Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/03/08285911/Iklan.Satu.Putaran.Bukan.Iklan.SBY-Boediono



JAKARTA, KOMPAS.com — Serangan telak Jusuf Kalla kepada Susilo Bambang 
Yudhoyono mengenai iklan "pemilu satu putaran" yang dibuat oleh Direktur 
Lingkaran Survei Indonesia Denny JA seakan menjadi bumerang bagi kubu 
SBY-Boediono.

SBY membantah iklan itu berasal darinya. Sekjen Partai Demokrat yang juga Tim 
Kampanye Nasional SBY-Boediono, Marzuki Alie, juga membantah jika iklan 
tersebut merupakan bagian dari kerja tim sukses memenangkan SBY-Boediono. 
"Iklan itu tidak ada hubungannya dengan tim sukses," kata Marzuki saat 
dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (3/7) pagi ini.

Ia menganggap, iklan tersebut merupakan bentuk partisipasi masyarakat atas 
pasangan calon yang didukungnya. "Kita harus tahu konteksnya. Dalam UU tidak 
ada yang melarang partisipasi masyarakat. Orang mau menyukseskan siapa saja 
boleh. Kalau tidak melanggar hukum, ya sama saja. Kami juga sering terima 
partisipasi masyarakat dalam bentuk kaus dan sebagainya, tidak bisa dilarang," 
ujarnya.

Beberapa waktu lalu, seusai menjadi narasumber pada rilis hasil survei 
Indonesia Development Monitoring, fungsionaris Demokrat, Ruhut Sitompul, sempat 
menyatakan bahwa Lingkaran Survei Indonesia telah menjadi bagian dari konsultan 
kampanye SBY-Boediono. Namun, saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Marzuki 
membantahnya. "Enggak benar Ruhut itu. Enggak ngerti dia. Tanya saja ke Fox 
(konsultan kampanye SBY-Boediono), tidak ada itu," kata Marzuki.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum merasa aneh 
jika gerakan pemilu satu putaran dipersoalkan. "UUD dan UU Pilpres sudah 
memberikan dasar kuat untuk pemilu satu atau dua putaran. Pasangan calon 
ataupun tim pendukung punya dasar kuat untuk berjuang satu atau dua putaran. 
Kalau dikatakan tidak demokratis, mungkin perlu belajar lagi," kata Anas.

Kirim email ke