Salam ,
Kira2  30 puluh tahun yang lalu atau GENERASI PENERBANG TUA Indonesia sangat 
terkenal keterampilan, kecakapan dan keamamannya.
Di
sekolah2 penerbang di dunia, para calon pilot Indonesia selalu mendapat
rangking pertama atau minimal ke 2.Di KLM dibutuhkan 100 jam terbang
sebelum dapat dipercaya menjadi captain pesawat KLM tetapi pilot
Indonesia hanya membutuh 15 sampai 25 jam saja.Di Fokker pilot
Indonesia jauh lebih tinggi kepandaian dan keterampilannya dibanding
dengan para pilot dari Filipina,Burma dan Amerika Selatan.Para pilot
Australia belajar "praktek" di Indonesia.
Tetapi terbukti sekarang GENERASI BARU SANGAT MEROSOT kwalitasnya.Sangat 
menyedihkan!!!
Wasalam,
Wal Suparmo


--- Pada Sen, 29/6/09, Agus Hamonangan <[email protected]> menulis:

Dari: Agus Hamonangan <[email protected]>
Topik: [Pembaca-KOMPAS] Penerbangan Indonesia Termasuk Paling Tidak Aman di 
Dunia
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 29 Juni, 2009, 3:16 PM

















      http://internasiona l.kompas. com/read/ xml/2009/ 06/29/14202675/ 
Penerbangan. Indonesia. Termasuk. Paling.Tidak. Aman.di.Dunia. ..



BRISBANE, KOMPAS.com — Stasiun televisi Saluran Tujuh Australia, Senin (29/6), 
menyebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara sebagai 
lima negara dengan maskapai penerbangan paling tidak aman di dunia. Dalam 
program siaran Sunrise-nya yang dipantau Antara dari Brisbane, dua penyiar 
Channel Seven, Mel dan Kochie, mengangkat topik keselamatan penerbangan 
menyusul terjadinya serangkaian insiden dan kecelakaan terhadap beberapa 
maskapai penerbangan dunia dalam beberapa bulan terakhir ini.



Dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal Manajemen 
Penerbangan Air Transport World Geoffrey Thomas itu terungkap bahwa tingkat 
keselamatan berbagai maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda, masih 
dipandang buruk. Bahkan, Kochie sempat mempertanyakan alasan Pemerintah 
Australia yang tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang sudah terlebih dahulu 
melarang maskapai penerbangan dari 18 negara, termasuk Indonesia.



Sejauh ini, Garuda merupakan satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia yang 
terbang ke Australia untuk melayani rute penerbangan Denpasar-Sydney, 
Denpasar-Perth, dan Denpasar-Melbourne. Terlepas dari terjadinya insiden dan 
kecelakaan penerbangan, termasuk sebuah pesawat Airbus A330 Air France yang 
terjatuh di Samudra Atlantik yang menewaskan semua penumpang dan awaknya, awal 
Juni, pesawat masih dianggap alat angkutan yang aman bagi manusia.



Setiap tahunnya ada dua miliar orang bepergian ke berbagai tempat di dunia 
dengan jasa penerbangan komersial. Menurut Channel Seven, delapan maskapai yang 
dianggap paling aman di dunia adalah Qantas, Southwest Airlines, Air New 
Zealand, Delta, Cathay Pacific, Asiana Airlines, Emirates, dan Lufthansa.



Qantas dipertanyakan



Terhadap posisi pertama Qantas dalam daftar maskapai penerbangan teraman di 
dunia itu, Geoffrey Thomas mencatat, maskapai penerbangan nasional Australia 
itu juga tetap tak bebas dari sejumlah insiden penerbangan dalam 50 tahun 
terakhir perjalanannya. Antara mencatat, Qantas mengalami beberapa kali insiden 
penerbangan serius pada 2008 dan 2009.



Pada 25 Juli 2008 misalnya, pesawat Qantas Boeing 747-400 terpaksa mendarat 
darurat di Filipina dalam penerbangan langsungnya dari Hongkong ke Melbourne 
setelah sebuah tabung gas oksigen di pesawat itu meledak. Tidak ada korban jiwa 
dalam insiden tersebut.



Lalu pada 29 Juli 2008, sebuah pesawat Qantas yang melayani rute penerbangan 
domestik terpaksa kembali ke Bandar Udara Adelaide, Australia selatan, akibat 
ada gangguan terhadap pintu roda pendarat. Pada 2 Agustus 2008, Qantas Boeing 
767 pun terpaksa kembali ke Bandara Sydney segera setelah lepas landas akibat 
ada cairan yang keluar dari sayap pesawat tersebut.



Pesawat Qantas Airbus A330-300 dalam penerbangan dari Singapura ke Perth pada 7 
Oktober 2008 mengalami turbulensi yang mengakibatkan terlukanya 46 orang 
penumpang.  Akibat serangkaian insiden ini, tingkat kepercayaan publik negara 
itu pada standar keselamatan Qantas merosot.



Anjloknya tingkat kepercayaan publik Australia itu setidaknya tercermin dari 
hasil survei UMR, salah satu lembaga riset penting yang berbasis di Australia 
dan Selandia Baru.



Laporan hasil survei UMR menyebutkan, sebanyak 63 persen dari seribu responden 
yang mengikuti survei UMR pada 1-7 Agustus dan 19-24 September 2008 memandang 
standar keselamatan penerbangan Qantas memburuk dalam beberapa tahun terakhir 
ini. Persentase responden yang kepercayaannya merosost terhadap Qantas ini 
meningkat sebanyak 11 persen sejak survei pertama dilakukan Agustus 2008.



Serangkaian insiden penerbangan serius sepanjang 2008 itu masih berlanjut pada 
2009. Pada 22 Juni 2009, misalnya, pesawat Airbus A330-300 Qantas mengalami 
turbulensi di atas wilayah udara Malaysia di Kalimantan dalam penerbangannya ke 
Perth, Australia barat, dari Hongkong.



Sumber : Antara












Kirim email ke