Kalau saya pribadi memberikan sumbangan sejumlah 25 milyard (?) saya malu nama saya dipajang di Universitas. Kalau perlu saya tidak dikenal oleh mereka2 yang menerima sumbangan. Itulah tabiat para penyelenggara pemerintah kita saat ini. Semua mau terkenal walaupun dengan DO IT.
Salam BS --- On Tue, 2/24/09, firdaus cahyadi <[email protected]> wrote: From: firdaus cahyadi <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] (Berita Duka Cita) Salah Satu Cara ITB Mencari Uang Meskipun bukan alumni ITB, saya prihatin membaca artikel di bawah ini..tragis..Inikah dampak nyata dari BHMN??????????? ___________________ Februari 18, 2009...4:10 pm Gedung Benny Subianto Dimana Ya? Sumber: http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/02/18/gedung-benny-subianto-dimana-ya/ Kalau anda datang ke kampus ITB nanti, jangan kaget kalau beberapa gedung di kampus Ganesha diberi nama dengan nama-nama orang. Ada nama yang mungkin terasa asing, ada pula nama yang beken. Atau, jangan kaget kalau ada orang luar datang ke kampus bertanya begini, “Mas, mas, Gedung Benny Subianto di sebelah mana ya?” Gedung Benny Subianto? Ya, itulah nama Gedung LabTek V tempat Prodi Informatika dan Fakultas FTI berada. Melalu SK Rektor terbaru, empat gedung di tengah kampus (Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII) diberi nama dengan nama alumni. Gedung LabTek VI (yang merupakan lokasi Prodi Teknik Fisika dan Teknik Kelautan) diberi nama Gedung Teddy P. Rachmad. Sementara Gedung Labtek VII (lokasi Prodi Farmasi) dan Gedung LabTek VIII (tempat Elektro dan Fakultas STEI) diberi nama Gedung Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro. Selama ini di ITB banyak gedung yang diberi nama dengan sebutan “LabTek” (Laboratorium Teknologi). Mulai dari Gedung LabTek I, II, hingga XII. Kadang-kadang nama gedung itu susah diingat dimana lokasi fisiknya. Coba jawab, dimana gedung LabTek I, II, atau III? Saya sendiri tidak tahu yang mana gedung-gedung itu, apalagi orang luar (pendatang) ya. Tapi, kalau disebutkan Prodi apa di gedung itu, saya rasa banyak orang di kampus ini bisa menunjukkannya. Sekarang nama-nama gedung itu akan diganti dengan nama-nama alumni ITB supaya mudah diingat. Tentu tidak sembarang alumni namanya bisa diabadikan menjadi nama gedung. Hanya alumni yang menyumbang dana Rp 25 milyar (Haaa! 25 milyar?) yang bisa diabadikan namanya. Ceritanya begini, pada bulan Agustus 2008 yang lalu ITB melakukan penggalangan Dana Lestari. Acara itu dihadiri oleh puluhan alumni yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Dari malam penggalangan dana itu, berhasil diperoleh komitmen Rp 100 milyar yang disumbang oleh empat orang alumni “kelas kakap”, yaitu Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Teddy P. Rachmad, dan Benny Subianto. Masing-masing mereka menyumbang 25 milyar. Fantastis! Dua nama tersebut sudah dikenal luas, yaitu Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro. Kalau dua orang yang lainnya, yaitu Benny Subianto dan Teddy P. Rachmad, saya sama sekali tidak kenal dan tidak pernah mendengar sepak terjangnya. Kuper sekali saya ini. Siapa dua orang itu ya? Apa nama perusahaan milik mereka? Halo..halo, adakah yang bisa memberitahu? Yang jelas Benny Subianto bukan alumni IF (belum ada alumni IF yang menjadi pengusaha kakap), tahu-tahu namanya sudah dilekatkan ke gedung tempat Prodi IF berada. Memberi nama gedung dengan nama alumni sudah biasa dilakukan di perguruan tinggi lain. Nama alumni yang dipilih memang yang sangat berjasa bagi perguruan tinggi itu, dan biasanya nama mereka diabadikan sesudah alumni tersebut meninggal dunia. Untuk mengenang jasanya, maka diabadikanlah namanya sebagai nama gedung, nama lab, atau nama lainnya di lingkungan kampus. Tapi, di ITB lain sendiri, nama alumni diabadikan sebagai nama gedung karena faktor uang dan alumni tersebut masih hidup. Satu-satunya nama alumni yang sudah meninggal dan diabadikan di dalam kampus adalah Galeri Soemardja di Fakultas Senirupa dan Desain (FSRD). Oh iya, ada satu lagi sih tapi ruang kuliah yang bernama Ruang Boscha di jurusan Fisika. Memang sah-sah saja sih saya kira cara begitu, sekarang ini perguruan tinggi yang berlabel BHMN memang harus memeras otak untuk mencari uang buat dana operasional pendidikan yang kian tahun kian melambung. Subsidi Pemerintah tidak bisa diandalkan lagi. SPP atau uang sumbangan dari mahasiswa juga tidak bisa diandalkan karena SPP hanya menyumbang kurang dari 10% dari dana pendidikan tinggi. Karena itu, menghimpun Dana Lestari ini saya kira ide brilian juga. Jika Dana Lestari yang nilainya em-em-an disimpan dalam bentuk deposito, berapa tuh ya labanya per bulan? Yah, anggaplah semacam tabungan bagi ITB, untuk jaga-jaga kebutuhan operasional pendidikannya. Hanya saja, karena nama gedung di kampus ITB dikomersilkan seperti itu, pasti ada negatifnya. Nama-nama “pahlawan” yang berjasa bagi ITB dan telah mengharumkan nama ITB bakal tersingkir diabadikan di almamaternya. Pahlawan yang dimaksud mungkin Rektor ITB zaman dulu yang dicintai banyak orang, seperti alm Pak Dodi Tisnaamijaya yang legendaris itu (benar gak ya namanya itu), nama dosen yang gugur di medan perang (ada nggak ya?) atau gugur di medan tugas, nama alamamater ITB yang sudah mendunia karena penemuannya tetapi sudah almarhum (ada satu contohnya yaitu mantan presiden B.J Habibie, tetapi B.J Habibie kan masih hidup), dan lain-lain. Mereka-mereka — “pahlawan” yang saya sebutkan tadi — mungkin tidak meminta namanya diabadikan di dalam kampus (lha, sudah “di alam sana” gimana mau meminta) tidak juga keluarganya yang meminta. Tetapi, kita-kita yang masih hiduplah yang perlu menyatakan terima kasih dengan cara mengabadikan namanya di dalam kampus. Dengan begitu kita yang masih hidup menjadi orang yang tidak melupakan sejarah. Bagaimanapun, sejarah adalah bagian perjalanan sebuah kampus seperti ITB, dan ITB menjadi besar dan terkenal (mode narsis) seperti ini karena mereka-mereka juga. Masih ada 8 gedung LabTek lagi yang belum diberi nama, dan masih banyak gedung-gedung lain (yang bukan LabTek) yang tidak bernama. Mungkin nanti Gedung TVST, Gedung Oktagon, Gedung GKU Timur dan Barat akan berganti nama dengan nama-nama alumni “kelas kakap”. Hayo.. hayo para alumni, siapa yang ingin namanya diabadikan di kampus almamater? 25 M, 25 M. He..he
