http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/12/22454373/Aulia.Merasa.Jadi.Korban.Konspirasi.Politik



JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aulia Tantawi 
Pohan mengatakan dirinya adalah korban konspirasi politik sehingga terjerat 
kasus dugaan korupsi dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) 
sebesar Rp 100 miliar.

"Nuansa politis itu sangat pekat," kata Aulia ketika menyampaikan pembelaan 
dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (12/6). Aulia 
menegaskan, posisinya sebagai besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan 
komoditas politik yang bisa dimanfaatkan pihak yang hendak memetik keuntungan.

Aulia menjelaskan, ada pihak yang berusaha menghancurkan nama baik keluarga 
besarnya dengan menjeratnya sebagai terdakwa dalam kasus dugaan tindak pidana 
korupsi. Selain itu, Aulia menegaskan ada pihak yang ingin mendapat nama baik 
karena berani menjerat seorang besan presiden.

Meski sebagai kerabat presiden, Aulia mengaku tidak mendapat perlindungan dan 
perlakuan khusus untuk menghadapi kasus yang sedang menimpanya. "Saya tidak 
pernah mendapat perlindungan dari presiden," kata Aulia.

Menurut Aulia, konspirasi untuk menjerat pimpinan BI berawal sejak tahun 2000. 
Saat itu, tekanan publik terhadap BI sangat besar akibat skandal Bantuan 
Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). "Di balik tekanan itu ada kepentingan politik 
yang ingin mengganti semua Dewan Gubernur BI karena Gubernur BI ada dalam 
tahanan dan Dewan Gubernur tidak dipercaya lagi," kata Aulia.

Aulia menceritakan, penguasa saat itu sudah merancang skenario untuk melakukan 
"pembersihan" di tubuh BI. "Berdasar info yang saya peroleh dari pejabat tinggi 
negara, ternyata dibalik kemunduran itu ada skenario besar yang telah dirancang 
dengan sangat matang," kata Aulia.

Penguasa saat itu, kata Aulia memaksa pimpinan BI untuk mundur dan berusaha 
mengganti dengan pemimpin baru. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar 
Nasution adalah salah satu calon yang saat itu disebut-sebut akan menjadi 
petinggi BI yang baru. Namun, pada prosesnya Anwar gagal menjadi petinggi BI. 
Menurut Aulia, hal itu meninggalkan suasana persaingan atau rivalitas antara 
pimpinan BI yang lama dan Anwar Nasution.

"Jadi ini bukan semangat pemberantasan korupsi, melainkan bentuk rivalitas," 
kata Aulia. 
Aulia merasa tidak melakukan tindak pidana korupsi. Penggunaan dana YPPI 
sebesar Rp100 miliar diputuskan dalam forum resmi bermana Rapat Dewan Gubernur.


WAH 
Sumber : Antara

Kirim email ke