Dalam analisis kebijakan publik, setiap rumusan kebijakan publik
didahului oleh proses pembuatan kebijakan. Dalam pembuatan kebijakan,
yang paling penting untuk diperhatikan adalah perumusan masalah
(problem formulation), latar belakang kebijakan (policy setting) dan
agenda kebijakan (agenda setting). Ketiga hal tersebut akan
mempengaruhi produk kebijakan. Namun demikian, kebijakan publik tidak
berhenti dengan keluarnya kebijakan, namun tetap harus diikuti dengan
implementasi kebijakan (policy implementation), monitoring kebijakan
(policy monitoring), dan evaluasi kebijakan (policy evaluation).
Sebuah analisis kebijakan diperlukan dalam dua ruang. Pertama,
menjadi bagian dari proses pembuatan kebijakan, dengan mengikuti
setiap step dari siklus kebijakan, melakukan analisis terhadap setiap
step, dan memberikan alternatif-alternatif kebijakan. Kedua, analisis
kebijakan dapat dilakukan diluar dari lingkungan pembuatan kebijakan.
Analisis ini biasanya dilakukan setelah kebijakan keluar, dan dimulai
dengan adanya implikasi kebijakan, menganalisisnya, menggali dan
meneliti serta menganalisis perumusan masalahnya, latar belakang
kebijakan dan agenda kebijakan. Hasil analisis adalah memberikan
masukan terhadap monitoring kebijakan, evaluasi kebijakan, atau
bahkan merumuskan kembali kebijakan, untuk memberikan alternatif
kebijakan yang lebih tepat.
Dalam menganalisis kebijakan tersebut terdapat beberapa metode,
antara lain melalui analisis kebijakan prospektif, analisis kebijakan
restrospektif, dan analisis kebijakan terintegrasi.
***
Dalam perilaku manusia pada organisasi publik, perilaku manusia
merefleksikan persepsi, kebutuhan dan aspirasi. Persepsi, kebutuhan
dan aspirasi tersebut dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan,
budaya, pengaruh kelompok, dan pengaruh organisasi. Proses perilaku
sendiri dimulai sejak adanya stimuli, persepsi, learning, possible
alternative action, dan akhirnya behaviour. Dalam hal ini, step
persepsi menjadi vital, karena persepsi merupakan kesan awal dari
manusia yang dapat menjadi action atau behaviour. Persepsi merupakan
proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami
informasi yang diterimanya melalui penglihatan, pendengaran,
perasaan, dan penghayatan. Persepsi akhirnya lebih merupakan
penafsiran akan sesuatu, bukannya pencatatan yang benar tentang
sesuatu.
***
Dalam komunikasi, inti dari komunikasi adalah penyampaian dari pihak
pertama kepada pihak lain, agar tujuan atau maksud pihak pertama
dapat tercapai dengan informasi yang dikomunikasikan. Efektivitas
komunikasi dipengaruhi antara lain oleh cara atau metode menyampaikan
informasi dan perilaku berkomunikasi. Cara dan perilaku yang salah
akan menyebabkan persepsi yang salah pula.
***
teman-teman.....,
saya melihat, dalam batas tertentu, diskusi dalam miling list ini
adalah seputar implementasi kebijakan, persepsi, reaksi terhadap
kebijakan, dan (sebagian) mengkomunikasikan persepsi dan reaksi
(bukan menganalisis dan mengkomunikasikan informasi hasil analisis).
Semua tidak menjadi masalah apabila persepsi dan reaksi
dikomunikasikan dengan tata penyajian informasi yang baik. Tata
penyajian informasi yang kurang baik pun, masih tidak bermasalah
apabila dikomunikasikan pada lingkup terbatas, dengan lingkungan
dengan persepsi yang sama. Namun semuanya menjadi bermasalah ketika
persepsi atas kebijakan menjadi salah, sehingga reaksi menjadi salah
pula, dan mengkomunikasikannya dengan cara melampaui tatanan
komunikasi, serta permasalahan makin parah ketika dikomunikasikan
kepada lingkup publik luas, yang memiliki persepsi yang berbeda-beda.
Akibatnya adalah terjadi feed back yang akhirnya melenceng jauh dari
tujuan mengkomunikasikan implementasi kebijakan. Sumber
permasalahannya sebenarnya adalah keterbatasan informasi yang
komprehensif akan kebijakan, dan ketidakcukupan metode menganalisis
kebijakan serta ketidaktepatan teknik komunikasi.
Jadi teman-teman.....
Mari kita coba mengelola metode kita mengkomunikasikan persepsi dari
kebijakan sesuai dengan tingkat kecukupan informasi dan daya analisis
kita, dengan tata cara yang dapat meminimalkan biasnya tujuan
komunikasi kita. Apabila semakin besar informasi yang kita miliki,
dan semakin tinggi penguasaan metode analisis, maka komunikasi kita
akan semakin efektif. Apabila kita masih ingin mengkomunikasikan
persepsi dari kebijakan, namun dengan informasi yang sedikit, dan
metode analisis yang terbatas, maka jika dikomunikasikan dalam batas-
batas tatanan komunikasi yang santun, yang terjadi adalah komunikasi
ringan, renyah, rileks, (meski mungkin tidak efektif), tetapi yang
jelas tidak akan menimbulkan distorsi informasi, distorsi persepsi,
dan deviasi possible alternative action.