (yang diduga agen 
CIA), dan selanjutnya daftar ini diserahkan kepada atasannya Adam 
Malik yang pada gilirannya diserahkan kepada Soeharto lebih lanjut.

Tirta Kentjana Adhyatman adalah suami dari Ibu Sumarah Adhyatman, 
seorang kolektor barang antik China dan  mantan kurator koleksi 
Musium Adam Malik di jalan Diponegora 29 Jakarta serta ketua 
kehormatan  Himpunan Keramik Indonesia. Beliau  pernah menulis  
beberapa buku mengenai keramik seperti salah satunya yang 
berjudul "Keramik Kuna yang ditemukan di Indonesia" .

Gautama Harsha.

http://id.wikisource.org/wiki/Sebuah_Daftar_di_Balik_Banjir_Darah
http://www.wirantaprawira.de/pakorba/teil_15.html
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1999/10/04/0014.html

----------------------------------------------------------------- 
> JAKARTA,SENIN-Adam Malik, wakil presiden kedua RI disebut-sebut 
> sebagai agen CIA (Central Intelligence Agency/dinas rahasia AS). 
> Pahlawan nasional ini bahkan disebut sebagai pejabat tertinggi yang 
> pernah direkrut CIA di Indonesia.
> 
> Adam Malik yang dijuluki Si Kancil ini mendampingi Presiden 
> Soeharto  pada periode 1978-1983. Salah satu pendiri LKBN Antara 
> ini pernah  menjadi diplomat kunci dalam kebijakan luar negeri RI 
> awal Orde Baru  dan dubes untuk Uni Soviet.  Ia meninggal pada 
> September 1984 atau  setahun setelah tidak menjabat wakil presiden.
> 
> Keterlibatan Adam Malik sebagai agen CIA itu disebutkan wartawan 
> New  York Times, Tim Weiner, dalam bukunya Legacy of Ashes, History 
> of the  CIA (diterjemahkan menjadi Membongkar Kegagalan CIA).
> 
> Dalam buku itu, Weiner mengutip pernyataan pejabat tinggi CIA Clyde 
> McAvoy dalam wawancara pada 2005 yang menjadi bahan buku itu. 
> Disebutkan, McAvoy bertemu Adam Malik pada 1964, atau setahun 
> sebelum  prahara politik September 1965. "Saya merekrut dan 
> mengontrol Adam  Malik," kata McAvoy dalam wawancara waktu itu.
> 
> McAvoy mengatakan, setelah berhasil merekrut Adam Malik, ia 
> mendapat  persetujuan untuk meningkatkan program rahasia buat 
> mendorong  persetujuan operasi rahasia di Indonesia, terutam 
> terkait dengan  persaingan di spektrum politik kanan dan kiri.
> 
> Weiner, menyebut setelah Adam Malik direkrut Clyde McAvoy menjadi 
> agen  CIA, ia berperan menggulingkan Soekarno, dan menumpas PKI. 
> CIA pun  membentuk trio yang kelak berkuasa pascatumbangnya 
> Soekarno, yakni  Adam Malik, Sultan Hamenglubuwono IX, dan Soeharto.
> 
> "Sang Duta Besar mengatakan dia bertemu dengan Adam Malik "di 
> sebuah  lokasi rahasia" dan mendapatkan "gambaran sangat jelas 
> tentang apa  yang dipikirkan Soeharto dan Adam Malik, serta apa 
> yang mereka usulkan  untuk dilakukan" buat membebaskan Indonesia 
> dari komunisme melalui  gerakan politik baru yang mereka pimpin, 
> yang disebut Kap_gestapu,"  tulis Tim Weiner (halaman 331).
> 
> Pada pertengahan Oktober 1965, Adam Malik mengirimkan seorang 
> pembantunya ke kediaman perwira politik senior Kedubes AS, Bob 
> Martens, yang pernah bertugas di Moskow, kota tempat Adam Malik 
> pernah  bertugas sebagai duta besar.
> 
> Martens menyerahkan kepada utusan Adam Malik itu sebuah daftar yang 
