Naah .. kalo gini pembicaraan kan agak jelas dikit, tinggal kita aja, mau ngga konsekwen berada dalam koridor pemikiran tertentu tanpa mencampur aduk serta tidak mengindahkan konsekwensi effect dari alur logika yang beda. Maksud saya gini: kondisi alur komunikasi yang dasarnya semata hirarchie alias satu arah dan tanpa harus ada proses "pencernaan", itu bisa di accept hanya diarea suasana yang dar-der-dor, yang kuat dan senior yang menang dan benar. Oleh karena itu quality control serta requirement dari "peralatan/sarana" yang digunakan pun tidak terlalu tinggi. Extreem nya, menggunakan senjata untuk menembak kepala seseorang, tapi yang kena orang sebelahnya atau bahkan sekalian yang nembak juga kena (asal jangan jendral), ga banyak ngaruh gitu lho. Tapi kalo analogie tersebut kita berlakukan untuk memungkinkan benda ratusan ton kaya gitu seliweran diatas area umum sambil ngompreng lagi, itu dimana-2 dinegara waras engga akan bisa ditolerir secara terbuka, hanya karena perintah atasan doang. Itu makanya hampir tidak pernah terlihat seorang berseragam komplit dengan segala potensi mematikannya itu, seliweran/petantang-petenteng ditempat umum? Salam, Bodo
--- In [email protected], Yuliati Soebeno <yuliati_s...@...> wrote: > > Itulah Indonesia, Bung Adyanto. Komandan itu hanya tahunya "harus", anak buah > harus selalu menurut perintah atasan, tidak meneliti dahulu apakah ada > masalah yang besar nantinya akan dihadapi, jika ada anak buahnya menolak > perintah karena sesuatu alasan. > > Lha wong dikantor-kantor sipil saja sering begitu, apalagi jika dikalangan > militer Indonesia? Komandan itu hampir seperti "tuhan", ditakuti oleh > anak buahnya, dan sering hal-hal yang kurang beres ditutup-tutupi oleh > bawahan, agar anak buah kelihatan "kinclong" dengan tugas-tugasnya. Padahal > akibatnya bisa fatal. > > Salam, > Yuli
