Industrinya memang terlanjur melibatkan orang banyak, tetapi industrialisnya -
pengusaha - cuma segelintir. Yang cuma segelintir itu mbok ikut (diajak)
memikirkan kepentingan bersama dan bukan melulu mementingkan cengkeraman
produknya pada masyarakat.
Pemerintah boleh berkepentingan dengan pendapatan pajak, tapi apa artinya kalau
pembayar pajak melihat pemerintah mengabaikan kewajibannya melindungi &
melayani masyarakat pembayar pajak. Bukankah pemerintah dipilih & digaji rakyat
untuk seluruh rakyat?
Putarlah otak untuk rakyat sambil menjaga kepentingannya. Kalaupun harus
mengurangi kenyamanan masyarakat maka potong juga kepentingan-kepentingan
pemerintah. Jangan mau enak & untung sendiri.
Memang, tidak bisa orang bicara bahwa pemerintahan terlama dalam reformasi ini
- dan genap masa jabatan sepanjang republik berdiri - digaji industrialis untuk
mengamankan koceknya - dengan mengorbankan wong cilik (anak sekolah). Toh
kesibukan baru di pagi hari ini bakal lumayan untuk mengalihkan perhatian orang
dari kesibukan pemerintah meninggalkan kewajibannya. Maklum, pemilu semakin
mepet.
Biar fakta yang bicara.
ajeg=
--- Eric Soesilo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sebenarnya tidak begitu juga kok :) industri otomotif dan
> industri pendukung sudah mengakar dan menguasai hajat hidup orang
> banyak. Memang pemerintah berkepentingan menjaga kelangsungan
> pendapatannya dari pajak dll, tapi banyak orang yang mencari
> nafkah di sana juga lho :)
>
> Best Regards,
> Eric Soesilo
> ericsoesilo@ yahoo.com
>
> funBerry� powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: ajegile <[EMAIL PROTECTED]>
>
> > Sebetulnya memang itu akar masalah kemacetan jalan, pemerintah
> > terlalu mensejahterakan (segelintir) pengusaha otomotif dengan
> > cara menyengsarakan orang banyak - tanpa ampun sampai ke anak
> > sekolah.
> >
> > ajeg=