Assalam wrwb,
Kalau kita lihat peta prov. Kalteng, agak di ujung
atas kita menemukan sebuah kabupaten yang bernama
Gunung Mas. Topografinya berbukit-bukit. Didalam
perut buminya menurut para "ahli penyelidik bumi",
terkandung bahan-bahan tambang, seperti emas,mika,
batubara dll. Klo pasir jangan ditanya, karena
tanahnya memang berpasir. Kebun karet rakyat tersebar
dimana-mana. Kabupaten ini merupakan kabupaten
pemekaran. Berdiri sejak 2002. Luas wilayahnya 10.804
km2.Penduduknya kira2 80.000 an jiwa.jd kepadatan
penduduk 8 jiwaan /km2. Semula mrpkn bagian dr
Kabupaten Kapuas. Jaraknya +/- 165 km dr kota
Palangkaraya. Kabupaten ini termasuk dalam wilayah
pembayaran KPPN Palangkaraya. Di pimpin oleh seorang
Bupati, bernama Djudae Anom, alumni IIK (tahunnya
lupa). Tapi beliau seangkatan dg Bapak Nurhidayat
(terakhir mantan Kakanwil DJPBN Jakarta). Kenal juga
dg p. Mudiono (mantan kakanwil Jakarta), kenal dg
beliau2 yg lain di DJPB/DJA, yg umumnya sdh purna
tugas. Di usia yg ke 62, masih sangat energik. Setiap
kali bertemu, beliau selalu menyampaikan undangan kpd
saya untuk datang ke Gunung Mas. Akhirnya kesempatan
itu datang jua. Saya dg teman2 kanwil dan KPPN
Palangkaraya berkunjung kesana. Tentu bukan hanya utk
piknik, tp yg utama utk melakukan sosialisasi dg
materi pokok : reformasi birokrasi Dep.keu, TSA, MPN,
LKPP, aplikasi2.
Kenapa ini kami lakukan. Krn berdasarkan pengamatan
kami, sosialisasi yg kami lakukan di Palangkaraya,
hanya di ikuti beberapa orang yg berasal dr kabup2. Dg
kami mendatanginya, cakupan "audiens" nya menjadi
lebih banyak dan luas. Mulai dari Bupati, Wakil
Bupati, para Asisten, kepala Dinas, dan para pejabat
perbendaharaan lainnya.
Perjalanan dari Palangka ke Kuala kurun memerlukan
waktu tempuh hampir 6 jam. Krn dr jalan sepanjang 165
km tadi, hanya 20 km yang beraspal, selebihnya berupa
jalan tanah dan pasir yang di padatkan. Kalau hujan,
jalan tadi larut oleh air, meninggalkan alur tak
beraturan yang cukup dalam dan berbahaya bagi jalannya
kendaraan bermotor. Kadang sangat licin dan kendaraan
bisa terjebak. Kebetulan saat ini di Kalteng hujan
terus menerus. Batu kali nampaknya susah di peroleh
dan menjadi komoditi yg sangat mahal. Kalaupun ada,
terdapat kesulitan untuk membawanya, krn akses jalan
memang sangat terbatas.
Beruntung kami, krn pada hari itu tanah kering.
Sesekali kami bertemu dg kendaraan lain. Selebihnya
....SUUNYIII.. Sepanjang jalan yg kami lalui, kanan
kiri terkepung semak belukar, krn hutannya sudah mulai
gundul, rusak, dan porak poranda. Menyisakan tanah
gersang berpasir. Banyak sungai kami lalui. Pada
umumnya belum mempunyai jembatan. Jembatan masih
berupa jembatan darurat. Pondasi jembatan nampaknya
sedang dibangun. Pertanian kelihatan agak terabaikan.
Kebun karet menjadi pilihan masyarakat, krn tanpa di
olah pun, pada saatnya nanti akan menghasilkan
(bicara produktivitas kebun karet, di Kalteng tidak
laku). Disamping itu, penduduk lebih tertarik untuk ke
pergi kesungai, mendulang emas, sbg PETI (Penambang
Emas Tanpa Ijin alias illegal.) Sepanjang sungai kita
menyaksikan banyaknya mesin2 penyedot pasir. Mesin2
tadi akan mengaduk sungai, menyedot pasir dan
mengalirkannya kedalam bak penampungan. Pasir2 akan
kembali kesungai lagi setelah melalui campur tangan
"merkuri" yg bertugas memisahkan pasir dan butiran2
emas. Menyisakan derita bagi sungai2 dan
lingkungannya. Air sungai mulai dari hulu menjadi
keruh sepanjang masa. Dan tentu saja terkontaminasi
bahan kimia yg berbahaya.
Memasuki Kuala Kurun, ibukota Gunung Mas, kami harus
menyeberangi sungai besar dengan ferry. Ferry disini
berupa dua buah perahu yg dirapatkan menjadi satu dan
bisa memuat 3 buah mobil ukuran sedang. Arus air
ketika itu cukup deras. Sebagian dari kami bermalam di
Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Bupati. Selebihnya,
rombongan menginap di hotel (penginapan sederhana) yg
ada disana. Malam harinya kami (20 orang) di jamu
bpk/ibu wakil bupati (atas nama Pemda), makan malam di
rujab. Kebetulan malam itu Bpk Bupati sedang keluar
kota, dan masih dalam perjalanan kembali ke G. Mas.
Kami merasa memperoleh sambutan yg luar biasa.
Kehangatan sambutan itulah yg seolah menghapus
kelelahan kami.
Secara umum, nampak pembangunan prasarana perkantoran
sedang di lakukan. Kompleks itu berada di ketinggian
dgn pemandangan di sekitarnya yg begitu indah. Namun,
bpk Bupati masih mengeluhkan kurangnya SDM yg handal,
terutama di bidang keuangan. Beliau menginginkan
setiap SKPD mempunyai tenaga minimal 1 orang yg
berbasis akuntansi ( minimal D3 atau S1). Malam itu
kami tidur dg nyenyak, mungkin kelelahan. Sepanjang
malam hujan turun dg derasnya. Pagi harinya kami
mendengar salah satu jembatan runtuh dan tidak mungkin
dilalui. Pdhl jembatan itu hrs kami lalui ketika kami
balik ke PLK. Perbaikan sedang di upayakan. Tp mngkn
memerlukan waktu berhari-hari. Kami diarahkan oleh
Bapak Bupati, untuk melalui jalan alternatif. Jalan yg
kami lalui adalah jalan perusahaan HPH, tentu saja
jalan tanah. Jalan ini lebih berbahaya utk di lalui
dan lebih sepi, lebih SUUNYIII. Perjalanan harus di
lakukan berombongan dan konvoi, utk bisa saling
membantu jika ada masalah di perjalanan. Benar juga
jalanan lebih parah kondisinya, sebagian tergenang air
sungai di kanan kiri jalan yang meluap. Kami harus
berpacu dg waktu. Berpacu dg air yg datang dari hulu.
Kami harus sampai lebih dulu di titik2 yg rawan
banjir. Perjalanan pulang ke Palangka dimulai dr jam
14.00. Sampai kembali di Palangka jam 22.00 malam dg
beberapa kali istirahat untuk makan. Alhamdulillah
kmi smp dg selamat!!!
Saya merenung, betapa masih miskinnya infrastruktur di
Kalteng, yg kaya SDA ini. Miskinnya infrastruktur ini,
sejalan pula dg tingkat kemiskinan penduduknya yg
mencapai >47%. Ironis memang. Ketika orang lain sudah
bicara utk membuat jembatan antar pulau, antar
Sumatera-Jawa, antar Jawa-Madura, antar Jawa Bali, di
tunjang dengan jaringan jalannya. Membangun jalan tol
yg membelah p. Jawa. Di tempat kami masih berjuang
untuk membangun badan jalan, sekedarnya, asal tembus
antar Kabupaten. Dg kondisi jalan yg sangat jauh dari
mantap ( jalan di Kalteng hanya kurang dr 20 %
kondisinya mantap, atau lebih 80 % tidak mantap,
bahkan beberapa ibukota kabupaten belum terhubung
melalui jalan darat dengan ibukota provinsi). Jalan
Trans Kalimantan yg di cita-citakan sekian lama,
sampai saat ini bahkan masih jauh dari terwujud. Ada
cerita lucu dan sedih terkait dg SDM. Ktk kami
mengundang sosialisasi aplikasi, para peserta di
bekali disket/flashdisc utk di bawa kembali. Beberapa
hari kemudian, ada peserta dr daerah yg datang kembali
dg membawa CPU ( yg cukup besar tentunya), dibonceng
dg sepeda motor, dg jarak ratusan km, minta agar di
install kan aplikasi (yg sebenarnya telah di berikan
dalam bentuk disket/flashdisk). Mereka menemui
kesulitan untuk menginstall. Sbg info tambahan, bhw
belum semua kantor di Kalteng punya listrik, punya
komputer. Penyedia jasa komputer/ internet nyaris
tidak ada krn masih begitu kecilnya pasar. Mereka
banyak menemui kendala untuk memproduksi SPM dg
aplikasi. Juga tidak sedikit menemui hambatan untuk
melakukan rekonsiliasi dlm rangka LKPP. Disamping
jaraknya yg jauh, kondisi SDM, dan tentu saja biaya.
Mudah2 an bisa menjadi renungan kita bersama. Saya
hanya bisa ikut bernyanyi dalam hati, sebagai rasa
simpati. Seperti apa yg mereka lakukan selama ini.
"The Sound of Silence" Nyanyi sunyiiii. Tksh.
Wassalam.
Subasita, fr The Heart of Borneo.
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/