Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/05/22/13581432/boediono.memang.penganut.neoliberal



JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun bantahan demi bantahan diluncurkan oleh Boediono 
maupun pihak SBY sebagai pasangannya yang akan maju dalam pemilu presiden 
mendatang, sejumlah pengamat ekonomi keukeuh menilai Boediono memang menganut 
paham ekonomi neoliberalisme. Apa saja argumen yang mendasari klaim tersebut?

Mantan Menneg PPN/ Kepala Bappenas zaman Megawati, Kwik Kian Gie, mengatakan 
punya banyak catatan dalam rekam jejak Boediono sebagai pejabat publik. 
Sebagian besar langkahnya adalah 'menjual' sumber daya dan fasilitas publik 
kepada para investor. "Tanya pada Pak Boediono, dia berpendapat atau tidak 
ketika jalan raya yang mulus bebas hambatan itu harus dikenakan tarif tol, 
diserahkan kepada investor swasta, domestik maupun internasional. Oleh karena 
itu, investornya buat laba dan rakyat yang harus bayar tol!?" seru Kwik seusai 
diskusi bertajuk "JK-Win untuk Indonesia Adil dan Sejahtera: Ekonomi 
Kemandirian vs Ekonomi Neoliberal" di Jakarta, Jumat (22/5).

Padahal, menurut Kwik, di negara-negara besar di Amerika dan Eropa, seluruh 
fasilitas dan sumber daya publik dapat dinikmati rakyat secara gratis. Lalu apa 
lagi? Kwik kemudian menyebutkan beberapa pertanyaan yang patut dilontarkan 
kepada Boediono untuk membuktikan pria asal Blitar tersebut memiliki mazhab 
neoliberal.

"Betul atau tidak bahwa Boediono pro penjualan bahan bakar minyak (BBM) suatu 
waktu ketika Boediono menjabat sebagai Menteri Keuangan meski harganya tinggi? 
Betul atau tidak bahwa Boediono pro semua jalan bebas hambatan harus dikenakan 
biaya? Betul atau tidak bahwa Boediono menganggap barang-barang publik yang 
penting-penting menjadi ajang cari laba untuk investor asing?" tanya Kwik 
panjang lebar.

Pengamat ekonomi Hendri Saparini dari ECONIT memiliki pendapat serupa. Tiga 
pilar neoliberal, yaitu stabilitas makro, agenda liberalisasi, dan agenda 
privatisasi, yang dicetuskan dalam Washington Consensus menjiwai 
tindakan-tindakan Boediono.

Menurut Hendri, seorang penganut neoliberal tak akan meninggalkannya sedikit 
pun. Dalam pilar pertama, seorang neoliberal akan membuat kebijakan hanya demi 
stabilitas makro. Hendri menilai pernyataan-pernyataan SBY menunjukkan ciri 
ini. Pilihan kebijakannya pun demikian. Mazhab ini mengharuskan pengambilan 
kebijakan pengurangan atau pemotongan subsidi.

"Tidak salah jika dalam pidato, SBY mengatakan akan menekan inflasi dan ukuran 
stabilitas makro. Itu hanya akan menguntungkan kelompok kapital," tutur Hendri.

Belum lagi agenda liberalisasi dan privatisasi yang dilakukan oleh Boediono 
ketika menjabat sebagai Menkeu dalam masa pemerintahan Megawati dan Menko Ekuin 
dalam pemerintahan SBY. Misalnya, dalam penyusunan UU Migas. Hendri menilai 
pemerintahan SBY juga marak melakukan privatisasi. Bahkan, saat ini 40 Badan 
Usaha Milik Negara (BUMN) sudah didata untuk diprivatisasi, antara lain PT 
Krakatau Steel dan PT Kereta Api Indonesia.


KOMPAS.com Caroline Damanik 

Kirim email ke