Menurut saya pendidikan anak, khususnya pendidikan TK dan SD telah kehilangan 
arah. Pendidikan TK seperti dianggap mempersiapkan anak didik siap memasuki SD. 
Yang dimaksud siap memasuki SD, bahwa anak didik sudah dapat membaca, manulis, 
dan sudah mampu berhitung berhitung. hebatkan....Jadi kelas 1 SD adalah sekolah 
yang yang memang dipersiapkan untuk anak-anak yang telah dapat membaca, 
menulis, dan berhitung. Ini terbukti dari banyak sekolah SD saat ini dimana 
persyaratan anak masuk SD, anak tersebut sudah harus bisa membaca dan menulis 
dan berhitung. Luar biasa.....Nah, apalagi yang akan terjadi pada saat anak 
yang waktunya harusnya membina kehidupan masa kanaknya di TK dan di SD, maka 
itu tidak akan terjadi. Saya tidak tahu apa sesungguhnya yang terbayang dibenak 
para pengambil kebijakan bidang pendidikan anak dalam menjalankan misi 
pendidikan anak. Apakah anak2 kita akan dijadikan manusia-manusia robot yang 
tidak memiliki kehidupan sosial masa kanak,
 stress, dan cepat frustasi. Saya hanya kasihan pada anak-anak Indonesia, yang 
seharusnya masa kanak-kanak adalah masa penting dalam membentuk kepribadiandan 
sosial mereka, niscahaya tidak akan tercapai...............
 

--- Pada Ming, 22/2/09, Agus Hamonangan <[email protected]> menulis:
Dari: Agus Hamonangan <[email protected]>
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kekerasan atas Nama Pendidikan
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 22 Februari, 2009, 7:57 AM











    
            http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/02/22/ 01340087/ 
kekerasan. atas.nama. pendidikan



Sudah lama SD swasta menerapkan seleksi masuk terhadap anak-anak TK

yang akan masuk SD. Menurut pendidik Arief Rachman, sistem seleksi ini

diterapkan sejak SD swasta diserbu orangtua murid yang sudah menurun

kepercayaannya terhadap kualitas sekolah negeri.



"Tujuannya bagus, tetapi yang menjadi persoalan adalah materi tesnya

lebih mementingkan baca, tulis, hitung," kata Arief Rachman. Dengan

tes baca, tulis, dan berhitung (calistung), anak hanya dilihat

kemampuan kognitif atau intelektualnya saja. Padahal, anak masih

memiliki potensi kecerdasan sosial, emosional, spiritual, dan jasmani.



Psikolog perkembangan anak, Seto Mulyadi, bersikap keras terhadap tes

calistung. "Ini bentuk kekerasan terhadap mental anak dengan

mengatasnamakan pendidikan," tegas Seto.



Seto berpesan kepada orangtua agar tidak terlalu cepat menjejalkan

pelajaran calistung kepada anak, terutama anak usia di bawah tujuh

tahun. Jika anak di bawah tujuh tahun sudah dipaksa membaca, maka anak

akan kehilangan kesempatan mengembangkan kecerdasan emosi dan sosial

yang seharusnya berkembang pesat saat anak berumur 4-6 tahun.



"Masalah akan muncul ketika anak menginjak kelas VI SD atau awal SMP.

Ketika berhadapan dengan lingkungan, anak tidak memiliki ketahanan

mental karena kecerdasan emosi dan sosialnya tidak berkembang," kata

Seto. Anak semacam ini rentan terlibat kenakalan remaja atau mudah

depresi.



Menurut Seto, sistem seleksi yang mensyaratkan anak TK sudah harus

bisa calistung menyebabkan para guru di sekolah TK terpaksa memaksa

anak didiknya belajar calistung. Padahal, seharusnya TK menjadi tempat

bermain dan belajar bersosialisasi bagi anak-anak.



Di Sekolah Pesona Alam Green School, Tangerang, misalnya, murid TK B

sudah diajarkan cara menghitung bersusun. Padahal, anak-anak belum

mengenal konsep bilangan satuan dan puluhan.



Anggiya Septyana dari bagian penelitian dan pengembangan sekolah

tersebut mengatakan, sekolah alam sebenarnya lebih mengedepankan

pembentukan karakter anak, daya cipta, dan imajinasi. Akan tetapi,

karena sekolah itu belum memiliki sekolah dasar dengan konsep sama,

mereka terpaksa mengajarkan anak didiknya calistung agar bisa

bersekolah di SD lain. (IND)




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke