Name : Rully Ferdiansyah
Addres : Komp. Pemda, Blok A-8, RT01/RW07, Cinanggung,
Kelurahan Kaligandu, Serang-Banten, 42151
Phone Number : (0254)220668/085214274895
dengan tulisan ini pula saya lampirkan foto saya dan file PDF Koran Banten
edisi 45.
Bahaya Laten, Mafia Pers di Banten Melebarkan Sayap
Ketika mengendarai sepeda di pagi hari, terdapat tanda perboden, dimana ada
hajatan pernikahan yang membuat jalan tak bisa dilewati. Karena jalan yang di
perboden, saya terus pula mengayuh sepeda di jalan lain melintasi alun-alun
kota, yang dipenuhi oleh orang-orang berusia paruh baya melakukan senam jantung
sehat (Tai Chi). Sejenak saya berhenti untuk melihat gerakan Tai Chi yang
gemulai itu, bagaikan puisi dalam gerakan. Dan terus melaju dibawah sinar
matahari pagi yang lembab oleh embun, melewati bangunan kantor Asuransi paling
ujung, dan terus mengayuh ke jalan raya yang lurus mendaki, naik dan turun.
Kota Serang adalah kampung halaman saya, tetapi ketika itu adalah hari Minggu
pagi, orang-orang masih berkumpul di alun-alun untuk berolahraga, belum pula
melakukan misa di gereja, sedap sekali melihat seluruh daerah ini dengan
sepeda. Pada warung kopi yang terdapat di halaman mesjid agung, saya memutuskan
untuk berhenti untuk meminum segelas kopi hangat sambil membaca koran. Koran
itu bernama Koran Banten, koran tersebut terbitnya seminggu sekali, pemiliknya
bernama Firdaus Ansueto, dia adalah pemilik majalah bernama Teras yang
beroperasi di Cilegon, Koran Banten adalah sebuah perusahaan fiktif yang
mempunyai misi untuk mecari keuntungan pribadi, yakni keuntungan Firdaus, dan
di Koran itu pula saya pernah bekerja menjadi wartawan.
Saat saya membaca Koran Banten, saya sudah merasa tak heran lagi, isinya tidak
ada yang menarik, beritanya hanya Copi-an dari berita koran harian. Tetapi,
yang lebih menarik dari Koran Banten adalah cerita di balik pendirian koran
itu, dan sebelum Firdaus mendirikan Koran Banten, Firdaus sudah besar dan
berada di puncak karena majalah Teras-nya. Masih teringat jelas sekali oleh
saya, bagaimana Firdaus menjalankan misinya dari majalah Teras. Kalau ingin
menjadi penipu, kita janganlah melakukannya setengah-setengah, ketika kita akan
main di ring satu, karena resikonya besar, ketika orang-orang besar
memerintahkan anak buahnya untuk menghajar kita, ada yang dari golongan
pendekar, ada yang dari aparat, bahkan pembunuh bayaran. Begitu pula dengan
Firdaus, dalam melaksanakan operasinya, ia tidak tanggung dalam melakukannya.
Ketika Firdaus mendirikan majalah Teras pada tahun 2000, ia mendirikannya
dengan susah payah, alias dengan modal dengkul.
Beruntung ia memiliki istri yang bekerja menjadi perawat, sehingga bisa
mem-Back-Up kebutuhan sehari-harinya di rumah tangganya, ketika ia merintis
majalah Teras. Karena merasa tak snggup lagi untuk membiayai perusahaa
majalahnya, Firdaus memutuskan untuk bermain di LSM di Ciwandan bernama
Al-Sabeni. LSM itu dipimpin oleh Kyai Asbeni. Ketika bermain di LSM Al-Sabeni,
Firdaus mengaku sebagai aktivis lingkungan dan peduli terhadap tenaga kerja
lokal, yang tidak terserap oleh industri di Ciwandan. Karena visi misi Firdaus
yang terdengar mulia itu, para anggota LSM Al-Sabeni menyambut kehadiran
Firdaus. Di LSM itu, Firdaus menawarkan ide agar memberitakan kasus
industri-industri di Ciwandan di majalah Teras-nya, dan LSM Al-Sabeni menjadi
narasumbernya atas berita itu. Ide itu disetujui oleh LSM Al-Sabeni.
Setelah berita itu dimuat beberapa kali di majalah Teras, berikut dengan aksi
demontrasi yang dilakukan LSM Al-Sabeni, tentu dengan hasil seting-an Firdaus
untuk pemberitaan yang eksklusif, perusahaan-perusahaan industri di Ciwandan
dibuat gerah. Akhirnya semua perusahaan-perusahaan di Ciwandan memberikan
anggaran melalui CSR-nya (Corporate Social Responsibilities) pada LSM Al-Sabeni
dan Majalah Teras, sebagai bukti kepedulian industri-industri di Ciwandan
terhadap masyarakat lokal, dan media lokal. Majalah Teras akhirnya tidak pernah
kesulitan lagi memikirkan biaya cetak, dan Firdaus juga mendapat keuntungan
bisa bermain di Ring 1, ia bisa mempunyai relasi manajer-manajer perusahaan,
yang kemudian bisa ditarik iklan Advertorial, hingga sekarang Firdaus masih
menikmati anggaran dari CSR industri di Ciwandan. Maka tidaklah heran, jika isi
majalah Teras, tidak ada berita yang ekslusif, kebanyakan adalah Advertorial
perusahaan dan profile manajer. Berbeda
dengan LSM Al-Sabeni, sejak perusahaan-perusahaan industri di Ciwandan
memberikan anggaran pada LSM itu, para anggota LSM Al-Sabeni lebih memilih
menjadi karyawan di industri di Ciwandan, dan jika sudah menjadi karyawan
perusahaan, kepedulian terhadap organisasi yang membesarkannya itu menjadi
hilang, karena tuntutan lembur dan target kerja perusahaan. LSM Al-Sabeni
akhirnya bubar, dan sejak itu pula Firdaus tidak pernah menginjakkan kakinya
lagi ke Ciwandan selain ke perusahaan industri untuk bertemu manajer.
Beberapa tahun kemudian majalah Teras akhirnya bisa membesarkan Firdaus secara
materi dan kedudukan sosial, meski majalah Teras itu masih dikatakan belumlah
besar, karena dalam oplah penjualannya tak pernah laku di loper-loper,
melainkan majalah Teras hanya habis karena diberikan pada setiap
perusahaan-perusahaan industri di Ciwandan, yang menjadi langganannya. Sebagai
majalah yang berada di propinsi Banten, majalah Teras hanya berkutat di Cilegon
saja. Selain itu tak pernah ada karyawan wartawan yang bertahan lama di Teras,
karena ego Firdaus yang besar. Jika kau mengenal baik Firdaus, kau bisa lihat
di boks redaksi majalah Teras, Firdaus kadang memasukkan nama anaknya yang
masih kelas 1 SD sebagai wartawan, itu karena saking tidak adanya pegawai di
Teras. Setelah merasa mendapat banyak keuntungan dari majalah Teras-nya,
terpikir dalam benak Firdaus untuk mendirikan Koran Banten di Serang,
memutarkan uang.
Pada hari diresmikannya Koran Banten, acara peresmian itu besar-besaran,
diadakan di Hotel bintang empat, Le Dian. Mulai dari Bupati Serang, Taufik
Nuriman hingga semua manajer industri di Ciwandan turut pula hadir. Dengan
posisinya sebagai sekretarsi PWI Banten, Firdaus memanfaatkan secretariat PWI
Banten sebagai kantor redaksi Koran Banten. Dengan secretariat PWI Banten
sebagai kantor redaksi, Koran Banten bisa aman untuk membuat berbagai
pemberitaan. Awal mula Koran Banten terbit, Firdaus merekrut salah satu mantan
wartawan Radar Banten yang handal, Aan Solihan. Dengan dijanjikan saham 20
persen dari Koran Banten, Aan tertarik bergabung ke Koran Banten. Banyak berita
heboh dan eksklusif yang dibuat Aan untuk Koran Banten. Dan banyak pula
karyawan Koran Banten yang percaya dan berteman dengan Aan, hal itu membuat
takut Firdaus yang mengidap penyakit Paranoid dan Megalomaniac (Itu belum
termasuk penyakit Maniac Sex-nya). Selain itu, Firdaus juga merasa
berita yang dibuat Aan belum bisa memberikan keuntungan banyak secara materi
padanya. Sesuai dnegan ajaran Komunis yang dianutnya yaitu AgiProp (Agitasi dan
Propaganda), Firdaus membuat isu di Koran Banten bahwa Aan adalah mata-mata
Radar Banten, yang disusupkan ke Koran Banten dengan misi penggembosan. Agar
yang bisa memecat Aan bukanlah dirinya, Firdaus memprovokasi Pemred Koran
Banten, Syafe’i. Aan akhirnya dipecat oleh Syafe’i dengan alasan mata-mata.
