JAKARTA, KOMPAS.com - Kejadian di Amerika Serikat pascakrisis keuangan sejak 
2007 yang menyebabkan industri pers ikut jatuh bangkrut, sehingga sejumlah 
koran berhenti terbit, mengurangi pekerja, dan redesain, tidak berimbas ke 
Indonesia. Semula sempat mencemaskan, tetapi setelah dilakukan penelitian 
keberadaan media cetak belum tergantikan.

Peneliti dari Lembaga Penelitian Pendidikan, Penenangan, Ekonomi, dan Sosial 
(LP3ES) Indrajid pada presentasi riset Masa Depan Industri Media Cetak di 
Indonesia dan Economy Outlook 2010, yang digelar Serikat Penerbit Suratkabar, 
Kamis (12/11) di Jakarta, mengatakan ada 95,9 persen pembaca media cetak yang 
juga pemirsa TV dan 2,3 persen pendengar radio. "Fakta tersebut menunjukkan 
bahwa media cetak belum tergantikan. Media cetak punya pembaca yang loyal," 
tandasnya.

Riset yang dipaparkan tersebut merupakan kerja sama dengan Serikat Penerbit 
Suratkabar, dilakukan bulan Juni 2009. Riset pembaca media cetak itu 
diselenggarakan di 15 kota, yakni di Medan, Pekanbaru, Batam, Padang, 
Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, DI Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, 
Pontianak, Banjarmasin, Manado, dan Makassar.

Indrajid menjelaskan, ada sekitar 3.000 responden menjadi sample survei yang 
dibagi secara quota masing-masing 50 persen responden remaja (12-18 tahun) dan 
responden dewasa (18 tahun ke atas). Ada banyak temuan menarik yang berhasil 
diungkap, antara lain tentang tren dalam mengkonsumsi media cetak (koran, 
tabloid, majalah), lama waktu membaca media cetak, rubrik-rubrik yang digemari, 
waktu yang paling disukai dalam membaca, tren mengkonsumsi internet, hingga 
daya tarik responden dalam membaca iklan-iklan media cetak.

Tentang media cetak Indrajid mengungkapkan, koran harian, tabloid, dan majalah 
terus tumbuh, kecuali koran mingguan. "Jumlah tiras juga tumbuh, sekarang 
sekitar 20 juta eksemplar. Pembaca lebih banyak membaca koran harian, dengan 
lama waktu 4 jam. Sedangkan orang baca majalah hanya punya waktu 3,5 jam," 
ujarnya.

Untuk koran, pembaca lebih menyukai membaca rubrik kecelakaan dan atau bencana 
alam. Sedangkan untuk majalah, rubrik yang paling disukai adalah gaya hidup dan 
musik. Sebanyak 67 persen pembaca juga baca iklan.

Ekonom dari Universitas Indonesia, Rofikoh Rokhim, yang mempresentasikan 
tentang ekonomi, iklan, dan suratkabat mengatakan, pertumbuhan ekonomi 
Indonesia akhir 2014 diprediksi mencapai 7,6 persen, meningkat dari pertumbuhan 
ekonomi yang sekarang 6,3 persen. "Tren iklan akan meningkat, tergantung 
kejelian kita untuk menawarkannya. Rubrik gaya hidup menjadi lebih disukai, 
karena kesejahteraan pembaca jauh di atas rata-rata. Yang memiliki kekayaan 
sekitar Rp 10 miliar ada 3.000 orang, sedangkan yang memiliki kekayaan lebih 
dari Rp 35 miliar, ada 1.200 orang," papar Rofikoh Rokhim.

Sedangkan Direktur Eksekutif Universitas Paramadina Bima Arya Sugiarto 
memprediksikan oplah media cetak akan sangat tinggi, karena di Indonesia hampir 
tiap tahun ada pilkada. "Tahun depan ada tujuh pilkada di level provinsi," 
katanya. 

NAL

Editor: made 

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/11/12/18341928/survei.sps.media.cetak.belum.tergantikan..

Kirim email ke