papan Catur Nirwan dewanto
langkah Ulung Seorang Penyair

tipografi adalah kode bagi sebuah puisi. Seorang penyair meletakkan larik-larik 
puisinya dengan cara tertentu, membentuk bait-bait puisi. Bait-bait yang 
menjadi unit-unit pemaknaan bagi pembaca. Tapi pembaca bisa memainkan kode yang 
disusun penyair. Dalam semangat kebebasan yang memberontak dari setiap konvensi 
dari dunia puisi – konvensi tipografi.

Kebebasan pembaca nyaris tanpa batas itu, bisa menyerat puisi ke arah pemaknaan 
lain dari makna awal yang hendak didedah oleh sebuah puisi. dengan memainkan 
tipografinya.

Dari pembacaan ulang buku puisi nirwan dewanto, jantung lebah ratu, saya 
menemukan apa yang saya maksudkan, dari puisi pertamanya bernama “Perenang 
Buta”. Betapa permainan tipologi, atau pemakaiannya ke dalam tubuh puisi, dapat 
menggeser arti dan makna puisi.

Puisi perenang buta bisa kita letakkan sebagai palang dari maksud sang penyair: 
sang penyair meletakkannya sebagai puisi pertama, sebagai undangan bagi pembaca 
karena sang penyair hendak menangani dunia benda secara lain. Yakni unik yang 
aneh. Dan memang yang segera terasa membaca tiap puisi dari kumpulan puisi ini, 
adalah sebuah keunikan dan keanehan, betapa benda-benda kecil dilihat oleh sang 
penyair, secara tidak biasa. Ada sudut pandang baru di sana.

Seolah sang penyair yang dalam sekian puluh tahun di ranah sastra dan budaya 
negeri ini, menyuarakan sebuah suara seni yang berinti: perlakukanlah sebuah 
bahasa dengan kaidahnya, tapi perlakukan pula nalar dalam menangani bahasa. 
Atau dalam kata-kata yang diringkas: dunia puisi menuntut kecerdasan sang 
penyair, untuk membuatnya sebagai sebuah bidang di mana ia, dunia puisi itu, 
bisa menjadi sebidang papan catur dengan pemain catur melangkah dengan 
langkah-langkah yang ulung.

Langkah-langkah yang ulung itu, dalam dunia puisinya, adalah saat bagi sang 
penyair memainkan larik dan baitnya, atau bidaknya, ke dalam simbiose bentuk 
dan isi yang melekat seolah roh dan badannya. Sehingga dunia puisi menjadi 
sebuah totalitas bentuk dan makna yang dikandungnya. Bentuk yang mengatasi 
bentuk – tipografi yang mungkin memberi arah makna lain - makna yang mengatasi 
makna – makna lain dari dunia benda, yang disembunyikan ke dalam suatu 
permainan dengan pembaca.

Bentuk dan makna yang mengandung langkah-langkah perenang buta, ke dalam dunia 
pemaknaan yang disusun penyair sebagai dunia yang membatalkan, dunia yang 
mengaburkan, dunia yang mendalamkan dirinya ke dalam permainan benda-benda 
kecil yang menghidupkan identitas sang perenang buta. Sehingga pembaca disodori 
sebuah kompleksitas makna dalam rentetan pertanyaan pada puisi: apa dan mengapa 
perenang buta itu di sini.

puisi sampai kepada pembaca sebagai gaung bunyi. Tapi gaung ide juga. Ide dan 
bunyi yang dibawa oleh imaji puisi. Imaji yang menaut dalam relasi konteks 
latar tempat (laut), dan mahluk-mahluk laut yang menjadi latar di mana puisi 
bermain. Dan perenang buta adalah sebuah puisi yang bermain di dalam latar 
jarak, yang penyebutannya sendiri pembaca sudah disuguhi oleh sang penyair 
dengan sebuah ragu, dalam arah yang menunjuk ke banyak arah, dengan menyimpul 
kepada nomina jarak yang relatif.

