Kalau kesalahannya akibat seperti yang anda katakan, ributnya gak bakal kenceng 
pak.
Tapi masalahnya hal tersebut terjadi justru pada masyarakat yang tidak 
berpindah tempat dan minimal sudah ikut sejak Pemilu 1999, Pemilu 2004 dan 
Pilkada 2007 - 2008, tetapi namanya tidak tercantum di pemilu 2009.
�
Kalau ini hanya terjadi di Jawa Timur saja, kita bisa bilang bahwa KPUD Jatim 
tidak becus kerja.
Tapi kalau kekacauan DPT ini terjadi diseluruh Pelosok Indonesia (berdasarkan 
berita di Metro TV), pertanyaannya adalah:
Apa iya seluruh anggota KPUD di Indonesia bodoh semua.
Ini masalah kebodohan petugas KPUD diseluruh Indonesia atau memang ada Rekayasa 
Tingkat Tinggi untuk mengacaukan DPT dengan cara mengkambing hitamkan 
masyarakat di seluruh Indonesia?
Jika ini memang ada Rekayasa Tingkat Tinggi, pasti yang melakukannya adalah 
kelompok politik yang punya akses ke Depdagri dan juga Departemen Keuangan, 
karena salah satu penyebabnya, menurut anggota KPU�adalah anggaran untuk 
verifikasi�data pemilih sengaja tidak diturunkan atau diturunkan tetapi sudah 
sangat terlambat.
�
Setelah tahu terjadi kekacauan DPT, pada detik terakhir menjelang pelaksanaan 
pemilu 9 April 2009, SBY sebagai kepala Pemerintahan tetap membantah bahwa DPT 
bermasalah dan menuduh pihak yang meragukan keabsahan DPT hanya ingin membuat 
kekacauan dalam Pemilu ini.
Untuk itu SBY mengancam akan menindak tegas pihak yang akan membuat kekacauan 
ini.
�
Tetapi setelah media massa melaporkan bahwa benar terjadi kekacauan DPT di 
seluruh Indonesia, sampai hari ini belum ada komentar dari SBY maupun pejabat 
yang berwenang atas kasus ini.
Yang ada baru pernyataan Ketua KPU untuk mempersilahkan masyarakat menuntut KPU 
atas kekacauan DPT kepada pihak yang berwenang.
�
Ketua KPU menyatakan bahwa kekacauan DPT bukan tanggung jawab KPU karena KPU 
menerima data kependudukan dari Depdagri, verifikasi data tidak dapat dilakukan 
oleh KPU karena anggaran untuk itu tidak diturunkan oleh pemerintah, serta 
partisipasi masyarakat sangat rendah dalam membantu melakukan koreksi DPS 
sebelum menjadi DPT (para ketua RT di seluruh Indonesia minta dibayar untuk 
melaksanakan pekerjaan tersebut, sedangkan anggarannya tidak diturunkan oleh 
pemerintah, padahal anggaran tersebut sebelumnya sudah disetujui).
Jadi kekacauan DPT diluar tanggung jawab KPU.
�
Tetapi pertanyaan kepada Ketua KPU adalah:
Kalau sudah tahu KPU kesulitan melakukan verifikasi data pemilih karena 
keterlambatan turunnya dana, mengapa ketua KPU tidak melaporkan hal ini ke DPR?
Setiap kali ditanya, Ketua KPU selalu menjawab: Semua beres dan tidak ada 
masalah.
Apakah tindakan Ketua KPU ini adalah bagian dari upaya untuk mendiskreditkan 
SBY sebagai Kepala Pemerintahan?
Kalau jawabannya Ya, kira - kira apa kepentingan Ketua KPU atas�kekacauan 
DPT�tersebut?
�
Salam,
�
Adyanto Aditomo
--- Pada Jum, 10/4/09, ajud ajudri <[email protected]> menulis:


Dari: ajud ajudri <[email protected]>
Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kisruh DPT, Manajemen yang Buruk atau 
Kesengajaan ?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 10 April, 2009, 3:00 PM








Salam.

Kesemrautan manajemen Data kependudukan, semua orang teriak tentang kesalahan 
pemerintah.. ...Tak pernah mau menyalahkan diri sendiri yang turut serta dalam 
mengacaukan semua ini.

Banyak diantara kita yang tidak disiplin melapor diri saat pindah domisili 
ketempat yang baru. Kadang melalui jasa orang lain, pakai jalan pintas tanpa 
pernah lapor RT, atau kelurahan. Karena merasa priyayi moderen mau nya langsung 
tembak ke kecamatan. Itu hanya contoh kecil....banyak lagi ketidak pedulian 
kita dengan aturan main manajemen kependudukan.

Alahkah baiknya kalau kita saling memperbaiki diri, saling mengingatkan, saling 
dukung, saling support, saling memuji, saling menghargai, Insya Allah kita akan 
mewariskan negeri yang besar buat anak cucu kita.

Kirim email ke