saya pernah melihat sosok Budiono berjalan kaki dengan sendal jepit dari 
kantornya ke Mesjid untuk menunaikan ibadah sholat jumat. Sosok kesederhanaan 
hampir sama dengan pak KK...Jadi mungkin orang-orang yang iri saja dengan 
keberpihakan SBY untuk memilihnya sebagai Cawapres maka digelindinglah issue 
neoliberalisme...

 Best Regards









________________________________
Dari: Lisman Manurung <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 22 Mei, 2009 10:03:43
Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Boediono Memang Penganut Neoliberal?





Saya kurang yakin bahwa Boediono dapat dikategorikan sebagai pakar neo-liberal. 
Bahwa Boediono percaya perekonomian harus berjalan pada rel ekonomi pasar, 
sebagaimana kemudian telah dipercayai oleh pentolan Partai Komunis Cina, saya 
kira:  Yes.

Pada buku Boediono  mengenai pengantar ekonomi, (dan dibaca oleh puluhan ribu 
mahasiswa) yakni buku Seri Sinopsis Pengantar Ekonomi Mikro terbitan pertama 
sekali pada tahun 1982, Budiono menulis mengenai koperasi.(Dibaca: Washington 
consensus tidak menganjurkan penguatan koperasi)  Di dalam buku itu terdapat 
bab  XII. Koperasi Dalam Teori Ekonomi Mikro: Kasus Koperasi Produsen.

Cuma bedanya dengan kajian (politik) ekonomi normatif, yang menimbang masalah 
ketimpangan peran BUMN, sektor swasta dan koperasi, dari acuan moral/normatif,  
Boediono menjelaskan perspektif yang bersifat positifis/realistis . Menurut 
Boediono (Edisi ke-15: 1992:201) dalam bentuk pasar persaingan sempurna, 
koperasi masih mungkin timbul (bangkit gitu, Lisman), tetapi kelangsungan 
hidupnya diragukan, kecuali apabila ditopang dengan peraturan pemerintah yang 
membatasi produsen-produsen baru ....

Kesimpulan-1: Boediono menyarankan  peran (intervensi) pemerintah untuk 
menjadikan koperasi bangkit.

Selanjutnya, kritis namun saya pikir logis walaupun tidak merekomendasikan 
pemerintah atas nama kemaslahatan rakyat
yang tertindas, koperasi menurut Boediono (1992: Edisi ke-15: 202), 
satu-satunya landasan bagi pembentukan koperasi dalam bentuk pasar ini adalah 
untuk memperoleh manfaat economies of scale, external economies.

Maksudnya/Kesimpula n-2:  koperasi bekerja keras di sisi produksinya, dan 
dengan dukungan pemerintah tentunya, mengupayakan proses produksi (dus 
manajemen internal) yang seefisien-efisienny a, yang kemudian akan menimbulkan 
harga jual yang murah/kompetitif.

Nah,  karena ditulis tahun 1982 sebelum Cina masuk pasar bebas global (tetapi) 
memanfaatkan koperasi rakyat Cina untuk meningkatkan economies of scale, maka 
saya kira cara Deng Xio Ping cs menyiasati (mekanisme) pasar global  tidak jauh 
beda dengan ide/saran  Boediono.

Kirim email ke