Dengan memakaikan kata “atau” dalam larik pertama, maka terbacalah dunia 
relatif itu: sepuluh atau seribu depa. Relatifitas dari jarak yang mungkin 
hendak ditempuh oleh sang perenang buta. Tapi rentang jarak itu, yang dalam 
sebuah konteks tempat bisa kita sambung imaji sang penyair, ke dalam imaji 
pembaca yang memaknai jarak sebagai jarak ke muka atau ke belakang, ke bawah 
atau ke atas, sehingga jarak itu sendiri, adalah sebuah ruang yang bisa kita 
tangani dengan wacana geometri euclides, bentuk dan tiap sudut maknanya. Yakni 
ada titik berangkat sang perenang buta. Titik yang dimulai dari judul puisi itu 
sendiri: perenang buta. Di mana sebuah tarikan titik (.) pembentuk huruf p di 
awal, adalah awal sebuah garis yang bisa kita tarik, kita hubungkan dengan 
sebuah titik lain yang dikandung oleh titik a dalam akhiran kata buta. Sehingga 
diri sang perenang buta itu sendiri, adalah implikasi dari sebuah titik yang 
dihubungkan oleh sebuah garis ke titik
lain – tidakkah panjang tubuh kita seolah garis yang dimulai dari kedua titik 
itu? – garis lurus yang bermakna diri sang perenang buta yang membentuk 
biometri tubuh dengan, atau biometri melalui, arti yang bisa kita rujukkan 
semantik maknanya ke dalam konteks latar, di mana sang puitor di sana 
meletakkan perenang buta dalam relasi dengan gejala benda di seputarnya.

tapi bersama dengan biometri tubuh – perenang yang secara fisik adalah lelaki 
(?) buta, sang penyair mulai memainkan persepsi pembaca dengan kata-kata 
informatif “terang” yang diimbuhinya dengan “semata”: terang semata. Maka kita 
segera dihadapkan kepada sebuah kontras pemaknaan: terang semata itu bagi sang 
perenang buta atau bagi pembaca puisi – penerang yang berfungsi sebagai latar 
dalam puisi. Tapi tampaknya, terang semata itu adalah dunia sebagaimana sang 
perenang buta adalah representasi dari manusia yang hendak mencari dalam dunia.

Maka di sini, dari larik pertama, betapa puisi telah menyembunyikan apa yang 
hendak ia sampaikan: bahwa jarak itu penuh dengan resiko (relatif sepuluh atau 
seribu). Tapi resiko bukanlah sebuah ketidakmungkinan (terang semata sebagai 
latar ratio manusia untuk memahami), tapi relatifitas dan rasio itu kemudian 
dibawa, atau diputar, oleh sang penyair ke dalam diri “ia” yang buta.

Segera terasa kehendak nirwan untuk menempatkan manusia, walau buta atau awal 
mulanya tak mengerti akan tiap sesuatu, setidaknya ada seberkas sinar terang 
untuk sebuah upaya pencarian – puisi menyebut, atau menghidup, kan upaya ini 
dengan metanomik, dalam tautan individu yang mengalami jarak dalam sebuah latar 
laut dengan mahluk-mahluk serupa ganggang, ubur-ubur, simbolik dari 
pengembaraan seorang penyair, di mana arus dan arah gelombang, adalah arus dan 
arah gelombang hidup itu sendiri. Manusia buta di tengah gejala penampakan 
dunia. Tapi ada aritmatika dan serat optik makna yang bisa membimbingnya.

Maka terbaca:

Perenang Buta

Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.

Tipografi puisi, yang kalau kita mainkan tipografinya ke dalam tipografi prosa 
menjadi kalimat sebagai:

Sepuluh atau seribu depa ke depan sana, terang semata.

Sebuah kalimat yang tak bergoyang maknanya walau ia disusun secara tipografi 
kalimat, bukan larik yang membentuk bait dalam puisi. Maka bisa pula dari 
permainan kesamaan makna yang diproduksi larik dan bait dalam puisi ini, ke 
dalam kalimat dalam dunia prosa, kita merujukkan bahwa hidup ini bisa didekati 
secara puisi bisa pula secara prosa. Sebuah rujukan persamaan yang menyembul 
keluar dari dunia puisi “Perenang Buta” (bersambung)

Hudan Hidayat


      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke