ikutan nimbrung soal "terlambat"-nya tawaran beasiswa.
pengalaman ini mungkin sudah sangat sering kita temui, dan saya pribadi juga
mengalami hal ini dalam beberapa kesempatan. memang, mengurus segala sesuatu
dalam kondisi 'buru-buru' karena dikejar deadline tidak mengenakkan. namun,
bukan berarti ini menjadi "masalah besar". yang penting adalah bagaimana
kegigihan dan semangat untuk sekolah ditambah dengan persiapan matang dan
komunikasi langsung dengan kepala kantor/kanwil dan bagian pengembangan.
karena dengan begitu, buat saya pribadi, segala biaya dan energi yang terkuras
untuk itu tidak menjadi persoalan yang berarti. i've been through all of that,
and as an advice to Sdri.Yessi, there is no such thing as a free lunch,
ikhlasin aja.
salam,
dn -nyaris dapat chevening, ditolak ADS, diterima APS-
yessi marseilli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [email protected], "fitrariadian" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Sudah dipikirin belom kalo tugas belajar itu TCnya 50%, ga dapet uang
> makan, trus nantinya ga dapet Tunjangan Umum Juga (bagi yang masih
> staff - sperti saya).
> Tapi diharapkan jangan berpikiran cost saja ya... Pertimbangkan
> bahwa Sekolah lagi merupakan Investasi (baik bagi pegawai ybs, maupun
> bagi Depkeu Umumnya, DJPBN Khususnya)....
> Jadi jangan khawatir, bagi yang Tugas Belajar, semuanya itu tidak sia-
> sia (dan tidak akan disia-siakan?) ......
>
>
>
Justru krn saya dan temen2 berpendapat bahwa sekolah adalah investasi,
maka kami sangat ingin mendapat beasiswa tersebut. Bayangkan, waktu
ngirim usulan aja kami dah harus keluar biaya materai untuk surat
pernyataan bersedia kembali ke instansi dan surat pernyataan tidak
hamil selama masa pendidikan (khusus cewe). Klo itung biaya kan sudah
keluar 2 kali enam ribu= 12.000,- Trus biaya pengiriman surat melalui
sarana tercepat (TIKI) sekitar 15.000,- ( kami tanggung bersama, bukan
dengan biaya kantor loh! ).
Makanya kami sangat menyesalkan panggilan yang terlambat itu. Selain
akomodasi tentu kesiapan fisik dalam menghadapi ujian perlu
diperhatikan. ( Gmana bisa cukup istirahat kalo baru bsa berangkat
terburu2 dengan pesawat terakhir, trus cari2 penginapan yang dekat dg
lokasi ujian.Yang semuanya membutuhkan waktu dan biaya. ) Belum lagi
risiko klo nasib sial seperti kasus D-III dan D-IV Khusus kmrn. Dah
bela2in nanggung semua biaya sendiri, eh setelah lulus malah gak
diizinkan sekolah ) Betapa nelangsanya........Hiks....
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]