Assalam'mualaikum Wr.Wb. Yth. Pa Nana Suhasno dan Para Milisers Forum Prima,
Saya berpendapat, dioperasionalkan forum prima bertujuan sebagai forum diskusi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menyikapi suatu permasalahan serupa di antara kita. Dan secara obyektif, semestinya para peserta dapat (=berani) mengemukakan argumentasi yang didukung peraturan dan/atau pertimbangan. Pokok bahasan milis ini, bagaimana mensikapi jamuan makan bagi "Sang Tamu Dinas". Pa Nano, sesuai pengalaman yang telah dilakukan disini berikut: "Sang Tamu Dinas" datang ke tempat tugas mestinya membawa surat tugas dari Pimpinannya yang menyatakan melakukan tugas apa dan kepada siapa termasuk lamanya hari tugas. Dengan didasarkan kegiatan yang ada dalam DIPA dan berbekal surat tugas tersebut, maka dilakukan rapat dinas atau rapat kerja atau rapat koordinasi. Dengan demikian, karena melaksanakan kegiatan rapat maka penyediaan konsumsi (jamuan) untuk peserta rapat (termasuk "Sang Tamu Dinas") dapat dibebankan DIPA berkenaan. Pa Nano, itulah implementasi yang kami lakukan, namun begitu apakah hal tersebut dapat dibenarkan??? Mohon koreksi apabila ga tepat. Semoga bermanfaat. Wassalam'mualaikum Wr.Wb. Agung Sayuta. --- In [email protected], NANO SUHASNO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Assww, pak B. Sudrun Yth. > > ... agar dialokasikan "dana makan untuk tamu" dalam DIPA > Kanwil maupun KPPN, karena hal ini masih dalam tanda > petik gray area (daerah abu2), mengapa?, biaya tiket > pesawat, biaya hotel sudah ada (given), tapi ketika > waktu makan tiba apakah dibiarkan begitu saja (cuek) > Sang Tamu Dinas tersebut pamit untuk pergi makan > karena membawa uang harian perjadin? atau kita ajak > makan dari uang gaji? atau kita yang diajak dan > dibayari mereka? mengapa Gubernur, Bupati bisa menjamu > makan tamunya dari dana APBD (legal), mengapa kita > waktu jadi tamu Kanpus untuk sosialisasi/Radin bisa > dijamu makan dan diberi uang harian plus honor? > mengapa Kanwil dan KPPN kok belum bisa menjamu makan > tamunya dari dana APBN? (ga usah makan kertas, balpoin > dsb.), sampai ada Pejabat yang ga bilang2 datang di > satu kota, baru memberitahukan setelah posisinya sudah > boarding di Bandara mau kembali pulang, jangan-jangan > karena merasa khawatir merepotkan kali ya ....... > Mudah2an "wacana" tersebut diatas bisa terwujud, > sehingga tidak mungkin Kasubag Umum makan buah > Simalakama, karena buah itu aslinya tidak pernah ada. > Semoga. > > Salam > > > ------------------------------------------------ > Waspadalah, waspadalah KPK mau masuk kppn dimana saja > Bersih itu indah, ikhlas(free of charge) itu amanah > reformasi birokrasi Depkeu. > > > --- Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Selama manusia masih ijo ngliat duit susah, mas > > diterapkan. > > mereka akan itung2an tenaga dan waktu,"kita udah > > capek2 bikin ini dan itu, mondar-mandir kesana > > kemari, masa gak dapet apa2" itu seloroh mereka, > > walaupun sebenarnya sudah tugas dia, malah kadang2 > > dapat honor resmi. Tapi, ya itu tadi mas.... duit > > menjadi barang berharga yang susah untuk ditolak.. > > Kita gak usah jauh-jauhlah, kantor kita sendiri > > aja, Coba tanyain Kasubbag Umum, (pejabat pengadaan) > > mana yang gak Korupsi. Aku berani potong leher > > (ayam) kalau ada yang jujur. Sekecil apapun pasti > > ada, apa dengan alasan untuk dana taktis, melayani > > tamu, kegiatan olahraga dan seni. Mana mau mereka > > keluar kocek sendiri untuk jamu tamu, apalagi tamu > > itu pejabat pusat / kanwil. Gak percaya lagi, coba > > aja tanya ke anggota milis ini (barangkali ada yang > > sedang jadi pejabat pengadaan). Berapa banyak > > kuitansi fiktif yang sudah dikeluarkan?, Berapa > > banyak pengadaan yang telah dimarkup?, Berapa banyak > > kertas yang telah dimakan? > > Kita mungkin sudah berhasil menolak KKN dari pihak > > luar, tapi bagaimana dengan kedalam (nonsen)....... > > Bahkan ada Pejabat kita yang berani mengatakan, > > "DIPA itu kan kan kewenangan KPA, jadi mau > > di"revisi" jadi apa aja, juga urusan KPA" > > (Naudzubillah min dzalik). Dimana semangat reformasi > > pejabat seperti itu? Dunia-dunia, mau jadi apa, > > kalau semua pejabat kita berpikiran seperti itu. > > Beli kertas jadi Nasi pecel, beli bolpoin jadi Nasi > > Kotak, beli komputer jadi bon restoran. > > Walah wis jadi mumet mikirin negara, mendingan > > mikirin diri sendiri aja, yang penting masih bisa > > kasih makan anak bini dengan gaji bulanan. > > Kebahagiaan bukan diukur dari uang, mas, karena > > kebahagiaan datang, kalau kita bisa menikmati apa > > yang telah kita punyai saat ini, Betul begitu???... > > > > ----- > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Be a better friend, newshound, and > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ >
