Saya kira pak Budisan benar, there must be something wrong with the SPAN
management. Artinya, apabila proyek SPAN ini akan terus dilaksanakan harus ada
upaya pembenahan manajemen pengembangan SPAN secara besar-besaran dan serius,
yang pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh Bu Menteri atau Staf Ahli
Menteri. Walaupun saya sebenarnya masih ragu karena sejumlah proyek reformasi
birokrasi yang notabene juga sudah masuk dalam daftar program percepatan
akuntabilitas Depkeu (yang terus dimonitor perkembangan pelaksanaannya oleh Bu
Menteri/Sekjen/Stah Ahli Menteri) pun kenyataannya juga “hidup segan mati tak
mau”.
Terus terang saya termasuk kelompok yang mendukung pengembangan SPAN secara
mandiri, tanpa minta bantuan dana dan jasa konsultasi Bank Dunia yang ternyata
seringkali diselimuti oleh “kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik” yang
tidak disampaikan secara transparan (sebagaimana yang seringkali diajarkan
sendiri oleh Bank Dunia). Benarkah Bank Dunia adalah sama dengan bank-bank
biasa yang hanya peduli pada jaminan dari (negara) debitor terhadap pelunasan
utang berikut bunganya? Benarkah Bank Dunia sama sekali tidak peduli pada
untuk apa dan bagaimana (cara) kita membelanjakan uang pinjamannya? Kalau ia
mengarahkan (mendikte) bagaimana proyek harus dijalankan, apakah ia
bertanggungjawab apabila akhirnya proyek tersebut gagal total?
Saya kira Bank Dunia itu bukan Koperasi Dunia yang merupakan usaha bersama dari
negara-negara anggotanya untuk kesejahteraan bersama. Coba kita perhatikan
dari mana Bank Dunia mendapatkan keuntungan untuk menggaji para pegawainya yang
harus dibayar mahal. Tentunya, seperti halnya bank-bank swasta lainnya, ia
juga menggantungkan hidup(penghasilannya)nya terutama dari para nasabahnya yang
notabene adalah negara-negara miskin alias negara sedang berkembang. Ibarat
hubungan antara dokter dan pasien, semakin banyak si pasien yang datang maka
semakin terjamin kelangsungan penghasilan sang dokter. Kekecewaan saya
terhadap Bank Dunia mungkin kurang lebih sama dengan kekecewaan si pasien yang
berpenghasilan pas-pasan tetapi dipaksa/terpaksa harus rawat-inap dan menebus
semua resep-resep yang ditulis oleh dokternya (semata-mata karena
ketidaktahuannya terhadap penyakitnya) yang belum tentu merupakan resep terbaik
dan cocok untuk si pasien.
Kalau kita amati, dari masa ke masa, apa yang dilakukan oleh Bank Dunia ketika
mengembangkan proyek-proyeknya, kita akan menemukan fakta bahwa ia selalu
menciptakan proyek-proyek sejenis yang bisa diaplikasikan di sejumlah negara
sedang berkembang. Selanjutnya satu-dua staf Bank Dunia yang sedang melakukan
kegiatannya di satu atau beberapa negara menerbitkan hasil penelitian dan
pengalamannya untuk digunakan sebagai panduan bagi negara-negara yang sedang
atau akan melaksanakan kegiatan proyek yang sama.
Kondisi demikian secara ekonomis sangat menguntungkan (para konsultan) Bank
Dunia, karena dalam banyak hal mereka bisa melakukan copy n paste dalam
melaksanakan kegiatan proyeknya. Dalam kenyataan, untuk mengatasi setiap
permasalahan dalam kegiatan-kegiatan proyeknya, Bank Dunia memang cenderung
memberikan resep-resep yang sama untuk penyakit yang notabene berbeda.
Coba kita perhatikan bagaimana cara Bank Dunia melakukan evaluasi terhadap
proyek-proyek yang disponsorinya. Bank Dunia biasanya menunjuk pada satu atau
beberapa proyeknya yang (ia klaim sebagai) telah sukses, tanpa merincinya lebih
jauh bahwa prosesnya sebenarnya “berdarah-darah” dan makan waktu sangat lama
(diperpanjang berkali-kali). Selain itu, biasanya ia sebut sejumlah proyek
yang berhasil yang dapat digunakan sebagai model percontohan, tetapi ia sama
sekali tidak menyebut daftar panjang proyeknya yang gagal total (seperti proyek
Orafin Bakun?) yang sebenarnya bisa pula dijadikan model percontohan yang tidak
perlu ditiru.
Terus terang, kadang saya bermimpi Bank Dunia adalah Koperasi Dunia yang yang
merupakan usaha bersama dari negara-negara anggota untuk kesejahteraan bersama.
Saya juga bermimpi Bank Dunia adalah lembaga internasional dimana
negara-negara kaya berkewajiban membantu untuk mengubah negara-negara miskin
menjadi menjadi negara-negara setengah kaya. Tetapi, mungkinkah?
Anyway, I think those are the ways the World Bank does its business.
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]