Klo diskusi soal hubungan orang dan bangsa ini mau dikembangkan,
khususnya soal materialisme, kita harus kembali ke situasi pasca
revolusi 1949.

Di kala itu, negeri yang baru merdeka ini pengin diurus dengan baik.
Untuk itu tentu tidak bisa dilakukan hanya dengan moto "merdeka ataoe
mati" saja. Maka bangsa ini membutuhkan juga "tenaga trampil", dan itu
hanya bisa diisi oleh para AMBTENAAR (pegawai Belanda dan KNIL
(tentara Belanda) yang jago soal administrasi dan tentu juga soal
KEUANGAN. Saat itu bangsa ini "terpaksa" mengekor pada Ambtenaar dan
KNIL sekalipun mereka tidak tahu "untuk apa Indonesia harus
merdeka"(bahkan mencemooh dan mentertawakan para pejoeang republiken ;
tetapi kemudian merekalah justru yang menikmati kemerdekaan itu).

Saya gak tahu, apakah sisa-sisa "mental bedinde" itu masih ada atau
gak ya sekarang ini?

salam, robama.


--- In [email protected], "William T. Gunawan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> hehe entah memang Uda ini membutakan mata hati atau memang ilmu
politikus
> itu demikian ya?
>
> bikin SIM, harus pake pelicin, bikin KTP juga harus pake pelicin, bahkan
> akta lahir juga pake pelicin, bikin passport juga sama saja, kita
sudah tau
> semua yg dibelakang itu siapa, pegawai negeri toh? kalo kata orang,
pegawai
> mewakili perusahaannya, ya pegawai negeri mewakili negeri nya , bukan
> begitu?
>
> simplicity ? bukannya sudah fakta ? tp masih juga di tutup tutupi.
>
> tolong deh,
> borok bangsa ini sudah terlalu lebar untuk ditutupi dengan make-up,
bukan
> make-up nya yg digencarkan, tp penyembuhan terhadap borok itu yg di
> gencarkan.

Kirim email ke