Dear rekan2 milis yang budiman, Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk memperkeruh atau memprovokasi, tapi tulisan ini dimaksudkan untuk mengajak kita semua berdiskusi dengan tujuan menjadikan DJPBN LEBIH BAIK. Mudah2n impian tersebut bisa terwujud. Amin...
Saya mengambil judul seperti di atas berdasarkan apa yg saya lihat, dengar dan rasakan pada apa yang terjadi belakangan ini di lingkungan para pegawai DJBPN. Pertama, kasus pembatalan pengiriman peserta pendidikan D IV dan D III Khusus. Aneh memang...Awalnya DJBPN mengijinkan para pegawainya untuk mengikuti tes D IV dan D III Khusus. Kemudian setelah keluar hasil kelulusan dari Kepala BPPK, DJBN tampaknya secara merta-merta membatalkan pengiriman peserta D IV dan D III Khusus tersebut. Bagimana akibatnya? Menurut saya hal ini sangat berat di rasakan bukan hanya mereka yg lulus seleksi D IV dan D III Khusus, tapi juga bagi BPPK. Bagi mereka yg lulus seleksi, keputusan DJPBN ini sangatlah memberatkan. Mengapa? Karena mereka sudah berjuang untuk hal yg ternyata hanyalah harapan semu. Andaikan dari awal DJBPN sudah melarang mereka untuk ikut seleksi tersebut, saya yakin mereka akan memilih program beasiswa internal DJPBN. Dan tidak perlu bersusah payah belajar untuk persiapan tes kalau ternyata hasilnya hanyalah impian SEMU!! Contohnya saya. Saya kebetulan terdaftar sebagai peserta yg dinyatakan lulus seleksi D IV. Waktu itu saya LEBIH milih D IV dibandingkan beasiswa S1 karena saya menganggap lulusan D IV itu LEBIH PRESTIS dibandingkan dengan S1. Dan saya akan lebih bangga bila lulus seleksi D IV dibandingkan lulus seleksi S1. Mengapa? Karena untuk memperoleh bangku kuliah D4 kita harus bersaing secara akademik dengan calon peserta dari SELURUH unit Eselon I yang ada di lingkungan Depkeu. Sedangkan dalam seleksi beasiswa S1 kita HANYA bersaing dengan rekan2 dari lingkup DJPBN. Scope persaingan tentunya lebih luas D4 dibandingkan dengan S1. Padahal seharusnya DJBPN bangga dong kalo sepertiga dari peserta pendidikan D IV tersebut berasal dari DJBPN. Kenyataannya?? BPPK (dalam hal ini STAN-red) juga merasakan imbasnya akibat keputusan DJPBN ini. Kenapa tidak? Kita lihat saja hampir sepertiga dari calon peserta D IV Tahun ajaran 2007/2008 adalah berasal dari DJPBN. Jika sepertiga tersebut batal kuliah, tentunya STAN akan "kotar-katir" karena sepertiga bangku kuliah tersebut akan kosong. Akibatnya apa yg telah direncanakan oleh STAN berubah drastis. Bahkan bisa saja STAN memandang para pimpinan DJBPN tidak bisa melakukan perencanaan yang matang. Karena telah mengambil kebijakan yang PLIN- PLAN. Ibaratnya menelan kembali ludah yang sudah dibuang ke tanah. Kawan saya dari Pajak yg sama2 lulus seleksi D4 pada tahun ini pernah berujar kepada saya setelah saya ceritakan kebijakan ini, "Koq DJPBN makin aneh saja seh?". Adakah teman2 yang bisa menjawabnya? Bisa saja nanti di suatu hari DJPBN mengeluarkan surat edaran yang isinya TIDAK MEREKOMENDASIKAN jurusan AKUNTANSI bagi mereka yang ingin melanjutkan kuliah atas biaya sendiri dan TIDAK AKAN mengakui KELULUSAN tersebut. Nah lhoo....kalo sudah begini mau gimana?Adakah yg bisa menjamin hal tersebut tidak akan terjadi?Lha wong katanya DJPBN sudah KEBANYAKAN akuntan.... Setelah membahas permasalahan D4 dan D III khusus, sekarang saya akan membahas kasus kedua yakni PENGANGKATAN adik2 kelas angkatan 2006. Kita semua tahu bahwa hanya DJPBN saja yg belum mengangkat adik2 kelas angkatan 2006. Bahkan dengan statusnya yang belum jelas ini mereka sudah harus tersebar di seantero nusantara. Saya sangat PRIHATIN dengan kondisi mereka. Dengan penghasilan hanya sebesar 850rb mereka harus bisa menghidupi diri mereka di tanah yang sama sekali belum mereka kenal. Saya pernah berbincang dengan salah seorang adik kelas yang kebetulan waktu itu ia tidak lulus tes penerimaan DJBPN. Ia kini sudah bertugas di BPPK Purnawarman. Ia bilang ke saya, "Mas, saya bersyukur banget lho waktu itu tidak lulus tes". Saya hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan dia. Tidak lulus tes koq malah bersyukur. Ya iyalah....Andaikan ia waktu itu lulus tes, nasib ia mungkin saat ini sama seperti teman2nya yang sudah tersebar di seluruh Indonesia dengan ketidakpastian status. Ia kini sudah berstatus CPNS. Andaikan sebelum tes, adik2 kita tersebut mengetahui nasibnya akan seperti ini. Saya YAKIN 100% mereka tidak akan memilih untuk tidak lulus tes tersebut. Iya kan? Mengapa para pimpinan kita di kantor pusat tidak memikirkan nasib mereka? Apakah terlalu sibuk memikirkan TSA, MPN, KPPN Percontohan?? Mas-mas dan mba-mba, saya pikir DJBPN TIDAK akan pernah lebih baik bila tekad reformasi yg kuat hanya datang dari daerah-daerah. Tapi juga harus di dukung oleh mereka yang duduk di tingkat pusat. Saya mengajak kepada rekan2 untuk berdiskusi membahas apa yg terjadi di DJPBN... Mohon kepada para moderator untuk meluluskan postingan saya ini. Dan saya akan sangat berterima kasih apabila postingan saya ini diluluskan. Terima kasih, Salam pembaharuan!!! Nagabonar