> tidak bersifat rahasia, yang berisi nama 67 pemimpin PKI, sebuah 
> daftar yang telah dia rangkum dari kliping-kliping surat kabar. 
> "Dokumen itu sama sekali bukanlah daftar orang yang akan dibunuh," 
> ujar Martens.
> 
> Klaim  bahwa Adam Malik merupakan agen CIA sangat diragukan 
> sejarawan  Asvi Marwan Adam. Asvi beranggapan, selain bahwa klaim 
> itu tidak  didukung dokumen yang kuat dan saksi, Adam Malik juga 
> telah meninggal.  "Jadi ini hanya pernyataan sepihak pada seseorang 
> yang sudah tidak  mungkin memberikan konfirmasi atau jawaban," ujar 
> Asvi, Minggu  (23/11).
> 
> Asvi menduga, klaim McAvoy untuk itu demi mendongkrak 
> popularitasnya  saja. "Akan terdengar luar biasa kan kalau seorang 
> petinggi negara  lain pernah dia jadikan agen. Mungkin dia hanya 
> cari nama saja," kata  Asvi.
> 
> Asvi juga menyorot bagian dalam buku itu yang menyebut bahwa CIA 
> menggelontor dana sebesar 10.000 dolar AS pada rezim yang 
> dikendalikannya untuk menumpas PKI. "Amerika Serikat berkepentingan 
> dengan pemberantasan komunis, mereka bukan hanya menyumbang uang 
> tapi  juga senjata," ujarnya.
> 
> Atas terbitnya buku itu, kata Asvi, keluarga Adam Malik dan 
> pemerintah  harus bersikap, antara lain dengan mengeluarkan  
> bantahan. Alasan  Asvi, Adam Malik adalah tokoh yang harus dijaga 
> nama baiknya. Apalagi  saat ini akan dibangun bandara udara di 
> Sumatera Utara bernama Adam  Malik. Penarikan buku dari peredaran, 
> kata Asvi juga bisa jadi  alternatif untuk menghentikan tuduhan 
> pada Adam Malik ini.
> 
> "Mungkin pemerintah melalui departemen sosial dan menteri 
> sekretaris  negara harus membantah, kalau perlu menanyakan kepada 
> penulisnya apa  bukti, dokumen atau saksi atas pernyataan yang 
> dibuatnya," ujar Asvi.
> 
> Sepakat dengan Asvi, pengamat intelijen Wawan Purwanto mengatakan 
> rekrutmen agen CIA tidak mudah dan dilakukan dengan sangat rahasia. 
> Dokumen rekrutmen itu pasti ada.
> 
> "Paling tidak ada surat tugas atau surat keputusan yang jelas 
> tentang  kebaradaan agen tersebut," ujarnya.
> 
> Namun Wawan tidak sepakat dengan gagasan penarikan buku. "Kalau 
> dilakukan akan memperlaris buku, sebab orang jadi bertanya-tanya 
> apa  isi buku itu," ujarnya. Menurutnya, yang bisa dilakukan 
> keluarga dan  pemerintah adalah klarifikasi. Misalnya dengan  
> menerbitkan buku putih  atau paling tidak konferensi pers untuk     
> membantah tuduhan ini.
> 
> Gagasan penarikan buku juga dipandang sebelah mata oleh Kejaksaan 
> Agung (Kejagung) yang lebih suka menyerahkan masalah itu kepada 
> keluarga Adam Malik. "Itu masalah pribadi. Belum bisa dikategorikan 
> sebagai menggangu ideologi, politik, sosial, budaya dan pertahanan-
> keamanan," tegas Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) 
> Kejagung  M Jasman Panjaitan.
> 
> Lagi pula, menurut Jasman, buku Membongkar Kegagalan CIA tidak 
> termasuk dalam barang cetakan yang mengganggu ketertiban umum yang 
> selama ini dijadikan patokan Kejagung untuk membredel buku. Kendati 
> demikian, apabila pihak keluarga Adam Malik merasa keberatan, 
> mereka  bisa mengadukan ke Kejagung.jbp/yls/ti



Kirim email ke