--- In [email protected], danke roy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ikutan nimbrung soal "terlambat"-nya tawaran beasiswa. > > pengalaman ini mungkin sudah sangat sering kita temui, dan saya pribadi juga mengalami hal ini dalam beberapa kesempatan. memang, mengurus segala sesuatu dalam kondisi 'buru-buru' karena dikejar deadline tidak mengenakkan. namun, bukan berarti ini menjadi "masalah besar". yang penting adalah bagaimana kegigihan dan semangat untuk sekolah ditambah dengan persiapan matang dan komunikasi langsung dengan kepala kantor/kanwil dan bagian pengembangan. karena dengan begitu, buat saya pribadi, segala biaya dan energi yang terkuras untuk itu tidak menjadi persoalan yang berarti. i've been through all of that, and as an advice to Sdri.Yessi, there is no such thing as a free lunch, ikhlasin aja. > > salam, > dn -nyaris dapat chevening, ditolak ADS, diterima APS- > Thank you for your advice. Aku nulis email tsb dengan harapan di lain waktu tidak terjadi lagi hal2 spt ini. Dgn semangat reformasi dan kegigihan tentunya para pegawai ingin mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk dapat bersekolah apalagi dgn mdpt beasiswa. Krn itu para pejabat yang berwenang dalam hal ini hendaknya memberi kemudahan bagi para pegawai yang berminat.Jgn memberi penawaran klo memang cuma basa-basi. Contoh kasus D-III&D-IV Khusus kmrn dan juga PANGGILAN YANG TERLAMBAT bagi teman2 di daerah,spt yg aku alami ini. Kami ikhlas akan apa yg sudah terjadi dg harapan dapat menjadi pembelajaran di kemudian hari. It is better to light the candle than just to curse the darkness, isn't it?
Salam dan ucapan selamat buat DN(danke roy)yg diterima APS. Do i know u?
