Assalamualaikum wrwb,
Tanggal 26 Desember 2004, Hari itu BRI merayakan
ulangtahun ke 100. Para Karyawan/wati BRI bersama
isteri/suami, anak-anak, keluarga dan peserta lainnya
baru saja menyelesaikan jalan santai. Menelusuri
jalan-jalan kota Banda Aceh dg penuh sukacita dan
canda. Sampailah mereka kembali di komplek perkantoran
BRI yg terletak tak jauh dari Mesjid Raya
Baiturrahman, kebanggaan warga Aceh. Tiba2 guncangan
kuat datang. Disusul guncangan2 berikutnya. Gempa
dahsyat datang. Mereka berhamburan keluar dari komplek
kantor. Sebagian duduk2 dg perasaan shock di halaman
perkantoran. Gempa mm sering menyapa Aceh, tp kali ini
terasa sangat kuat goncangannya. Beberapa saat
kemudian terdengar suara gemuruh, mirip suara mesin
pesawat jumbo jet. Air sungai di depan perkantoran itu
berbalik arah. Mereka belum menyadarai bahwa itu
adalah gelombang tsunami. Gulungan ombak raksasa
menerjang dan meluluhlantakkan pantai Aceh dan segala
yg menghalanginya. Kepala pinca BRI dan orang-orang
lain lari dengan panik ke arah masjid, memanjat pagar,
berdiri diatas bangunan beton tempat biasa orang
mengambil air wudhu. Mereka ini adalah kelompok yang
selamat. Sebagian lain kocar-kacir kearah yg tak
menentu dan sebagian besar dari mereka itu lenyap
ditelan air bah dan tidak selamat. Teriakan
Allahuakbar, astaghfirullah bersaut-sautan, terdengar
dimana-mana. Itulah kesaksian yg diceritakan pimpinan
BRI kpd saya pd hari Selasa malam tgl 28 Desember 2004
di bandara Sultan Iskandar Muda (SIM). Ketika itu, sy
baru sj menapakkan kaki di bandara SIM, setelah
mendapat perintah pimpinan untuk segera ke Banda Aceh.
Perintah itu datang pd hr Senin malam tgl 27 Desember
2004 jam 22.00.
Pagi2 kami ke Sukarno Hatta tanpa berbekal tiket.
Sampai bandara saya menyaksikan banyak sekali orang yg
akan ke Banda Aceh, mereka bersitegang, berkelahi,
melontarkan kata2 yg penuh caci maki dan serapah. Sy
mengurut dada namun memaklumi krn pada saat itu banyak
orang panik luar biasa. Mereka ingin mengetahui nasib
sanak keluarganya. Sementara itu sarana penerbangan ke
Aceh terbatas dan komunikasi dg Banda Aceh putus
total.
Jam 13.00 akhirnya Garuda menyediakan penerbangan
ekstra. Setelah tertahan di Medan beberapa jam, krn
terbatasnya apron peswt di bandara SIM, pd jm 18.00
sampailah saya, Sdr Sudiweko dan Sdr Asman di BA.
Ketika smp di bandara SIM itulah cerita2 kengerian
diatas di mulai. Kami bertemu banyak orang yg ingin
segera meninggalkan BA. Bertemu dg banyak orang yg
terluka, patah kaki, patah tangan tp tidak patah hati
dan masih bersyukur krn masih diselamatkan YME.
Kami menuju GKN (yg ternyata ambruk terkena gempa, spt
"sandwich") dg pik up terbuka dan ongkos 300 ribu
rupiah. Cukup mahal mm. Tp masih bersyukur ada
transportasi.
Bbrp kilometer dari bandara, aroma menyengat mulai
tercium. Kami melewati kuburan masal yg memang belum
di tutup dan baru mulai digunakan. Hari2 berikutnya
kub masal td akan di isi dg jenazah2 yg lainnya.
Beberapa ratus meter dr tempat itu, dibawah tenda2 dg
penerangan temaram terbujur ratusan jenazah yg umumnya
telah rusak, yg esok harinya akan dimakamkan secara
masal. Rasanya tak percaya, namun keniscayaan ada di
depan kita. Sepanjang perjalanan, terlihat jenazah2
rusak berbalut lumpur hitam. Mereka teronggok di tepi
jalan. Banyak orang lalu lalang dg tatapan mata
kosong. Melihat sejenak jenazah2 bisu untuk memastikan
apakah familinya atau bukan. Tentara mulai bekerja
membuka akses jalan2 utama (karena relawan belum pd
datang dan sampai di BA) yg dipenuhi bangkai2 mobil,
rongsokan rumah, pohon2 tumbang, kapal2 kayu dan apa
saja.
Lapangan Blang Padang di tengah kota yg biasa di
gunakan untuk berbagai "event", hari itu porak poranda
penuh dg sisa2 rumah yg hancur, pohon2 tumbang yg
terbawa air, mobil2 yg bergelimpangan dan mayat2.
Suatu pemandangan yg mengerikan dan nyaris tak bisa di
percaya. Dari pinggir lapangan itu, langsung terlihat
garis pantai yg jaraknya +/- 4 km tanpa terhalang
suatu apapun, pdhl semula di penuhi dg kampung yg
padat. Hanya replika pesawat Seulawah yg tetap berdiri
megah menyaksikan kepedihan, jerit tangis dan air mata
yg tumpah di sekitarnya. Genset terapung milik PLN yg
berbobot ratusan ton, diatas ponton sepanjang 40 meter
dan lebar 8-10 meter, pindah dari laut kedaratan
sejauh 4,5 km dr tempat asalnya. Air mata penduduk
sudah kering, tak mampu lagi menangis menyaksikan
semua itu. Keluarga tercerai berai. memerlukan waktu
yg lama dan pencarian yg melelahkan untuk menyatukan
kembali. Saya mencoba ke Ulheu lheu (Ulele). Pada
kunjungan 1 tidak berhasil. Jalan belum tembus kearah
sana. Baru pd kunjungan ke 3 sy bisa sampai sana.
Kenapa saya sangat ingin ke Ulele. Krn sy pernah
tinggal disana selama 3 tahun (rumah dinas saya 50
meter dr bibir pantai), dan mengenal warga 1 per 1 di
sekitar saya dg baik. Mereka, tak satupun yg nyaris
selamat. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kampung
itu sama sekali tak berbekas, bahkan sebagian berubah
menjadi laut. Di Ulele hanya tersisa 1 buah jembatan,
1 pohon cemara besar, tugu peringatan perang aceh. dan
suatu mujizat, masjid baiturrachim yg tetap utuh.
Masjid ini selanjutnya sering di jadikan tempat
penyelenggaraan berbagai acara. Termasuk acara
penyerahan DIPA BRR oleh Dirjen Perbendaharaan Bpk
Mulia P Nasution ketika itu. Akhirnya saya 7 kali ke
Banda Aceh sesudah tsunami dlm kurun waktu yg tidak
terlalu panjang. Kini saya hanya bisa berharap BRR
dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu dlm rangka
rekon dan rehab NAD. Agar ,paling tidak, dapat
membantu menghapus trauma mendalam masyarakat Aceh.
Wassalam. <Subasita, fr The Heart of Borneo>
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/