Sungguh dzalim, Syafe’i sebenarnya mengetahui bahwa sebelum Aan direkrut
Firdaus masuk Koran Banten, Aan sudah tiga bulan tak lagi menjadi wartawan di
Radar Banten. Tetapi ia tetap memecatnya juga, Aan akhirnya pulang ke Labuan,
Tanjung Karang dengan sakit hati. Aan bekerja di Koran Banten dengan penuh
harapan, tetapi berakhir seperti yang tidak ia bayangkan, seharusnya ia tak
mempercayai Firdaus.
Pada hari Aan dipecat, pada hari itu pula saya mulai bekerja di Koran Banten
sebagai wartawan. Tidak adanya Aan di Koran Banten, membuat Firdaus harus
mencari wartawan handal lain pengganti Aan. Dan ia merekrut mantan muridnya,
Dadi yang bekerja di harian nasional di Jakarta. Dadi tertarik bergabung ke
Koran Banten, dengan janji sama yang diberikan Firdaus ketika merekrut Aan
dahulu. Karena pernah berpengalaman menjadi manajer iklan di Fajar Banten, Dadi
diminta tolong oleh Firdaus untuk meramaikan iklan di Koran Banten, Dadi
menyanggupi dengan syarat hanya tiga bulan saja, setelah itu ia kembali menjadi
wartawan. Hal pertama yang dilakukan Dadi sebagai manajer iklan, ialah merekrut
sebanyak-banyaknya tenaga marketing, dan memberikan pelatihan marketing yang
intensif pada tenaga-tenaga marketing itu. Hasilnya iklan-iklan pun banyak
didapat dan bisa menutup biaya cetak.
Sementara itu, Firdaus bertemu mantan Dirut KS, Daenulhay. Menawarkan pada
Daenulhay agar menjadi investor di Koran Banten. Melihat iklan-iklan yang
bertaburan memenuhi setiap halaman di Koran Banten, Daenulhay tertarik, meski
iklan-iklan itu iklan salon, baso dan usaha informal lainnya. Tetapi Daenulhay
melihat ada potensi di Koran Banten. Pada saat Daenulhay hendak membeli saham
Koran Banten sebesar 80 persen, Firdaus menyarankan agar pembelian saham
dilakukan dengan cara dicicil, dengan alasan Koran Banten masih baru merintis,
jika suatu saat Koran Banten Collapse maka Daenulhay tidaklah terlalu rugi.
Untuk meyakinkan Daenulhay, Firdaus juga mengatakan “Bisnis media adalah bisnis
rugi, tidak seperti bisnis Franchise”. Entah bagaimana, tetapi Daenulhay setuju
dengan usul Firdaus, tiap bulan Daenulhay memberikan Rp. 20 Juta/bulan sebagai
pembelian saham dengan cara dicicil itu.
Setelah resmi Daenulhay menanamkan uangnya di Koran Banten, dengan alasan
operasional perusahaan, Firdaus membeli mobil Timor berwarna merah, dengan
tanda tangan anaknya daenulhay pada ceknya. Selain itu, Firdaus juga merehab
kantor majalah Teras-nya di Cilegon, apakah itu dibangun dari uangnya
Daenulhay, saya tidak tahu, yang pasti pembangunan kantor majalah Teras itu,
dilakukan setelah Daenulhay resmi menjadi investor.
Pada hari Daenulhay resmi menjadi investor. Pada hari itupula Dadi kembali
menjadi wartawan, bahkan ia diangkat oleh Firdaus menjadi Redaktur pelaksana di
Koran Banten. Saat ia menjadi Redaktur, Dadi menggarap berita kasus PT. Indah
Kiat karena usulan dari saya. Karena sudah mendapatkan Daenulhay sebagai
investor, Firdaus selalu mendorong Dadi agar selalu membuat berita Indah Kiat
tiap minggunya. Setelah beberapa kali berita Indah Kiat dimuat, Dadi akhirnya
dipecat dengan diisukan Firdaus, Dadi adalah seorang tim sukses PDI Perjuangan,
meski sebenarnya, Dadi menjadi tim sukses karena diinstruksikan Firdaus agar
bisa mempolitisir pemberitaan Indah Kiat. Karena Dadi dipecat, saya juga ikut
mengundurkan diri dari Koran Banten, saya berpikir, tujuan apa lagi yang harus
dipenuhi Koran Banten, ketika semua SDM-SDM terbaiknya dipecat Firdaus.
