Mengenang wafatnya 
Iwan Simatupang (4 Agustus 1970) 
Mbah Surip (4 Agustus 2009) 

Dua di antara seniman Indonesia yang 
akrab dengan ironisme, tragedi manusia 
serta bias-biasnya 


- 

sebuah cerpen: 

"Aduh .... Jangan Terlalu Maju, Atuh!"

- iwan simatupang 


Sebuah sekolah dasar, di suatu desa kaki Gunung Pangrango, Jawa Barat. Lagi jam 
istirahat. Di pekarangan anak-anak bermain. Pak Guru berdiri lesu di muka pintu 
kelas, menguap karena terik matahari. 

Tiba-tiba seorang anak berteriak. Seperti digigit kalajengking, murid-murid dan 
para guru lari ke sumber suara. Cari punya cari, suara ternyata datang dari 
kakus. 

"Ada apa?" teriak anak-anak, mengerumuni seorang yang masih saja melengking 
seperti kesakitan. Telunjuk tangan kanannya menuding-nuding ke celananya. 
Tegasnya ke jendela kencingnya. 

"Ada apa?" sengat Pak Guru kelas V, yang masuk menyerbu ke kakus kecil itu. 

Dia hanya berteriak terus. Telunjuknya seperti kaki-kaki roda lokomotif, secara 
berirama menuding-nuding ke jendela celananya yang terbuka. 

Pak Guru tak sabar. Si murid dia rengutkan keluar, sambil sebelah tangannya 
menutup kedua lubang hidungnya. Memang, bau kakus itu kelewat sengit di siang 
terik itu. 

Setelah di luar, barulah oleh semua hadirin dilihat jelas apa persoalan dia 
yang sebenarnya. Jendela celananya terbuka setengah. Artinya, ritsluiting sudah 
naik ke atas setengah, dan tiba-tiba macet di situ karena kecantel daging dari 
alat vitalnya. Dan dalam usahanya menaikkan atau menurunkan ritsluiting itu 
daging dari alat vitalnya itu makin terjepit. Tentu saja dia kesakitan! 

"O-alaaaa! Bagaimana sampai terjadi begini?" sentak sang Guru. Tetapi wajahnya 
sudah tak 100% marah lagi. Tepi-tepi dari suatu senyum geli, yang keburu 
ditekannya memperlihatkan dirinya di sekujur mukanya. 

Begitu pula murid-murid lainnya. Malah ada dari mereka yang tertawa 
terbahak-bahak, menari-nari dalam lingkaran. 

"Hussyy!" bentak Guru Kepala, yang juga sudah sulit dapat mengekang tawanya. 

"Lalu bagaimana?" tanya guru-guru lainnya. 

"Ke poliklinik!" putus Guru Kepala. "Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tak 
punya alat, dan kita tidak tahu bagaimana caranya."

Mendengar 'ke poliklinik', murid-murid lainnya bersorak. 

"Horeee! Disunat sekali lagi. Apa masih ada yang sisa?"

Guru wanita sudah tak mampu lagi menekan tawanya. Tetapi karena malu dilihat 
oleh murid-muridnya, dia buru-buru lari masuk ke kelasnya.

Delman tiba di poliklinik. Yang turut dalam delman: Guru Kepala, guru kelas 
anak itu, dan dua murid temannya. Akan tetapi mereka punya pengiring yang 
banyak sekali: seluruh sekolah yang datang lari-lari. 

Pak Manteri termenung sebentar memikirkan cara terbaik mana yang akan 
dipraktekkannya untuk menolong. 

"Nah! Mau tak mau, kau mesti mengalami sakit sekali lagi. Mungkin kelewat 
sakit! Tetapi, jalan lain tidak ada." 

"Apa tidak sebaiknya dibius dulu?" bisik Guru Kepala. 

"Saya tidak punya alat pembius. Bapak Guru jangan lupa, ini cuma poliklinik 
desa saja, yang alat-alatnya dan obat-obatannya sudah lama tidak beres ...." 

"Baik! Baik! Terserah Bapak Mantri saja!" kata Guru Kepala. Dengan itu ia 
menghindarkan suatu pidato panjang dari sang mantri tentang salah satu 
kekurangan lagi dari Republik kita ini kini. 

"Ini, gigitlah karet ini sekuatmu. Mengerti?"  

Dia menyerahkan sepotong karet merah pada sang korban. Setelah masuk dalam 
mulut karet itu digigit sekuatnya. 

"Lagi! Kurang kuat!" bentak Pak Mantri. 

Dia menggigit lebih kuat lagi, dan tiba-tiba: "Syrrk!" Ritsluiting yang 
gigi-giginya sudah digemukinya dengan zalf terlebih dahulu disentaknya ke 
bawah. Dan lepaslah sang alat vital dari cengkeraman ritsluitingnya. 

Semua lega. Setelah menaruh salep atas cedera pada alat vital, gara-gara 
diserempet gigi-gigi ritsluiting itu, pulanglah delman itu ke sekolah diiringi 
oleh gerombolan besar yang tak putus-putusnya menyorakkan pekik kemenangan. 

Sampai di sekolah, Guru Kepala bertanya, "Apa kau tak biasa pakai celana dengan 
kancing begituan?" 

Dia menggelengkan kepalanya. 

"Ini celana baru, Pak. Kata tukang jahit, sebaiknya pakai ritskuiting saja, 
sebab ini zaman modern. Dalam zaman modern, tidak dipakai lagi kancing tulang." 

Maka nyeletuklah Guru Kepala, yang sebelumnya sempat ikut ceramah Pak Wedana. 

"Apa ini juga gara-gara modernisasi desa?" *** 







      

Kirim email ke