Kalau jawaban kita hanya tertuju pada adanya otonomi daerah ataupun otonomi Pusat walau ada unsur benarnya, tapi ya kok belum merupakan jawaban tuntas karena masalah pokok negara kita adalah belum mampunya dari kebanyakan aparat/ pimpinan formal/non formal bangsa kita yang merupakan panutan dari masyarakat/rakyat banyak hanya mampu melaksanakan tugasnya sebagian besar dipenuhi nuansa teori-teori baku dan standard atau kata tegasnya "TEXT BOOKED THINKING" dan hanya sedikit yang mampu menyentuh untuk merealisasikan dilapangan guna memperbaiki kondisi nyata masyarakat/rakyat dalam memecahkan persoalan "the real problem" dari kondisi rakyat kita sehari-hari agar lebih membaik. Apa yang sebenarnya didambakan oleh rakyat kecil dan sebagian besar bangsa ini tidak lebih dan tidak kurang seperti apa yang diamanatkan oleh konstitusi kita adalah berupa jaminan hidup yang benar, konsisten, jujur dan transparan serta bersatunya kata dan perbuatan semua lapisan pimpinan/aparat kita tanpa memanipulasi apa yang salah, jelek, keliru atau yang bagus, benar dan berhasil. Kalau pahit katakan pahit kalau manis ya kita harus jujur menghargai tanpa berlebih-lebihan memuji-mujinya.
Kalau semua tugas dan tanggung jawab kita selalu maunya dihargai/ dinilai bagus, tapi kalau kita keliru atau membuat blunder pada berebut ngeles dan mengkambinghitamkan yang terlemah posisinya, ya saya khawatir sampai kiamat kita tidak akan mampu untuk maju menatap tantangan masa depan yang lebih baik bagi bangsa kita. Kata kunci dari ini semua adalah kejujuran dan mampu bekerja dengan ilmu lilin (rela hancur meleleh demi menerangi sekeliling) tanpa kalkulasi rugi-laba buat image diri pribadi atau kelompok kita. Mohon kita semua bersama-sama merenungkan hal ini dengan rileks, jujur dan hening-bening, wallahuaklam. --- In [email protected], Asep Kurniawan <ask...@...> wrote: > > Setuju dengan Bung Hakiki. > > Kalo kita melihat bahwa sekarang sebenarnya otonomi daerah cukup besar, > mestinya presiden bukan lagi faktor determinan. Kepala-kepala daerah juga > punya wewenang besar untuk menyejahterakan rakyatnya. Nah, mereka ini kan > sebagian besar kader partai. Kenapa tidak itu yang didorong sejak dulu, lalu > menjadi bekal untuk kampanye nasional sekarang? kalo ini dilakukan, terutama > oleh Mega dan JK (karena partai mereka berdua ini yang banyak memegang kursi > kepala daerah), saya yakin efeknya akan dahsyat bagi kampanye kepresidenan > mereka. > > Salam,