Sepeninggal saya dan Dadi, Firdaus mengharamkan iklan-iklan UKM seperti, Salon,
Baso, Mie Ayam, tukang urut dan tukang
memperbesar alat vital pada tenaga-tenaga marketing Koran Banten. Iklan-iklan
pun langsung melorot seperti bangunan yang rubuh. Karena tenaga-tenaga
marketing Koran Banten diwajibkan untuk mendapatkan iklan-iklan industri
seperti perbankan, Krakatau Steel dan lainnya.
Koran Bnaten akhirnya tutup, karena semua karyawannya mengundurkan diri, dan
investornya menarik investasinya di Koran Banten. Bagi Firdaus, hal itu
tidaklah jadi soal, karena ia sudah mendapatkan anak Bupati Serang menjadi
investor di Tabloid barunya yakni, Tabloid Duta Rakyat, meski tabloid itu tidak
pernah terbit-terbit, hanya ada kantornya saja, karyawannya tak ada.
Mungkin karena sudah merasa besar pula dari pemberitaan Indah Kiat, Firdaus
berencana mendirikan Koran Bekasi, Koran Aceh dan semua koran di semua propinsi
di Indonesia. Ia sudah membeli domain situs, untuk membuat situs web berita di
tiap propinsi.
Saya pernah menemui pengusaha besar di Banten, H. Embay dan menanyakan
pebdapatnya tentang Firdaus, ia mengatakan “Firdaus bukanlah wartawan murni. Ia
adalah kader PRD, dan PRD adalah sempalan Komunis, dan Komunis selalu melihat
orang berdasarkan obyek dan subyek, bukan cinta kasih seperti yang diajarkan
agama. Oleh karena itu, Firdaus takkan pernah bisa menjalankan bisnis media
secara murni bisnis,”
Sebelum saya keluar dari Koran banten, semua sudah tersimpulkan oleh saya dalam
tindak laku Firdaus sehari-hari. Dan kini, kenangan ini, bahkan setelah
mengenang saat-saat indah membuat pemberitaan kasus Indah Kiat, adalah kenangan
yang manis. Toh, setidaknya saya bisa menjadi orang pertama yang membantu warga
kampung Glinseng, yang hidupnya terisolasi dalam pabrik Indah Kiat,
mengangkatnya ke media cetak, meski itu pula dengan bantuan Dadi. Setidaknya
saya dan Dadi adalah orang pertama yang memberikan langkah konkret pada warga
kampung Glinseng, dalam menghadapi kedzaliman Indah Kiat, dengan mendatangkan
Wakil Ketua KomnasHAM, Ridha Saleh ke kampung Glinseng. Sebelum keadaan
berbalik menjadi buruk oleh Firdaus, kenangan bersama Firdaus bukanlah kenangan
yang manis.
Tetapi sekarang, meski saya telah memiliki pengalaman yang tak dimiliki orang
lain, saya masih menganggur. Meski sudah kukirimkan lamaran kerja ke harian
Fajar Banten, belum ada pula panggilan wawancara pada saya, ini karena saya tak
sempat membangun hubungan dekat dengan wartawan-wartawan di fajar Banten,
maklum saja, saya selalu dipindah-pindahkan pos kerja waratwan saya oleh
Firdaus. Apakah mungkin, karena saya terlalu istimewa, oleh karena itu belum
juga dipanggil di Fajar banten, entah Allah memiliki tujuan apa lagi pada saya,
yang jelas saya sudah cukup banyak membantu pada warga kampung Glinseng.
Lapangan kerja di Banten, yang saya tahu, tidak dapat dijangkau hanya dengan
pengalaman dan kualitas diri, melainkan oleh kekeluargaan, tak peduli siapapun
kita atau latar belakang kita. Maka, minum kopi di warung ini sudah selesai,
dan sudah tahu tujuan mana saya akan pergi, saya melihat sepeda saya yang
terparkir distandar berdampingan dnegan motor Tiger, melihat jalan-jalan
alternatif yang akan saya lewati, dan mengira-ngira nasib baik apa yang akan
menimpa saya besok. Satu hal yang pasti, hari ini saya akan pulang.
Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa
mendapatkan semuanya.
Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/
[Non-text portions of this message have been removed]