Ini percakapan dalam bahasa bahasa Jawa dialeg Surabaya (Suroboyoan) antara
saya dan kakak ipar saya ketika melihat berita olahraga pagi di salah satu
stasiun TV. FYI,kami berdua ini penggemar berat sepakbola,suka nonton juga
suka memainkannya. Jadi menurut pikiran sederhana mestinya kami berdua ini
girang bukan kepalang, tapi apa lacur,seseru apapun sepakbola buat
kami,kenyataan yang dihadapi sehari-hari selalu menyadarkan kalau itu cuma
permainan. Sehingga komentar kami begini :

*"halah main 'ae gak enthos,arep dadi tuwan rumah barang..."*
(main saja tidak becus,mau jadi tuan rumah segala)

argumen yang sejenis seperti diajukan oleh Tinton,Tommy dkk ketika membangun
sirkuit balap Sentul dulu. Kemajuan Indonesia hanya terjadi ketika fundamen
ekonomi benar-benar diperbaiki, bukan dengan, lagi-lagi, proyek mercusuar
seperti ini.

Malaysia sukses dengan sirkuit Sepang-nya ketika memang fundamen ekonomi
mereka telah siap, toh Sepang juga bukan proyek yang terlalu fantastis
mengingat jangka waktu penggunaannya yang lama.

China sukses dengan olimpiade Beijing ketika target-target pambangunan
ekonomi mereka telah tercapai bahkan dilampaui dengan munculnya booming,
olimpiade mereka fungsikan cuma sebagai "coming out party" (mengutip
kata-kata majalah National Geographic),dengan kata lain itu cuma ujung kecil
dari ke-raksasa-an ekonomi-nya.

Lha kita Indonesia dimana posisinya?ini bukan bersikap pesimis loh ya, tapi
sejujurnya, kondisi ekonomi kita belum ada bau-bau bakal booming ataupun
tumbuh melesat seperti ketika China mencalonkan diri jadi tuan rumah atau
ketika Malaysia merencanakan pembangunan Sepang. Tingkat pertumbuhan ekonomi
kita sekarang berapa?,peringkat keamanan investasi Standard's n Poor's kita
berapa?proyeksi GDP,GNP,FDI kita tahun 2022 berapa?

Oke,motivasi sih motivasi,tapi kita ini sedang ber-negara bung,bukan sedang
mengelola bootcamp yang memang didalamnya penuh dengan permainan ice
breaking untuk menceriakan suasana ala training AMT gitu. Motivasi kita
wujudkan dalam bentuk program-program pembangunan yang teratur,tepat sasaran
dan akuntabel. Jika parameter-parameter fundamen ekonomi dan keamanan kita
bagus,hal-hal seperti penunjukkan tuan rumah acara-acara besar dunia akan
mengikuti, seperti juga apa yang terjadi pada Malaysia (MotoGP dan F1 GP),
China (olimpiade), India (kejuaraan dunia cricket), Thailand (Asian X
Games).

So first thing first,kita tidak lagi butuh pemimpin kebijakan-kebijakan
flamboyan,tapi pemimpin dengan "ruthless efficiency" seperti Lee Kuan
Yew,Mahathir Mohammad,Jiang Zemin.



2009/2/23 pamungkas <[email protected]>

>   Untuk point 1,2,3 SETUJU
> Untuk point 4,5,6 BELUM TENTU
> Untuk point 7,8,9 TERLALU TEORITIS
>
> Sebelum menjadi tuan rumah, kita harus meng-ajar dahulu suporter2 kita.
> Jangan sampai keahlian jadi "tukang timpuk" makin hebat saja.
> Karena sarana untuk menimpuk makin terbuka peluang.
> Kalau kita belum bisa meng-ajar supporter, sebaiknya jangan dulu jadi tuan
> rumah.
> BISA RUNYAM URUSANNYA, NAMA INDONESIA BISA JELEK.
>
> Wasalam
> pamungkas

Kirim email ke