http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/08/06/07531245/Ini.Dia..Sekolah.Murah.di.Kepa.Duri.


JAKARTA, KOMPAS.com - Biaya pendidikan yang mahal selalu menjadi momok bagi 
kaum kurang mampu yang menginginkan anaknya merasakan bangku sekolah. 
Untungnya, saat ini banyak lembaga-lembaga sosial yang menyediakan pendidikan 
dengan harga yang terjangkau bagi mereka.

Salah satunya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cinta Anak Bangsa 
di daerah Kepa Duri, Jakarta Barat. Di PKBM yang baru berdiri tahun 2005 ini, 
anak yang tadinya kurang beruntung bisa mendapatkan pendidikan paket A, B, dan 
C  atau setara dengan SD, SMP, dan SMA. Biaya yang harus dikeluarkan orang tua 
pun terbilang murah, hanya Rp 10.000,00 per bulan.

"Syaratnya ya anak itu putus sekolah karena masalah keuangan. bukan karena 
alasanyang lain," ujar Anton, Koordinator Guru Bagian Kurikulum, yang ditemui 
Rabu (5/8) kemarin.

Tak hanya berbiaya murah, orang tua pun tak diberatkan dengan biaya buku cetak, 
sebab buku sudah disiapkan oleh pihak PKBM. Siswa tinggal membawa buku tulis 
untuk mencatat dan mengerjakan tugas-tugas. Cuma, buku cetak ini tidak boleh di 
bawa pulang, dan harus disimpan rapi di perpustakaan. "Buku ini kan untuk 
diwariskan ke junior mereka jadi harus dijaga. Siswa kami juga kebanyakan 
tinggal di daerah hujan dikit banjir, takutnya buku-bukunya rusak," kata Anton.

Siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga mendapat 
pendidikan keterampilan bahasa Inggris dan komputer. Untuk dua program ini, 
PKBM Cinta Anak Bangsa bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Bina Nusantara. 
Sementara untuk keterampilan salon, PKBM bekerja sama dengan Training Center 
Rudy Hadisuwarno. "Supaya bisa bekerja setelah lulus, selain ijazah mereka juga 
harus mempunyai bekal keterampilan," jelas Anton.

Selain itu, berbeda dengan PKBM lainnya yang hanya mengharuskan siswanya datang 
3 kali seminggu, dan belajar selama 2 jam, PKBM Cinta Anak Bangsa mengharuskan 
siswanya masuk setiap hari, dari Senin hingga Jumat, layaknya sekolah pada 
umumnya. Jam belajarnya pun tidak jauh berbeda dengan sekolah umum. Ruangan 
belajarnya pun difasilitasi AC.

"Selain menerapkan hukuman, kami juga harus memberikan penghargaan kepada anak 
yang baik dan berprestasi," ujar Firza, Kepala Rumah Belajar Cinta Anak Bangsa. 
Siswa yang berkelakuan baik selama belajar mendapatkan penghargaan, mulai dari 
nonton ke bioskop hingga ke TMII. Lebih jauh, bagi siswa yang berprestasi, 
mereka disalurkan ke sejumlah perusahaan.

Salah satu yang pernah merasakan keberhasilan itu adalah Sodik. Lulusan PKBM 
yang dulunya tukang koran ini, disalurkan ke Alfa Group. Dia mendapat gaji Rp 
1,6 juta. Jumlah pemasukan itu belum termasuk tambahan lembur dan pendapatan 
lain, yang kalau ditotal bisa mencapai  Rp 2 juta  

M7-09 

Kirim email ke