Dear fpkers... Memang setelah mengklaim dirinya sbg buaya yg cukup berhasil melumpuhkan cicak, dan bisa membunuh gembong teroris, polisi semakin jumawa. Sampai saat ini blm ada institusi yg bisa scr efektif mengontrol dan menghukum polisi yg melakukan planggaran. Propam polri tdk kedengaran gaungnya, demikian pula dengan irwas, contoh kasus kabareskrim. Kompolnas jg tidak bergigi, hanya jd ornamen saja. Sdh saatnya ada institusi yg bs scr efektif dan kuat mengontrol kinerja polisi. Jika tidak, tetap hanya akan ada 3 polisi yg baik, yakni hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur. Selain itu, silahkan dinilai sendiri.
Mdh Powered by Telkomsel BlackBerry� -----Original Message----- From: Adyanto Aditomo <[email protected]> Date: Thu, 22 Oct 2009 11:01:47 To: <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tendangan 'Maut' Pak Polisi..... Bung I Made Cok Wirawan, � Sebelumnya saya mohon maaf kalau pernyataan saya dianggap terlalu berlebihan soal Polisi. Saya membedakan antara Prestasi Polisi,�Kerja Keras Polisi dengan Hati Nurani Polisi. Soal Prestasi Polisi dan Kerja Keras Polisi, terkadang kita dibuat terkagum - kagum dengan kemampuan dan kecepatannya dalam menindak aksi kejahatan dan Trorisme di Indonesia. Saya sepakat bahwa dalam banyak kasus, Polisi perlu mendapat acungan jempol karena prestasinya dalam menindak kejahatan dan trorisme yang sangat meresahkan masyarakat. Tetapi soal Hati Nurani Polisi ??? Apakah Polisi bekerja berdasarkan Hati Nurani??? Banyaknya orang tidak bersalah�masuk penjara karena tidak tahan disiksa saat diperiksa Polisi, tewas atau luka - luka akibat Aparat Kepolisian salah tembak, sudah bukan rahasia lagi. Tetapi apakah ada kasus Polisi yang tertekan batinnya karena telah dengan sengaja mencelakakan masyarakat Tidak Bersalah??? Kelihatannya kasus itu tidak pernah terjadi, minimal laporan dari Unit Psikologi Kepolisian tentang jumlah Polisi yang stres dan tertekan karena merasa berdosa telah dengan sengaja mencelakakan masyarakat tidak berdosa. Kasus pembunuhan yang melibatkan Ketua KPK dan Perwira Menengah Polri menunjukkan bahwa dalam upayanya untuk naik pangkat menjadi Jendral, seorang Perwira Menengah Polri tega merencanakan pembantaian terhadap Masyarakat yang tidak berdosa. Apakah ada penyesalan dari Perwira Menegah Kepolisian tersebut??? Yang diulas Media Massa hanyalah: Pamen Polisi tersebut beserta keluarganya amat sangat menyesal karena�peluangnya menjadi Jendral Polisi sudah tertutup rapat. Tidak dipersoalkan bagaimana rasanya membantai Pihak Yang Tidak Bersalah. Itu hanya salah satu contoh pak. Kalau anda berkunjung ke Markas Kepolisian, anda akan menyaksikan bagaimana para calo SIM dan STNK bergentayangan di depan aparat kepolisian, tetapi tidak ada tindakan apapun dari Pihak Kepolisian. Razia terhadap para Calo hanya dilakukan sekali - sekali, sekedar untuk basa- basi belaka. Bila Polisi punya Hati Nurani, pasti para Calo tersebut sudah dibabat habis.. Seminggu yang lalu saya ditangkap Polisi yang berjaga di Pos Polisi di samping Citra Land. Saat saya keluar dari Citra Land, saya hanya mengikuti rambu yang ada. Ternyata di ujung jalan, menjelang Pos Polisi Tanjung Duren, ada larangan untuk terus, tetapi juga ada larangan tidak boleh balik, karena jalan itu untuk 1 arah. Pilihannya hanya masuk ke Tempat Parkir Hotel Citra Land. Karena saya tidak berniat ke Hotel Citra Land, ya mobil saya saya jalankan terus. Saat itu ada�3 mobil lain yang melakukan hal yang sama. Saya di urutan paling belakang. Saat ke empat mobil tersebut di hentikan Polisi di depan Pos Polisi Tanjung Duren, saya protes keras, karena tidak ada niatan saya untuk melanggar Rambu Lalu Lintas. Komandan Polisi di Pos tersebut tidak kalah ngototnya bahwa saya telah melakukan kesalahan karena telah mengikuti rambu lalu Lintas yang tidak ada stempel DLLAJR. Menurut Polisi, masyarakat manapun memiliki kewenangan untuk memasang rambu lalu Listas. Yang memasang rambu Penyesatan tersebut adalah Pihak Citra Land, bukan DLLAJR dan Polisi tak berdaya mencegahnya. Para pengendara tidak harus patuh pada Rambu Lalu Lintas yang tidak ada stempel DLLAJR. Lha mana sempat para pengendara memperhatikan apakah rambu tersebut resmi atau tidak, kalau tidak ada tindakan dari Aparat Kepolisian untuk menertibkan rambu tersebut. Untuk membuktikan bahwa Rambu Dilarang�Masuk adalah Sah dan Rambu Jalan Hanya Untuk Satu Arah adalah Liar, maka saya minta Aparat Kepolisian mendampingi saya untuk memeriksa apakah Rambu Dilarang Masuk memang rambu resmi. Eh, ternyata Rambu Dilarang Masuk juga tidak ada stempel dari DLLAJR. Karena malu, akhirnya Pihak Kepolisian mengembalikan STNK dan SIM saya. Saat saya kembali ke lokasi, ternyata 3 mobil lainnya sudah tidak ada. Kata istri saya yang menunggu di Mobil, mereka bisa bebas setelah melakukan Salam Tempel kepada Polisi yang jaga di Pos Polisi tersebut. Apa kesimpulannya??? Polisi tersebut dalam menjalankan tugasnya tidak disertai Hati Nurani. � Salam, � Adyanto Aditomo ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
