> Saya sebenernya agak bingung
> dengan pernyataan Anda, apa benar masih ada Jabatan Korpel di DJPB?
Mungkin
> salah tulis aja kali, ya? Yang jelas Anda adalah pegawai Gol IIIb
dengan Grade antara 9, 10,
> 11. di salah satu KPPNP
> 
> 
> Saya sendiri termasuk orang yang
> kurang setuju adanya sistem Grade ini, karena faktor subyektifitas amat
> berpengaruh sekali. Rumusan Grade= Kinerja + Loyalitas, ini yang
terjadi saat ini.
> 
> 
> Kinerja
> 1, loyalitas 0, maka Grade minus
> 
> 
> Kinerja
> 0, loyalitas 1, maka Grade bisa plus
> 
> 
> Jadi biarpun Anda cukup berjasa dan banyak memberikan masukan
terhadap organisasi, tapi ada satu saja nilai minus loyalitas, maka
habislah jasa2 Anda. Yang ada hanya Penilaian Negatif
> 
> 
> 
> Dominannya
> unsur loyalitas ini akan dengan mudah "dipermainkan" oleh oknum
> pejabat . Sedikit saja kita 'vokal' dan cenderung menentang kebijakan
> Atasan, maka habislah Nilai Kinerja kita....Akibatnya Grade Rendah
> 
> > 
> 
> Apa yang dikatakan Mas Pakerti ada
> benarnya, selain perlunya meng-evaluasi kembali Sistem Grade.
Perlunya dibuat
> prosedur semacam" Hak Jawab" sebelum dikeluarkannya SK Grade,
> ya.....semata-mata untuk melindungi kepentingan bawahan dari tindakan
> semena-mena Atasan.
> 
> 

Buat Bedes Sudrun,
Saya tidak mengatakan saya masih korpel, tapi saya menjelaskan sejarah
tentang jabatan dan kejadian yang mengiringi lahirnya KPPN Percontohan.
Mungkinkah saya diusulkan jabatan korpel saat itu bila loyalitas dan
kinerjanya dipertanyakan ?
Andai karena tuntutan organisasi korpel dihapuskan maka itu adalah
sebuah konsekuensi logis.
Namun saat semuanya terjadi, kemudian diantara ex korpel di seluruh
Indonesia dan hanya andalah yang yg gradenya terendah apa yang
terpikir oleh anda ?
Bagaimana perasaaan anda, mengetahui teman2 ex korpel di tempat lama
mempunyai grade maksimal dalam kepangkatannya ?
Bagaimana perasaaan anda, mengetahui teman2 ex korpel di kanwil anda
(bila anda berada dlm GKN akan lebih terasa) mempunyai grade yang
menghormati sejarah jabatannya ?
Anekdot pun lahir, hukuman berupa grade terbawah dari seorang ex
korpel dihasilkan hanya karena anda lulus test seleksi pegawai
percontohan.
Terbayangkah ketika kita dihukum justru karena punya prestasi ?


kala hukuman bernilai positif
kala kebaikan bernilai negatif
kemana lagi munculnya kinerja yang "naive", (tak berpura-pura)

lebih baik membebaskan orang bersalah
daripada menghukum orang tak bersalah
demikian orang bijak mempunyai falsafah

ingatkah tentang nilai dari tiga tingkat grade
yang diucap para founding father
saat reformasi birokrasi depkeu dipertanyakan para gambler

bila anda super maka berhak berada di puncak
bila anda tak berbuat apapun maka janganlah terlalu berharap
dan bila anda keblinger maka terbawahlah yang layak 

bagaimanakah bila anda telah berusaha tuk berkinerja
tapi ternyata bernilai terbawah 
lalu......., apa kata dunia ?


Kirim email ke