Sebenarnya membaca koran ini kan termasuk dalam bagian budaya yang diwariskan...hanya apakah loyalitas pembaca akan terus dalam bentuk cetak atau berpindah ke media daring akan sangat tergantung dari fasilitas yang tersedia. Media daring memungkinkan interaksi antar pembaca di luar media pengusung "merek" tertentu, karena siapa saja bisa masuk ke sana (kecuali dibuat tertutup dan berbayar).
Apakah kita ingin mewariskan budaya membaca media cetak atau tidak, tergantung dari kita sendiri. Yang jelas masing-masing media memiliki untung dan rugi masing-masing. Kecepatan yang dimiliki media daring juga bisa berubah menjadi bumerang bagi dirinya. Apa yang dicari oleh pembaca? Berita (isi yang berdasarkan fakta dan memiliki nilai/terhubung secara rasa bagi pembaca), dan rasa memiliki (bisa berupa interaksi, bisa sebagai bagian dari dirinya). Seperti semua yang ada dalam kehidupan, media juga bertumbuh, berkembang dan akan berevolusi sesuai kebutuhan pembacanya. Kalau mampu mempertahankan pembaca yang mencintainya (media cetak) maka tentunya tidak perlu takut tergantikan. salam, Retty --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <agushamonan...@...> wrote: > > JAKARTA, KOMPAS.com - Kejadian di Amerika Serikat pascakrisis keuangan sejak > 2007 yang menyebabkan industri pers ikut jatuh bangkrut, sehingga sejumlah > koran berhenti terbit, mengurangi pekerja, dan redesain, tidak berimbas ke > Indonesia. Semula sempat mencemaskan, tetapi setelah dilakukan penelitian > keberadaan media cetak belum tergantikan. > > Peneliti dari Lembaga Penelitian Pendidikan, Penenangan, Ekonomi, dan Sosial > (LP3ES) Indrajid pada presentasi riset Masa Depan Industri Media Cetak di > Indonesia dan Economy Outlook 2010, yang digelar Serikat Penerbit Suratkabar, > Kamis (12/11) di Jakarta, mengatakan ada 95,9 persen pembaca media cetak yang > juga pemirsa TV dan 2,3 persen pendengar radio. "Fakta tersebut menunjukkan > bahwa media cetak belum tergantikan. Media cetak punya pembaca yang loyal," > tandasnya. > > Riset yang dipaparkan tersebut merupakan kerja sama dengan Serikat Penerbit > Suratkabar, dilakukan bulan Juni 2009. Riset pembaca media cetak itu > diselenggarakan di 15 kota, yakni di Medan, Pekanbaru, Batam, Padang, > Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, DI Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, > Pontianak, Banjarmasin, Manado, dan Makassar. > > Indrajid menjelaskan, ada sekitar 3.000 responden menjadi sample survei yang > dibagi secara quota masing-masing 50 persen responden remaja (12-18 tahun) > dan responden dewasa (18 tahun ke atas). Ada banyak temuan menarik yang > berhasil diungkap, antara lain tentang tren dalam mengkonsumsi media cetak > (koran, tabloid, majalah), lama waktu membaca media cetak, rubrik-rubrik yang > digemari, waktu yang paling disukai dalam membaca, tren mengkonsumsi > internet, hingga daya tarik responden dalam membaca iklan-iklan media cetak. > > Tentang media cetak Indrajid mengungkapkan, koran harian, tabloid, dan > majalah terus tumbuh, kecuali koran mingguan. "Jumlah tiras juga tumbuh, > sekarang sekitar 20 juta eksemplar. Pembaca lebih banyak membaca koran > harian, dengan lama waktu 4 jam. Sedangkan orang baca majalah hanya punya > waktu 3,5 jam," ujarnya. > > Untuk koran, pembaca lebih menyukai membaca rubrik kecelakaan dan atau > bencana alam. Sedangkan untuk majalah, rubrik yang paling disukai adalah gaya > hidup dan musik. Sebanyak 67 persen pembaca juga baca iklan. > > Ekonom dari Universitas Indonesia, Rofikoh Rokhim, yang mempresentasikan > tentang ekonomi, iklan, dan suratkabat mengatakan, pertumbuhan ekonomi > Indonesia akhir 2014 diprediksi mencapai 7,6 persen, meningkat dari > pertumbuhan ekonomi yang sekarang 6,3 persen. "Tren iklan akan meningkat, > tergantung kejelian kita untuk menawarkannya. Rubrik gaya hidup menjadi lebih > disukai, karena kesejahteraan pembaca jauh di atas rata-rata. Yang memiliki > kekayaan sekitar Rp 10 miliar ada 3.000 orang, sedangkan yang memiliki > kekayaan lebih dari Rp 35 miliar, ada 1.200 orang," papar Rofikoh Rokhim. > > Sedangkan Direktur Eksekutif Universitas Paramadina Bima Arya Sugiarto > memprediksikan oplah media cetak akan sangat tinggi, karena di Indonesia > hampir tiap tahun ada pilkada. "Tahun depan ada tujuh pilkada di level > provinsi," katanya. > > NAL > > Editor: made > > http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/11/12/18341928/survei.sps.media.cetak.belum.tergantikan.. >
