Yth Rekan milis,

Memperhatikan kecelakaan pesawat di Indonesia,saya jadi teringat diskusi kecil
antara Prof Baiquni dan pak Habibie yang saat itu menjadi Menteri Riset dan 
Teknologi.

Sewaktu menentukan DRO,Design and Requirement for Operation dari Instalasi 
Nuklir 
di PUSPIPTEK, Serpong,pak Baiquni menguraikan bahwa Keselamatan/Safety dari 
sistem nuklir yang memerlukan jaminan kwalitas (Quality Assurance) mulai dari 
design,konstruksi,operasi dan perawatan, yang disingkat sebagai Pertahanan 
Berlapis/Defense in Depth.
Hal ini perlu diperhatikan, mengingat budaya perawatan di Indonesia yang masih 
kurang.
Banyak yang mengira asal sudah punya alat/mesin tertentu yang canggih/mahal 
namun biaya operasi dan perawatan tidak terperhatikan.
Demi keselamatan yang tinggi peralatan kritis harus mempunyai 
redundansi,seperti sistem kontrol dan sistem pendingin untuk PLTN,berlaku 2 
(two) out of 3 (three) redundancy.
Kalau kita misalnya biasa dengan rem mobil hanya 1,mungkin ada 2 dengan rem 
tangan,
maka untuk sistem PLTN harus ada 3 rem yang berfungsi sama,dari 3 sistem 
paralel, dan seandainya ada satu saja tidak berfungsi maka sistem tidak boleh 
dioperasikan.
Semuanya bertujuan untuk mempertinggi "safety,reliability dan availability" 
dari sistem.
Untuk komponen kritis ada "stamp Nuclear Quality" untuk meyakinkan bahwa 
komponen
atau suku cadang betul memenuhi kwalitas,jadi tidak boleh main-main dengan suku 
cadang.

Pak Habibie juga mengatakan hal yang sama dalam design pesawat terbang, mulai 
dari design,konstruksi,operasi dan perawatan harus prima pula,sesuai dengan 
manual dan standard yang ketat dan pengujian dan sertifikasi yang ketat yaitu 
dari FAA.
"Safety,relability dan availability" menjadi perhatian utama pula,karena 
pesawat harus bisa 
ekonomis dan aman untuk bisa beroperasi.

Pada kesempatan tersebut saya komentar kepada pak Habibie,...menurut saya,lebih 
sulit mendesign PLTN dari pada pesawat terbang.Dari diskusi santai,pak Habibie 
langsung
secara berapi-api berceritera pula tentang tantangan dalam design dan pembuatan 
pesawat dengan penuh semangat yang menggebu menegasi....lebih sulit design 
pesawat.

Setelah pensiun dari BATAN, saat ini saya sedang mendesign semacam pesawat 
terbang yaitu WIG,wing in ground effect,alat transport dilaut yang bisa 
mencapai 180 km/jam,
dengan melayang sekitar 2 hingga 3 meter diatas laut/air.Suatu teknologi yang 
sudah pernah dicoba di Jerman dan Rusia namun belum sampai dimanfaatkan untuk 
komersil.
Kalau dipakai untuk TNI lumayan juga untuk mengejar kapal Malaysia di Ambalat.

Dari pengalaman saya di dua dunia, nuklir dan aeronautika,maka saya diskusi 
dengan teman-teman mantan PT DI,........bahwa ternyata pak Habibie benar.

Mengapa ?
Oleh karena pesawat meskipun sudah seaman apapun sistemnya,masih ada satu 
tantangan lain yang sangat dinamis yaitu alam, cuaca,angin,hujan dll.
Karena sistem pesawat maupun nuklir begitu kita tahu sifatnya dengan menghitung 
dan validasi transfer function-nya,maka kita bisa mengendalikan sistemnya 
dengan baik.
Untuk PLTN sesuatu yang merupakan fungsi luar sistem yang sudah diantisipasi 
adalah kekuatan seismik,tsunami yang harus dimasukkan dalam design.
Seperti gempa yang sudah terjadi di Jepang,PLTN-nya tidak ada yang terganggu 
sistemnya.Yang terganggu adalah sistem diluar PLTN seperti gardu dan 
transmisinya.
PLTN dirancang untuk shut-down secara otomatis pada seismik 7 Richter misalnya 
,tergantung regulasi negaranya.
PLTN tidak jalan-jalan seperti pesawat,sehingga alam yang dihadapinya lebih 
statis dan tidak dinamis seperti yang dihadapi pesawat.

Sebagai penutup kami ucapkan turut berduka cita atas gugurnya putera terbaik 
tanah air dalam kecelakaan pesawat TNI, dalam beberapa waktu terakhir ini.

Salam Hormat,
Bakri Arbie.






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke