Mas, saya bukan ahli fikih apalagi ahli tafsir... Tapi saya sejak kuliah tahun 90 lalu berlangganan Majalah Fiqih Al Muslimun (PERIS-Bangil) Dimana di Majalah tsb ditampilkan nash-nash yang kuat dan lemah. Mana yang shahih mana yang dhoif). Saya pernah membaca Al Muslimun edisi.....tahun 199.....(saya lupa) tentang tanya jawab seputar fikih puasa. Dalam tanya jawab tersebut ditanyakan apakah seorang Sopir dan kuli Batu bisa mendapatkan rukhshoh (keringanan) berbuka alias tidak berpuasa? Dijelaskan bahwa rukhsoh tidak dikhususkan dalam hal rutinitas atau bukan. Barangkali SOPIR bisa dikatakan "melakukan pekerjaan BERAT" sehingga tidak memungkinkan bekerja dengan baik jika berpuasa. Begitu pula KULI BATU, apakah mereka merasa "RINGAN" jika itu dilakukan rutin setiap hari???? (SIlakan dibayangkan sendiri betapa beratnya pekerjaan mereka, dimana mereka berkucur keringat dengan pekerjaan mereka). Dan silakan baca Al Baqarah 184-185. Disimpulkan oleh pengasuh tanya jawab fikih tersebut, bahwasanya itu semua merupakan pekerjaan dalam kategori yang bisa mendapatkan rukhshoh atau keringanan. Ingat Allah maha adil dan bijaksana. Tetapi yang lebih penting bukan itu yang kita perdebatkan. Karena kita mungkin bukan ahli FIKIH yang 'mempunyai otoritas' mengeluarkan Ijtihad apalagi Fatwa, dan kita yang merasakan sendiri tentang berat tidaknya kerja kita, melainkan sikap dan niat kita terhadap puasa romadhon itu sendiri. Tersirat dalam tulisan anda, bahwanya banyak orang tidak menghormati bulan puasa! Ingat mas, tujuan puasa sebagaimana QS;Al Baqarah-183, adalah membentuk pribadi TAQWA!!! Bukan dihormati puasanya atau membentuk jasmani sehat. Jadi menurut saya, kita puasa ikhlas karena perintah wajib dari ALLAH azza wa jalla. Bukan karena iming2 sehat, dan sebagainya. Bahkan dengan merendahkan diri "HORMATILAH BULAN PUASA"......ingat: "Al Islamu ya'lu walaa Yu'la Alaih!" Tidak perlu mengharuskan penghormatan dari siapapun juga (maaf bukan tidak berterima kasih kepada saudaraku yang non muslim, karena penghormatan mereka merupakan apresiasi yang luar biasa kepada saudaranya yang menjalankan puasa, yang perlu kita respon dengan baik). Kalo kita melihat fenomena tidak menghormati puasa, itu adalah cobaan bagi kita yang melaksanakannya. Kita tidak "NGILER" kok melihat orang lain merokok, atau makan/minum didepan kita. Sekali lagi "Laallakum tattaquun". Bukan agar kamu sehat (karena bertentangan dengan kenyataan dan disitir dlm QS;Al baqarah:184-185, bahwasanya kita bisa sakit karena puasa. Tapi karena niat yg bersih kita menjadi MUTTAQIIN). Bahkan, dalam sebuah hadits qudsi dikatakan : "Semua ibadah yang dilaksanakan hamba-KU adalah untuk-KU, kecuali SHAUM/PUASA". Jadi tidak ada hubungan sama sekali dengan yg namanya kewajiban orang menghormati puasanya orang lain. Kalopun hormat-menghormati karena itu adalah kewajiban MUAMALAT kita sebagai muslim yang berkomunikasi dengan makhluk lain. Apalagi kita salah niat agar puasa kita sehat! Sebab, sehat yang dikarenakan puasa adalah sangat kasuistik!!! Jika kita sedikit mengotori niat kita agar sehat, Maka celakalah kita :"Ada ke-syirik-an pada niat kita". Niat kita : MUTTAQIIN. Jadi jangan langsung berburuk sangka jika kita melihat orang makan pada saat bulan romadhon, barankali dalam perjalanannya dia butuh berbuka karena musafir atau sakit, atau memang setiap hari melakukan kerja berat yang diperbolehkan buka puasa.
Kalopun tidak etis jika diperlihatkan kepada orang yang berpuasa, kita istigfar saja, semoga kita bisa melakukan "RUKHSHOH" tersebut dengan penuh etika. Mengenai kita dekat dengan kiamat, saya percaya mas. Ada haditsnya "Jarak antara aku (Muhammad saw) dengan kiamat adalah seperti jari telunjukku dengan jari tenghku"....Nyaris tanpa batas!!! Saatnya kita "Hasibuu anfusakum qobla antuhasibuuu.." Ibda' binafsiihii Sekedar ingin mengajak meluruskan niat saja...... Allahu a'lam bish showab. oke aja <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Yth. Teman Miliser Saya mau cerita sedikit pengalaman..... Yuppppzzzz..... saya seperti sedang tidak berada di bulan suci ramadhan.... Kenapa ????? saya pergi-pulang dari rumah ke kantor selama 2 jam perjalanan setiap hari... 1 jam naik bis, 1 jam naik angkutan kota....))-- dalam perjalanan, saya tidak melihat perbedaan antara bulan ramadhan dengan bulan-bulan lainnya sekarang seperti tidak ada rasa takut atau malu bila tidak
