Jika kita masih terus berkubang dengan perpolitikan dan birokrasi yang korup, 
maka ribuan kantung-kantung birokrat dan politisi akan menjadi semacam kantung 
yang tidak ada habis-habisnya untuk diisi. Akibatnya negara kita tidak punya 
uang untuk membangun sarana pendidikan yang baik, menggaji guru dengan layak 
serta jeleknya akan terus membiarkan penyakit korupsi meraja-lela. Pendidikan 
yang buruk akan membuat tidak adanya ahli yang berdisiplin tinggi, dan kemudian 
 birokrat akan terus lemah karena tidak dapat memusatkan perhatian kepada 
pekerjaan. PNSnya Malaysia tidak ingin memperpanjang masa pensiun, karena 
pensiun mereka adalah terima kasih kerajaan atas pengabdian mereka: cukup 
bahkan berlebih. PNS kita dihantui masa pensiun yang menderita, dan memang, 
akibatnya PNS harus berusaha korupsi asal jangan ketahuan. Akhirnya kita 
tertinggal dari Malaysia secara iptek.


Gagalnya kita memberdayakan pendidikan kita, telah dimanfaatkan Malaysia dengan 
menarik ribuan pengajar dari RI seusai reformasi. Dengan gaji yang layak, 
perguruan tinggi mereka dibangun oleh ribuan dosen Indonesia yang memilih 
bekerja di Malaysia. Hasilnya ialah pengembangan iptek mereka  di sana, yang 
jauh lebih baik dari sistem pendidikan kita sekarang ini.

Bahkan sekarang ini, mereka dengan enteng memberikan kemudahan bagi warga kita 
untuk mencapai doktor, dengan biaya yang murah lagi. Jangan terburu-buru bahwa 
biaya murah itu tidak menyimpan agenda untuk kepentingan mereka!. Perguruan 
tinggi Malaysia menggunakan standar kualitas yang tinggi untuk peserta program 
doktor dari Indonesia. Mereka menggenjot para kandidat untuk membuat penelitian 
yang bersih, bermutu dan bertanggung-jawab. Untuk apa? Untuk memperoleh 
informasi yang berkualitas tinggi dari penelitian-penelitian itu. Dengan 
begitu, para guru besar di sana adalah ahli-ahli mengenai Indonesia. Alasannya 
apa? Alasannya simpel. Mereka meneruskan keyakinan dari zaman batu: Knowledge 
is power.

Jadi, jika tidak ingin lalah dengan Malaysia, maka perbaiki situasi mu agar 
mampu menyiapkan diri untuk unggul di peperangan. Jangan lupa, untuk menjaga 
ketenteraman ASEAN 2015 maka Indonesia harus lebih unggul, baik dari segi 
senjata maupun SDM.  Dan untuk lebih unggul,  maka pemerintahan 2009-2014 harus 
mengutamakan pemberantasan korupsi, yang harus seiringan dengan dengan 
perbaikan kinerja birokrat dan pendidikan nasional.

Kutanyalah dulu kau! Sedihkah pihak-pihak yang berpotensi konflik dengan RI 
mendengar kisah berjatuhannya pesawat TNI yang menewaskan perwira-perwira 
terbaik itu?

Itu dululah, daripada sibuk mengumpulkan sukarelawan untuk mengganyang 
Malaysia! Jangan-jangan sukarelawan yang akan diseludupkan ke sana akan 
ditangkapi tetapi kemudian oleh mereka dibikin sehat-sehat, (seperti langkah 
mereka mengupah TKI kita), yang lantas kemudian dikirim pulang lagi ke sini ...









--- On Sat, 6/13/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

> From: [email protected] <[email protected]>
> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Wuih... Malaysia Juga Rendahkan 
> Pendidikan Kita
> To: "Forum Kompas" <[email protected]>
> Date: Saturday, June 13, 2009, 12:56 PM
> Saya setuju dan sangat mendukung
> kebijakan ini.Boleh kalau mau masuk lewat jalur lain asal
> biaya nya jauh lebih tinggi dari mahasiswa Indonesia.Selama
> ini mereka ambil keuntungan dg biaya murah di
> Indonesia,tetapi setelah lulus mereka balik ke negara nya
> dan berusaha menarik pasien dari Indonesia.Ingat pada era
> nanti mereka bisa saja ber praktek di Indonesia. 
>           Wassalam...
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL,
> Nyambung Teruuusss...!

Kirim email ke