Dear ;
- Mbakyu Yuli
- Kangmas Adiyanto Aditomo
- Dik Achmad Jauzi.

Sayangnya temans tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui secara pasti maunya 
SBY.

Kita hanya bisa menebak-nebak apa maunya SBY so, kadangkalanya pula 
tebakan-tebakan kita itu bermuatan tendensi yang pada akhirnya justru tidak 
selalu membuat keadaan menjadi lebih baik.

Dan satu lagi, Sepanjang yang saya tahu, tangisan itu tidaklah serta merta 
mensimbolisasikan seseorang itu "Lembek ato Tegar" karena itu tidak perlu 
disembunyikan sehingga yang tampil adalah "kepura-puraan"

Aku ambilkan contoh kecil saja, misale keluarga ku (Istri dan kedua putri ku) 
diasaat kami sedang gundah dan saat kami sholat dan berdo'a, aku beruraikan air 
mata so, istri dan kedua putri ku tidaklah serta merta menganggap aku cengeng 
ato lembek tuh ! karena mereka yakin itu bukanlah air mata buaya.

Begitu pula yang saya pikir tentang  SBY, tak ada alasannya do'i mengelurkan 
air mata buaya, lah wong do'i nyaris dah pastikan melenggang kembali 5 tahun 
kedepan di RI 1 koq.

Salam hangat,
Suhaimi 

Salam hangat,
Suhaimi

  ----- Original Message ----- 
  From: Yuliati Soebeno 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, July 19, 2009 12:42 AM
  Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] SBY... ADUH...KOK GINI?


    Bung Adyanto dan Bung Ahmad Jauzi,
   
  Sudahlah tidak usah bingung dan merana begitu. Anda semua sudah tahu kan, 
bahwa itulah PRESIDEN PILIHAN RAKYAT INDONESIA. 
  Soalnya memang begitulah yang di-ingin-kan masyarakat rupanya, Presiden yang 
"melankoli".
  Dulu Megawati menjabat selama hampir 4 tahun, dan sebelum pemilihan presiden, 
berapa banyak bom-bom yang meledak, dan menghancurkan nama Indonesia dimata 
dunia. Tetapi apakah Presiden Megawati waktu itu memperlihatkan "kelembekan" 
nya sebagai PEMIMPIN BANGSA? Meskipun beliau seorang perempuan yang seharusnya 
bisa menangis tersedu-sedan? Tetapi Mega memperlihatkan ketabahan yang kuat 
dihadapan rakyatnya. Apalagi waktu itu terjadi pengeboman di Kedutaan Asing 
(Australia), yang benar-benar menghancurkan kredibilitas Mega sebagai Presiden, 
namun tetap tegar, jikapun Mega menangis mungkin didalam kamar dia sendiri, 
tidak didepan umum.
   
  Salam,
  Yuli

Kirim email ke