Mas Hendro , jadi benar toh pemimpin kita suka pembohongan publik asal bisa "memahami" rakyat.
Benar loh, saya setuju bahwa SBY bisa "memahami" rakyat sehingga beliau, team sukses, FOX Indonesia dapat menggunakan tool seperti pooling sms, hasil survey, penggiringan opini oleh media dll untuk "menyihir" rakyat agar memilih kembali beliau. Beliau dan team sangat memahami kondisi rakyat secara psikologis seperti kecenderungan rakyat untuk mengikuti "trend". Sebagaimana pilihan orang banyak tanpa menyadari alasan-alasan atau dasar pemikiran dalam memilih. Hal itu juga dipengaruhi tingkat ekonomi dan pendidikan para pemilih. Mas Hendro, menyadari bahwa pemimpin "memahami" rakyat mungkin karena tingkat ekonomi yang cukup atau bahkan mungkin lebih. Tahukah, bahwa menurut bank dunia, 50% dari jumlah penduduk Indonesia merupakan penduduk kategori miskin dengan pendapatan per kapita adalah sekitar Rp. 600.000 per bulan. Menurut BPS , kategori miskin adalah penduduk Indonesia yang berpendapatan per kapitan sekitar Rp. 200.262 per bulan. Jumlah mereka adalah 14% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan berdasarkan indikator PDB 2008, Penduduk Indonesia per kapita per tahun US$ 2.271.2 atau sekitar Rp. 1.800.000 per bulan. Indikator inilah digunakan oleh SBY untuk terus/melanjutkan berhutang dan terus/melanjutkan membayar pokok dan bunga hutang luar negeri tanpa berupaya memohon keringanan hutang maupun keringanan penundaan pembayaran, karena bagi SBY dan kaum neoliberal haram untuk melakukan perbuatan yang akan mempengaruhi "kredibilitas"/"image" dimata negara-negara pemberi hutang. Indikator pendapatan penduduk per kapita sekitar Rp. 1.800.000 perbulan menunjukkan keadaan yang tidak nyata. Indikator sebesar itu merupakan "sumbangan" penduduk yang pendapatan per kapitanya sangat jauh dan ekstreem tinggi (kaum kapitalis). Inilah pengaruh kesenjangan pendapatan. Disinilah saya memahami bahwa SBY dalam kepemimpin beliau belum dapat berlaku adil dan belum dapat memenuhi amanah UUD 1945 pasal 33 ayat 3, bahwa "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat." Logika sederhana, Pemerintahan Brunei dengan wilayah dan sumber daya alam hanya sebagian pulau Kalimantan dapat hidup makmur. Namun negara kita yang dianugerahi sumber daya alam yang berlimpah namun tidak dapat dirasakan manfaatnya bagi rakyat banyak bahkan "dibiarkan" dimanfaatkan oleh bangsa asing seperti melalui Chevron, Freeport dll dan itu semua karena tidak percaya dengan "kemampuan" bangsa sendiri untuk mengolah dan mensyukuri anugerah yang telah diberikan oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang saya takuti adalah jika SBY seperti pemikiran kaum sekuler bahwa Sang Penguasa, dalam mempertahankan kekuasaannya, harus berbohong, menipu ? Berbohong dan menipu untuk menjaga image ? Lihat tulisan saya di Teguhkan kekuasaan dengan berbohong ? http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/07/13/berbohong/ Wallahu a'lam Salam Zon di Jonggol http://mutiarazuhud.wordpress.com --- In [email protected], hendr...@... wrote: > > Yesss... Dan saya lebih memilih jadi pemimpin bohongan yg memahami rakyat > ketimbang pemimpin beneran yg minta dipahami rakyat. > > Powered by Telkomsel BlackBerry®
