Tentu saja, kita juga harus bijak dalam menilai, sekolah swasta mana yang 
melakukaun "kekerasan" itu. Kita tidak seenaknya saja mengatakan bahwa sekolah 
swasta mempraktekan jenis "kekerasan" yang diungkapkan oleh Kak Seto dan Arief 
Rahman ini. 

Penilain ini terkesan seolah-olah semua sekolah swasta itu negatif karena 
melakukan "kekeresan" itu. Padahal kita tahu, justru di sisi lain, 
sekoloah-sekolah negeri milik pemerintah, teruytama di Papua misalnya, 
cenderung melakukan pembiaran terhadap hak anak atau masyarakat atas 
pendidikan. Karena berlabel "negeri", para guru yakin saja bahwa mengajatr atau 
tidak mengajar, tetap dapat gaji. Akibatnya, berapa ribu anak Papua yang di 
pedalaman yang menjadi korban dari "mental negeri" atau mental "birokrat" akut 
yang merusak generasi muda atau anak Indonesia, yang ditandai dengan hilangnya 
akses pendidikan bagi mereka.

Jadi, untuk Kak Seto dan Arief Rahman serta semua praktisi pendidikan di negeri 
ini, coba buka mata, buka telinga dan buka hati anda untuk melihat secara 
keseluruhan, baru mengeluarkan pendapat atau pandangan anda. Oleh karena itu, 
kami mengharapakan dan seluruh pembaca mengharapkan tolong disebutkan, sekolah 
swasta atau pihak mana saja yang melakukan kekerasan ini. Ingat, di Papua itu 
adalah praktek pembiaran terhadap hak masyarakat atas pendidikan, karena para 
guru, terutama di pedalaman-pedalaman bermental pegawai "negeri", bermental 
"birokrat akut".

Salam hormat, 

Herry Metty

--- Pada Ming, 22/2/09, Agus Hamonangan <[email protected]> menulis:
Dari: Agus Hamonangan <[email protected]>
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kekerasan atas Nama Pendidikan
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 22 Februari, 2009, 7:57 AM

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/22/01340087/kekerasan.atas.nama.pendidikan


Sudah lama SD swasta menerapkan seleksi masuk terhadap anak-anak TK
yang akan masuk SD. Menurut pendidik Arief Rachman, sistem seleksi ini
diterapkan sejak SD swasta diserbu orangtua murid yang sudah menurun
kepercayaannya terhadap kualitas sekolah negeri.

"Tujuannya bagus, tetapi yang menjadi persoalan adalah materi tesnya
lebih mementingkan baca, tulis, hitung," kata Arief Rachman. Dengan
tes baca, tulis, dan berhitung (calistung), anak hanya dilihat
kemampuan kognitif atau intelektualnya saja. Padahal, anak masih
memiliki potensi kecerdasan sosial, emosional, spiritual, dan jasmani.

Psikolog perkembangan anak, Seto Mulyadi, bersikap keras terhadap tes
calistung. "Ini bentuk kekerasan terhadap mental anak dengan
mengatasnamakan pendidikan," tegas Seto.

Seto berpesan kepada orangtua agar tidak terlalu cepat menjejalkan
pelajaran calistung kepada anak, terutama anak usia di bawah tujuh
tahun. Jika anak di bawah tujuh tahun sudah dipaksa membaca, maka anak
akan kehilangan kesempatan mengembangkan kecerdasan emosi dan sosial
yang seharusnya berkembang pesat saat anak berumur 4-6 tahun.

"Masalah akan muncul ketika anak menginjak kelas VI SD atau awal SMP.
Ketika berhadapan dengan lingkungan, anak tidak memiliki ketahanan
mental karena kecerdasan emosi dan sosialnya tidak berkembang," kata
Seto. Anak semacam ini rentan terlibat kenakalan remaja atau mudah
depresi.

Menurut Seto, sistem seleksi yang mensyaratkan anak TK sudah harus
bisa calistung menyebabkan para guru di sekolah TK terpaksa memaksa
anak didiknya belajar calistung. Padahal, seharusnya TK menjadi tempat
bermain dan belajar bersosialisasi bagi anak-anak.

Di Sekolah Pesona Alam Green School, Tangerang, misalnya, murid TK B
sudah diajarkan cara menghitung bersusun. Padahal, anak-anak belum
mengenal konsep bilangan satuan dan puluhan.

Anggiya Septyana dari bagian penelitian dan pengembangan sekolah
tersebut mengatakan, sekolah alam sebenarnya lebih mengedepankan
pembentukan karakter anak, daya cipta, dan imajinasi. Akan tetapi,
karena sekolah itu belum memiliki sekolah dasar dengan konsep sama,
mereka terpaksa mengajarkan anak didiknya calistung agar bisa
bersekolah di SD lain. (IND)

Kirim email ke