Mas Budiman Sudjatmiko,
Menurut saya persoalannya tidaklah sesederhana itu.
Seorang pemimpin Negara, kalau dikemudian hari ternyata merupakan mata - mata
dari negara asing, akan sangat melukai perasaan rakyatnya.
Andaikata tindakan mata - mata tersebut untuk negara lain (katakanlah
ditugaskan untuk memata - matai negara tetangga), itupun sudah menyakitkan hati
rakyatnya, apa lagi kalau tugasnya untuk memata - matai bangsanya sendiri.
Betapa menyakitkan kenyataan tersebut.
Apalagi kalau kemudian terbukti bahwa jabatan yang dia sandang adalah hasil
pekerjaannya sebagai mata - mata (saat itu mungkin Soeharto tidak menyadari
bahwa Adam Malik merupakan agen CIA dan keberhasilan Adam Malik menjadi Wakil
Presiden akibat ikut campur tangannya Pemerintah AS).
Waduh, menyedihkan sekali.
Menurut saya, jika seorang pejabat publik memata - matai bangsanya sendiri
untuk kepentingan bangsa asing, maka seluruh gelar kehormatan dari Negara yang
pernah dia sandang, sebaiknya dibatalkan saja.
Gelar kehormatan dari negara tidak pantas untuk seorang pengkhianat.
Soal pernyataan bahwa : "Pahlawan dan Pengkhianat dalam sejarah, ditentukan
oleh pemenang", rasanya tidak berlaku bagi pihak yang bersedia memata - matai
bangsanya untuk kepentingan bangsa asing.
Mas Budiman punya contoh untuk hal ini???
Salam,
Adyanto Aditomo
Budiman Sudjatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Soal apakah ada pejabat publik Indonesia masa lalu dan masa kini jadi
agen intelijen asing, saya kira bukan sesuatu yg mustahil. Namanya saja
inteiljen.
Kita tak usah reaksioner membantahnya, krn tokh sulit dibuktikan ketidakbenaran
maupun kebenarannya.
Tapi, kontroversi ini mengingatkan kita bahwa republik ini tidaklah dibangun
oleh semangat yg sepenuhnya murni...selalu ada banyak pernik. Tinggal saja kita
mau berdewasa menerima itu sebagai realita.
Pada akhirnya pahlawan dan pengkhianat dlm sejarah, selalu ditentukan oleh
pemenang
Kisah-kisah pejabat publik jadi agen intelijen asing, saya kira sdh banyak
terjadi di dunia spionase
wassalam
Budiman Sudjatmiko