http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/05/22/11051652/Faisal.Jangan.Pertentangkan.Neoliberalisme.dan.Ekonomi.Kerakyatan

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam usaha meningkatkan perekonomian nasional jangan 
pernah menciptakan hantu-hantu ekonomi. Hantu itu adalah sistem ekonomi 
neoliberalisme dan ekonomi kerakyatan. "Sebenarnya kedua hal ini tidak bisa 
dipertentangkan," kata Faisal Basri, pengamat ekonomi dari Universitas 
Indonesia dalam Diskusi Jurnalis "Menjawab Tantangan Ekonomi Politik Indonesia 
2009-2014", Jakarta, Jumat (22/5).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa neoliberalisme yang kerap dituduhkan melekat 
pada sosok Boediono adalah ideologi tentang ekonomi pro pasar dan swasta serta 
tidak ada dominasi negara. Menurutnya, saat ini tidak ada neoliberalisme murni 
yang diterapkan di negara mana pun di dunia ini. "Yang mendekati saja hanya 
satu, yaitu Hongkong," ungkap Faisal.

Dengan demikian, tambahnya, bukan Amerika Serikat yang menerapkan 
neoliberalisme. "Padahal, Amerika adalah negara yang sangat mengintervensi 
dalam perekonomiannya," jelasnya.

Sementara ekonomi kerakyatan, ungkap Faisal, adalah suatu prioritas kebijakan, 
apakah suatu negara memperhatikan kesejahteraan rakyatnya secara menyeluruh 
atau tidak. Dengan demikian, ekonomi kerakyatan ini bisa diterapkan di sistem 
ekonomi pro pasar maupun sosialis. "Maka bisa dipakai di Kuba juga bisa di 
Norwegia yang pro pasar," kata Faisal.


ONE 

Kirim email ke