http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/13/03042323/bumi.kuasai.seluruh.saham.herald



Jakarta, Kompas - Setelah melalui proses panjang, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 
menyatakan akan menjadi pemilik seluruh saham perusahaan pertambangan 
Australia, Herald Resources Ltd. Akuisisi saham Herald dilakukan melalui proses 
penawaran tender atas 1,61 persen saham Herald dengan harga 0,93 dollar 
Australia per saham.

Senior Vice President Bumi Resource Dileep Srivastava, Kamis (12/11) di 
Jakarta, mengatakan, akuisisi saham Herald akan dilakukan Calipso Investment 
Pte Ltd, anak usaha BUMI yang didirikan untuk proses akusisi Herald. "Dalam 
enam minggu ke depan, kami harapkan kewajiban mengakuisisi 100 persen saham 
Herald selesai," ujarnya.

Saat ini, Calipso memiliki 205 juta lebih saham atau 98,39 persen dari seluruh 
saham Herald. Saham itu diperoleh melalui proses akuisisi dan penawaran tender. 
Terakhir, Calipso melakukan penawaran tender 20 Oktober 2009 dengan harga 0,93 
dollar Australia per saham.

Adapun saham Herald yang tercatat di Australian Stock Exchange untuk sementara 
tidak diperdagangkan (suspensi), terkait proses penawaran tender oleh Calipso. 
Sebelum disuspensi, saham Herald diperdagangkan 0,88 dollar AS per saham.

Herald adalah perusahaan pertambangan yang menguasai 80 persen saham di proyek 
Anjing Hitam, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Sebanyak 20 persen saham lainnya 
dimiliki PT Aneka Tambang Tbk.

Sebelumnya, Aneka Tambang ingin memiliki saham Herald. Namun, persaingan 
memperebutkan saham mayoritas Herald akhirnya dimenangi BUMI.

Saham Herald menjadi incaran karena proyek Dairi diperkirakan memiliki 
kandungan seng dan timbal terbesar di dunia. Namun, meski proyek Dairi telah 
berjalan beberapa tahun lalu, proses eksploitasi masih terkatung-katung karena 
belum mendapat izin Departemen Kehutanan. "Proses perizinan kami harapkan 
segera selesai dan proyek dapat dimulai," kata Dileep.

Untuk melaksanakan proyek Dairi, BUMI menyediakan 211 juta dollar AS atau 
sekitar Rp 2 triliun, yang akan diperoleh dari penjualan obligasi BUMI sebesar 
300 juta dollar AS. Obligasi ini akan diterbitkan Jumat (13/11).

 

Rencana penerbitan obligasi ini sempat menekan harga saham BUMI karena 
menawarkan tingkat bunga yang cukup tinggi, 12 persen per tahun. Analis dan 
investor mengkhawatirkan hal itu akan menambah beban utang dan beban bunga BUMI 
karena perseroan baru memperoleh pinjaman dari China Investment Corporation 1,9 
miliar dollar AS dengan tingkat bunga 12 persen per tahun, ditambah 7 persen 
saat pelunasan. (REI)

Kirim email ke