Bung Lisman Manurung,
 
Iklan "Pilpres Satu Putaran" menjadi tindakan melanggar hukum bila iklan 
tersebut bukan dipasang oleh Tim Sukses SBY - Boediono dan SBY menyatakan bahwa 
iklan tersebut statusnya ilegal.
Karena ini merupakan pernyataan resmi SBY dalam debat capres, maka pernyataan 
tersebut memiliki konsekuensi hukum yang serius.
SBY wajib melaporkan tindakan ilegal ini ke Polisi, atau paling tidak mencari 
penanggung jawab penyebaran iklan ilegal ini dan menyampaikannya kepada 
masyarakat siapa sebetulnya "pengkhianat" tersebut.
 
Bila nantinya terbukti biaya iklan tersebut dibiayai oleh Tim Sukses SBY, maka 
bisa dikatakan bahwa SBY telah dikelilingi oleh 'Para pengkhianat" karena 
secara diam - diam melakukan hal yang menurut SBY merupakan tindakan ilegal.
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo

--- Pada Jum, 3/7/09, Lisman Manurung <[email protected]> menulis:


Dari: Lisman Manurung <[email protected]>
Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Iklan "Satu Putaran" Bukan Iklan SBY-Boediono
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 3 Juli, 2009, 9:13 AM









Harian Kompas tempat iklan itu dimuat telah memberikan batas yang jelas 
terhadap iklan terlarang. Kalau tidak salah, iklan terlarang bagi Kompas adalah 
iklan rokok, iklan yang menunjukkan adanya insan berciuman, iklan sensitif SARA 
, iklan berbau teror ataupun iklan narkoba. Jadi, jika Kompas sudah memuatnya, 
maka kecil kemungkinan iklan SBY-Boediono Satu Putaran melanggar hukum.

Nah, iklan lazimnya adalah bentuk umbar-mengumbar harapan. Namanya iklan, penuh 
umbar-mengumbar.

Marilah bandingkan dengan iklan sabun mandi. Dahulu Unilever pernah sesumbar 
bahwa 9 dari sepuluh bintang film memakai sabun Lux. Sampai sore ini ratusan 
produsen sabun internasional lainnya belum juga membawa kasus iklan Lux  ini ke 
pengadilan.

Sebetulnya mengangkat masalah ini sama saja membuat pihak yang dipersoalkan 
meningkat ratingnya. Mungkin hal demikian itulah pasalnya mengapa ratusan 
produsen sabun mandi tidak ambil pusing iklan sabun mandi Lux, yang katanya 
dipakai oleh 9 dari 10 bintang film. Hal yang sama juga terjadi ketika banyak 
pihak menuding Boediono adalah neo-lib. Semakin itu dipersoalkan, semakin naik 
pula pamor Boediono di kalangan awam. Jangan lupa, apakah pemilih itu bertitel 
profesor atau bertitel PRT suaranya dihitung pas: satu dan satu.. 

You know why? Boedino jadi Pop gitu lho!  Wong isti siri Nasarudin, saksi kunci 
kasus ketua KPK  saja sudah jadi bintang, padahal mestinya tidak demikian 
dimata kaum intelektual dan kalangan moralis. Bahkan tangannya konon  kini 
sering dicium pengagumnya, orang mengagumi popularitasnya seperti Luna Maya. 
Jadi  tidak aneh (bagi kaum awam) ketika istri siri Nasarudin justru  
melambaikan tangan ke arah wartawan.

Untuk FPK tahu, soal putaran-putaran pilres dan sebagainya tidaklah dimengerti 
kaum awam. Tiga dari 10 orang calon pemilih yang saya tanya tidak paham arti 
putaran kedua dan putaran kesatu. Dan, 2 orang dari 10 orang tidak mau pusing 
apakah putaran pertama atau kedua, atau malah tidak ambil pusing apakah pemilu 
ini akan mutar-mutar terus.

You know what? Rakyat kita sudah mengalami kebablasan sosialisasi pilkades, 
pilkada dan pilpres.
 

Kirim email ke