Saya sih tidak sampai menuduh wartawan memelintir. Tapi wartawan 'kan manusia 
juga? Mereka memiliki hobi, minat dan preferensi dalam memandang sebuah 
peristiwa, terutama yang "abu-abu". Karena itu tidak bisa dihindari kalau hal 
tersebut mempengaruhi aspek atau bagian yang mereka angkat dari sebuah 
peristiwa, dan narasumber yang mereka pilih untuk membahas peristiwa tersebut.

Ada pun tentang hobi, minat dan preferensi seorang wartawan, itu terutama bisa 
kita raba dalam blog-blog pribadinya, yang disebabkan oleh kemajuan teknologi 
komunikasi dan informasi, sekarang banyak bermunuculan dimana-mana. Atau, kalau 
pun tidak melalui blog, dengan mengamati sejumlah tulisan seorang wartawan di 
medianya yang resmi kita juga bisa meraba hobi, minat dan preferensinya. 
(Sebagai pembaca setia rubrik "Politikana" di harian Kompas, misalnya, saya 
bisa merasakan bahwa Budi Shambazy memang selalu melihat SBY jauh lebih kritis 
daripada melihat Megawati, Jusuf Kalla, dan mantan presiden/wakil presiden 
lainnya minus Suharto).

Tapi sebagaimana saya utarakan di atas, sampai pada batas-batas tertentu 
keberpihakan itu sih sangat manusiawi dan wajar-wajar saja. Tak usah kita 
terlalu pusing. Karena sekarang, disebabkan oleh kemajuan teknologi komunikasi 
dan informasi, kita (masyarakat atau pembaca) pun telah dimungkinkan pula untuk 
menyuarakan hobi, minat dan preferensi kita yang mungkin tak tersuarakan oleh 
wartawan. Itulah gunanya blog, milis, facebook, citizen paper, youtube, dan 
berbagai sarana lainnya yang disediakan oleh internet itu.

Begitulah, tulisan saya yang membela pernyataan Presiden SBY itu saya 
publikasikan kemana-mana bukan dengan maksud untuk memuja-muja SBY (karakter 
kepemimpinannya tidak sesuai dengan selera saya), tapi saya hanya mau memberi 
sedikit sumbangsih bagi kehidupan demokrasi: Saya mau melakukan "check and 
balance" kepada para wartawan, yang entah karena apa, terkesan memberi reaksi 
yang agak "kebangetan" terhadap pernyataan Presiden SBY.

Mula Harahap

(Yang masih terus berpikir-pikir tentang buku "The World is Flat" karangan John 
Friedman)

  

budiarto shambazy:

Trims atas rasa simpati Anda kepada kami wartawan. Bulan ini pers sudah dua 
kali dituding sebagai tukang pelintir dan amat jarang ada kalangan (termasuk 
milis ini) yang mau melihat bagaimana perspektif kami sebenarnya. Semua sibuk 
mencela dan, sebaliknya, mengkultusindividukan jagoan masing-masing.


Kirim email ke